MBAH SURIP MASIH HIDUP

August 7th, 2009

MBAH Surip memang sudah meninggal dunia. Namun “sesungguhnya” dia masih hidup, karena pasif income-nya dari lagu (maaf) noraknya “Tak Gendong” tetap menghidupi para ahli warisnya, dan terutama operator telepon seluler yang dijadikan “tumpangan” Mbah Surip untuk menyebarluaskan ring back tone (RBT) “Tak Gendong.”

Banyak orang terkejut-kejut ketika mengetahui penghasilan si Mbah dari “Tak Gendong” sebagaimana diberitakan banyak koran dan televisi mencapai Rp 4,5 miliar per bulan. Mbah Surip sendiri hingga akhir hayatnya tidak pernah transparan soal penghasilannya itu. “Pokoknya miliaranlah,” katanya sambil terkekeh-kekeh.

Dalam sebuah kesempatan, kepada wartawan, Mbah Surip ketika mengetahui dia bakal mendapatkan royalti dari “Tak Gendong”, lagi-lagi cuma tertawa, “ha… ha… ha…ha.”

“Nantinya saya cuma minta Rp 2 miliar saja. Satu miliar untuk beli kopi dan satu miliar lagi untuk beli gula. Itu sudah aman buat saya. Sisanya dibagi-bagi saja,” katanya sebagaimana dikutip Media Indonesia.

Yang tidak transparan bukan saja Mbah Surip, tapi juga pihak-pihak yang terkait dengan RBT. Sampai Kamis (6 Agustus 2009), tidak ada informasi yang jelas sudah berapa besar rupiah yang ditransfer oleh operator telepon seluler ke rekeningnya Mbah Surip.

Katakanlah benar Mbah Surip setiap bulan dapat Rp 4,5 miliar per bulan. Tapi Mbah Surip pastinya memberikan jauh lebih besar kepada para operator telepon. Dalam soal RBT, operator memang pihak yang paling banyak menangguk untung. Bahkan ada yang bilang, operator sangat “kemaruk” alias rakus.

Mungkin belum banyak yang tahu, sesuai dengan “aturan main”, setiap RBT yang didownload seorang pelanggan — katakanlah satu lagu bertarif Rp 8.000 — lazimnya 50-60 persennya menjadi hak operator. Sisanya dibagi-bagi dengan banyak pihak, seperti penerbit, pencipta lagu, penyanyi (artis), dan label/content provider.

Beralasan jika para pencipta lagu berteriak terhadap minimnya bagi hasil nada sambung yang selama ini menjadi konten paling laris jualan para operator telekomunikasi di Indonesia itu.

Dari total harga sebuah lagu nada sambung, seorang penulis lagu berdasarkan informasi yang saya peroleh dari VIVAnews, hanya kebagian jatah bagi hasil Rp 63-Rp 68 untuk setiap lagu. Itu berarti Mbah Surip hanya menerima Rp 131 (karena dia yang mencipta sekaligus menyanyikannya) untuk setiap lagunya yang didownload.

“Ini betul-betul sangat menyedihkan,” kata Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Penataan Musik Rekaman Indonesia, Dharma Oratmangun.

Dharma kemudian buka-bukaan tentang rendahnya bagi hasil yang ditawarkan oleh semua operator di Indonesia. Misalnya Telkomsel dengan biaya per download Rp 9.000, sebesar Rp 5,750 (63,8 persen) dananya ditarik ke Telkomsel.

Sisa dana tersebut kemudian baru dibagi ke penerbit dan pencipta lagu Rp 406 (4,51 persen), label + Content Provider (CP) sebesar Rp 2.438 (27,08 persen), dan artis kebagian Rp 406 (4,51 persen).

Sementara XL dengan biaya bulanan Rp 5.000, membagi hasil keuntungan untuk XL sebesar Rp 4.000 (80 persen), kemudian Rp 1.000 sisanya dibagi penerbit dan pencipta Rp 125 (1,25 persen), label+CP sebesar Rp 750 (15 persen), dan artis mendapatkan Rp 125 (2,5 persen). Pencipta lagu dalam hal ini hanya mendapat Rp 63 (1,25 persen).

Mobile 8 (Fren) dengan biaya Rp 8.000, duit hasil download sebesar Rp 5.130 (64,13 persen) menjadi hak sang operator, dan sisanya dibagi ke penerbit dan pencipta Rp 359 (4,48 persen), label+CP Rp 2.153 (26,9 persen), dan untuk artis mendapatkan Rp 359 (4,48 persen). Pencipta lagu dalam hal ini hanya mendapat Rp 179 (2,24 persen).

Kalau ditanya kok tega-teganya operator “memeras” para kreator seni? Jawabnya, “kami, kan telah mengeluarkan banyak uang untuk investasi dan promosi.” Apa boleh buat, jawaban normatif itulah yang harus dimaklumi oleh pihak-pihak terkait.

Model bagi hasil seperti itu tidak jauh berbeda dengan para penulis buku yang karyanya bisa diunduh lewat ponsel (mobile book). Mobile book saya, Cara Elegan Menjadi Narsis di Facebook misalnya. Setiap kali pelanggan mendownload buku itu yang bertarif Rp 5.000 per unit, 50 persennya menjadi hak operator. Sisanya dibagi-bagi dengan banyak pihak, seperti penerbit, content provider, agensi dan biaya promosi. Mobile book ini bisa didownload dengan cara mengetik MOB 162500384, lalu kirim ke 9788.

Sampai sebegitu jauh, saya belum mengetahui berapa banyak pengguna ponsel yang mengunduh buku saya itu, karena baru diluncurkan Juli lalu. Sesuai dengan perjanjian, royalti baru akan dibagikan tiga bulan kemudian.

Menciptakan lagu yang dijadikan RBT meskipun nilai dasar royaltinya kecil, sang pencipta dan penyanyi seperti Mbah Surip tetap akan mendapatkan akumulasi royalti yang besar, sebab dengan sistem berlangganan. Selama pelanggan belum mengganti lagu, setiap bulan, rezeki bakal terus mengalir.

Dalam soal beginian, operator juga hampir selalu akal-akalan. Belum sempat berpikir ulang mau melanjutkan berlangganan RBT atau tidak, tiba-tiba sudah ada SMS masuk yang berbunyi: “Terimakasih Anda telah memperpanjang RBT. Mau ganti lagu, silakan ketik ….”

Apa pun cara operator mengakali pelanggan, yang pasti berkat Mbah Surip, rezeki operator semakin menggelembung. Jadi siapa bilang Mbah Surip sudah mati.***

MBAH SURIP DAN CALO ANGGARAN DI DPR

August 6th, 2009


MBAH Surip punya uang miliaran rupiah (meskipun ia tidak lama menikmatinya). Calo anggaran di DPR juga bisa meraup uang miliaran rupiah. Bedanya, Mbah Surip mendapatkannya dengan cara halal dan yang satu lagi bermodus haram.

Dengan uangnya yang diperoleh dari royalti ring back tone (RBT) lagunya “Tak Gendong”, Mbah Surip meninggalkan warisan mulia kepada keluarga yang ditinggalkan. Sedangkan para aclo anggaran di Senayan — jika kelak mereka meninggal dunia — meninggalkan harta durjana kepada ahli warisnya.

Mbah Surip mendapatkan uang miliaran rupiah dengan keringat dan bertaruh nyawa (dan akhirnya mati), sementara para calo anggaran DPR melacurkan harga diri.

Mari kita simak bagaimana anggota DPR “melacurkan harga diri” saat mereka bernafsu mendapatkan uang miliaran rupiah dan uang miliaran yang mereka buru itu diperlakukan seolah-olah hanya bernilai Rp 500. Ya, lima ratus perak.

Tak percaya? Ayo kita simak sidang kasus korupsi proyek pembangunan pelabuhan laut di Departemen Perhubungan yang tengah digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Rabu (5 Agustus 2009). Sebagaimana ditulis banyak koran, sidang ini mendengarkan kesaksian Wakil Ketua Panitia Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat Jhony Allen Marbun atas terdakwa yang tidak lain adalah rekannya sendiri, anggota Komisi V DPR Abdul Hadi Djamal.

Abdul Hadi jadi pesakitan, sebab diduga ia menerima suap terkait proyek pembangunan pelabuhan laut di Departemen Perhubungan. Keduanya berselisih paham dan ingatan soal jumlah uang yang akan (atau sudah) ditilep pada saat itu. Abdul Hadi menuding Jhony Allen ikut main, sementara yang dituding membantah, sampai-sampai Abdul Hadi minta disumpah pocong di pengadilan.

Soal bantah membantah bagi saya tidak begitu penting. Lagi pula dalam soal beginian, sepertinya sudah lumrah. Jika para koruptor sudah ketahuan belangnya, mereka pasti akan melakukan aksi lempar batu sembunyi tangan seperti yang dilakukan Ketua (nonaktif) KPK Antasari Azhar.

Setelah lebih dari dua bulan mendekam di tahanan, Antasari (entah apa motifnya) dia mengungkapkan bahwa pimpinan KPK disuap oleh seorang pengusaha yang terlibat kasus korupsi. Lho, kok baru dibeberkan sekarang? Banyak pihak yang meragukan pernyataan Antasari. Motifnya mungkin, “jangan biarkan aku sendiri.”

Kembali ke kasus percaloan anggaran di DPR yang melibatkan Abdul Hadi. Politisi ini menuding Jhony Allen tidak jujur dalam memberikan keterangan. Ketika menjadi anggota DPR, keduanya sangat akrab. Oleh sebab itulah Abdul Hadi menyapa Jhony dengan sebutan “Lae” (kakak atau bung).

“Mohon maaf, Lae, saya buka semua ini, karena Lae tidak pernah jujur. Inilah yang saya jadikan bukti,” ujar Abdul Hadi sebagaimana dikutip Kompas (Kamis 6 Agustus 2009).

Nah, ini yang menarik. Abdul Hadi mengungkapkan, setelah anggaran dana stimulus fiskal diputuskan oleh DPR menjadi Rp 5 triliun, Anggito Abimanyu yang mewakili pemerintah berjanji menyampaikannya kepada menteri. Setelah itu, anggota Komisi V DPR menggelar pertemuan. Ketika itu Rama Pratama dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengusulkan agar pimpinan mendapat alokasi Rp 100 miliar. Busyet deh, asyik benar.

“Namun, Lae bilang janganlah. Masak ketua juga sama. Ketua kita kasih Rp 200 miliar, aspirasinya,” ujar Abdul Hadi.

Setelah kongkalikong, ujung-ujungnya menurut Addul Hadi, wakil ketua diberi Rp 150 miliar, 83 anggota Panitia Anggaran mendapat Rp 20 miliar, dan Panitia Kerja mendapat Rp 50 miliar. Sisa Rp 1 triliun dibagi-bagi kepada fraksi secara proporsional.

Abdul Hadi juga mengingatkan Jhony bahwa sebelum rapat dengan pemerintah pada 23 Februari 2009, keduanya bertemu. Jhony menyampaikan program Rp 100 miliar.

“Saudaraku Jhony Allen yang mulia, masih ingatkah kertas yang saya berikan pada hari Jumat, sekalian konfirmasi apakah Lae sudah terima uangnya? Lae bilang masih kurang,” ujar Abdul Hadi sambil menunjukkan tanda paraf dari Jhony. Dalam sidang itu disebut-sebut pula seorang bernama Resco yang dikenal Abdul Hadi sebagai asistennya Jhony dan menerima Rp 1 miliar.

Membaca berita di atas, dalam hati saya berujar, “kok enak benar ya terima uang segede itu tanpa beban.” Kalau memang apa yang diungkap Abdul Hadi benar, “asyik benar ya, bagi-bagi jatah tanpa beban sama sekali.”

Bandingkan dengan Mbah Surip. Kakek berusia 60 tahun ini, sebagaimana ditulis Media Indonesia (Kamis 6 Agustus 2009), memang punya uang gede. Dari RBT, menurut koran ini, Mbah Surip setiap bulannya bisa meraih Rp 4,5 miliar.

Dalam dua bulan terakhir, RBT dari si Mbah selalu masuk 10 besar dalam pengunduhan nada sapa di ponsel. Masih menurut Media Indonesia, RBT “Tak Gendong” digunakan 500.000 pelanggan Telkomsel, 100.000 pelanggan Indosat, dan 70.000 pelanggan XL. Ini belum termasuk operator lain seperti Telkom (Flexi), Esia, Tri/3, Axis dan sebagainya.

Berbeda dengan calo anggaran di DPR, Mbah Surip meraup uang miliaran rupiah (itu pun tidak sempat dinikmati karena yang bersangkutan meninggal dunia pada Selasa 4 Agustus 2009) dengan mengorbankan waktu, tenaga, pikiran dan memutuskan “urat malu.”

Bayangkan, lagu “Tak Gendong” yang jadi kebanggaannya itu telah diperjuangkan untuk “go puplic” pada tahun 1980-an. Dalam penantiannya yang serba tidak pasti, dia menggelandang sebagai seniman jalanan. Bak satria bergitar, dia menyanyi ke sana kemari dengan suaranya yang (maaf) parah. Urat malunya juga dia putus demi “Tak Gendong.”

Sekarang Mbah Surip sudah berada di alam sana. Dia meninggalkan warisan dari RBT yang nilaianya miliaran rupiah dengan sebuah kehormatan, bukan seperti para calo anggaran yang pernah disebut sebagai anggota dewan yang terhormat itu. Tenterem, ya Mbah. I love you full.***

KUBURAN KOSONG MBAH SURIP

August 5th, 2009

BUKAN. Meskipun sama-sama pemusik, kuburan yang saya maksud dalam judul di atas bukan “kuburan” yang lupa syairnya itu, tapi kematian Mbah Surip dan makna sebuah kekayaan dan kesuksesan; mungkin juga kebahagiaan.

Kematian “mendadak” Mbah Surip yang bernama asli Urip Achmad Rijanto, Selasa (4 Agustus 2009) memang mengejutkan hampir semua orang di Indonesia. Siapa yang tidak kenal dengan lagunya “Tak Gendong” itu.

Kematian Mbah Surip, juga perjuangannya ketika masih hidup sebagai seniman yang “hanya” meninggalkan dua lagu ciptaannya yang sangat populer, “Tak Gendong” dan “Tidur Lagi” bagaimanapun seharusnya mengusik keberadaan kita yang bukan siapa-siapa dan belum jadi apa-apa.

Lalu apa hubungan dengan kuburan kosong Mbah Surip? Begini. Teman saya, Berny Gomulya dalam bukunya The Leader in You mengungkapkan, suatu hari dia ditanya oleh temannya di mana tempat paling kaya di dunia?

Ditanya seperti itu, Berny menjawab, bank. Sang teman menyalahkannya. “Tempat terkaya di bumi ini bukan bank. Bukan juga ladang minyak di Timur Tengah. Bukan juga tambang-tambang emas dan berlian di Afrika,” kata sang teman.

Berny penasaran dan ingin tahu dan bertanya, “lalu di mana, dong?” Sang teman menjawab bahwa kekayaan itu ada di kuburan. Lho, kok bisa?

“Karena yang terletak di bawah tanah itu adalah semua impian yang tidak akan pernah terwujud,” kata kawan Berny Gomulya.

Konkretnya, manusia memiliki potensi yang sangat luar biasa. Tapi sayangnya banyak dari potensi itu tertanam di dalam kubur. Betapa banyak buku bagus yang tidak akan pernah ditulis, lagu-lagu indah yang tidak pernah dinyanyikan, karya indah yang tidak pernah dibangun, dan ide-ide bisnis yang tidak pernah dimulai. Semuanya itu pernah dipikirkan oleh mereka yang kini berada di dalam kubur, tapi tidak pernah dilaksanakan; dan semuanya itu kini terpendam di dalam kubur.

Oleh sebab itu, “jangan biarkan potensi, bakat, dan talenta Anda terkubur di bawah tanah,” begitu pesan moral Berny Gomulya dalam bukunya. Supaya Anda menyadari bahwa sesungguhnya Anda adalah sosok pemimpin yang mempunyai kemampuan luar biasa, silakan baca bukunya yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama ini.

Dalam konteks dengan makna kuburan di atas, Mbak Surip yang pastinya punya banyak mimpi telah menjadi pemimpin meskipun rambutnya gimbal, pakaiannya kumel dan menggunakan atribut-atribut tidak seperti sosok pemimpin yang selama ini kita bayangkan. Yaitu sosok yang berpakaian rapi, menjaga image agar seolah-olah berwibawa, memegang kekuasaan atau jabatan.

Tidak! Sosok pemimpin yang dideskripsikan Berny Gomulya, bukan seperti yang selama ini kita bayangkan dan definisikan. Sosok pemimpin adalah orang yang secara konsisten - sekecil apa pun yang dikerjakan namun dilakukan terus menerus - berusaha mewujudkan mimpi-mimpinya.

Kriteria seperti itu ada pada sosok Mbak Surip. Dari berbagai informasi yang saya peroleh, Mbah Surip (ternyata usianya 52 tahun, bukan 60 tahun seperti yang sering ditulis di koran) bermimpi menjadi Mbah Surip seperti sekarang sampai ia meninggal dunia sejak tahun 1980-an.

Dengan gitarnya, ke mana-mana dia selalu menyanyikan lagu kebanggaannya itu, “Tak Gendong.” Dia bercita-cita menjadi seniman besar. Tapi tak seorang pun peduli.

Hebatkah lagu “Tak Gendong”? Kalau pertanyaan ini ditujukan kepada musisi kondang, dan mereka jujur, pasti akan menjawab “tidak.” Apanya yang hebat? “Tak gendong ke mana-mana. Tak gendong ke mana-mana.” Sudah, cuma itu. Nenek-nenek, bahkan anak TK juga bisa bikin lagu model begituan.

Yang hebat dan super dahsyat adalah si empunya lagu, Mbah Surip. Dia hebat dan luar biasa, karena konsisten memperjuangkan apa yang dimilikinya dan “digendongnya ke mana-mana” hingga akhir hayatnya. Dia menyadari, sebagai seniman, itulah kemampuan yang dimiliki dan diperjuangkan habis-habisan dan terbukti membuahkan hasil.

Lagu kebanggannya itu telah dikenal publik di Tanah Air dan dijadikan ring back tone (RBT). Koran Kompas Rabu (5 Agustus 2009) memberitakan, sejak Februari sampai Juni 2009, lagu “Tak Gendong” telah diaktivasi sebagai RBT oleh 60.000 pelanggan Indosat. Sedangkan sejak Juni 2008, pelanggan XL yang mendownload “Tak Gendong” ada 70.000. Tak ada informasi, berapa banyak pelanggan operator lain yang juga mengunduh warisannya Mbah Surip itu.

Tidak ada informasi akurat, berapa penghasilan Mbak Surip dari RBT tersebut. Dalam berbagai kesempatan, Mbah Surip bilang mencapai miliaran rupiah dan kemudian diikuti dengan tawa, “ha … ha …. ha.”

Setelah Mbak Surip tiada, banyak orang yang biasanya penasaran dengan lagu tersebut dan menjadikannya sebagai RBT. Jika memang ini faktanya, maka Mbah Surip telah meninggalkan harta warisan yang sangat bernilai buat keluarga yang ditinggalkan.

Harta warisan wujud dari mimpinya itu dia telah perjuangkan begitu lama dengan mempertaruhkan harga diri, kewibawaan, dan fisik yang ada batasnya.

Di dalam kubur, Mbah Surip sudah tidak membawa apa-apa, karena sesuatu yang menurutnya indah dan berharga telah dicurahkannya sampai di ujung kematiannya. Itulah yang saya maksud bahwa kuburan Mbah Surip kosong.

Dia pasti lega, karena mimpinya telah dia wujudkan dengan melakukan tindakan sederhana namun tetap konsisten. Bagaimana dengan kita? Siapkah kita menggendong setiap saat mimpi-mimpi kita?***

TREND HP DIFUNGSIKAN SEBAGAI BUKU

August 3rd, 2009

KORAN Media Indonesia, Sabtu (1/8) menurunkan sebuah tulisan yang menarik. Disebutkan bahwa kehadiran media digital seperti m-book dan e-book cepat atau lambat akan mengakhiri dominasi kertas terhadap buku yang sudah berlangsung sekian lama.

Selengkapnya tulisan di Media Indonesia itu sebagai berikut: Pada masa lalu, penemuan kertas oleh bangsa China merupakan sebuah revolusi besar dalam dunia tulis-menulis. Nenek moyang kita sebelumnya menggunakan berbagai media konvensional seperti batu, kulit binatang, sutra, dan daun lontar sebagai media penulisan.

Harus diakui, hingga kini kertas masih populer digunakan sebagai media untuk mencetak buku. Namun ’status’ kertas mulai berubah. Tidak lagi dianggap sebagai media modern melainkan sudah menjadi media konvensional bahkan dianggap tak ramah lingkungan. Pasalnya, sejak manusia mulai mengenal komputer dan teknologi, media digital dianggap lebih praktis digunakan.

Lalu apakah kehadiran media digital bisa secara instan menggeser hegemoni kertas yang sudah berlangsung berabad-abad? Tentu masih butuh waktu. Tetapi cepat atau lambat, media digital dipastikan mampu mengakhiri dominasi kertas. Apalagi, implementasi media digital belakangan semakin terasa.

Itu terbukti lewat sejumlah buku yang sudah diterbitkan dalam bentuk digital. Sebagian ada yang berbasis ponsel (m-book) dan sebagian lagi berbasis komputer (e-book).

M-novel & M-komik

Di Jepang misalnya, pembelian ‘buku’ sudah mulai bermigrasi dari media kertas ke media digital sejak 2000. Sejumlah novel yang diterbitkan khusus untuk ponsel atau lebih dikenal dengan sebutan m-novel mendapat sambutan meriah dari masyarakat ‘Negeri Sakura’. Menurut Nytimes.com, salah satu di antaranya ialah m-novel berjudul Love Sky yang dibaca lebih dari 20 juta orang pengguna ponsel di Jepang. Bahkan pada 2007, lima dari sepuluh novel best-seller di Jepang menggunakan media m-novel.

Di tanah air, semangat beralih ke media digital juga tidak kalah kuat. Sejak Februari tahun lalu misalnya, penerbit Mizan telah meluncurkan m-novel dengan label Fonovela. Novel-novel tersebut bisa diunduh lewat ponsel. Tidak terlalu lama setelah itu, penulis Dewi Lestari mengikuti jejak Mizan dengan menjual novel berjudul Perahu Kertas bekerjasama dengan sebuah operator ponsel. Konon m-novel ala Dewi Lestari itu sempat diunduh 600 ribu orang pengguna ponsel dengan pemasukan milyaran rupiah.

Selain novel, sejumlah komik di Indonesia juga sudah bisa diunduh lewat ponsel atau biasa disebut m-komik. M-komik di Indonesia merupakan kerjasama sebuah operator selular dengan komunitas komik Indonesia. Sejak Februari lalu, novel Lupus, Gangway, komik strip Benny Mice juga sudah bisa dinikmati melalui layar ponsel.

Cerita yang disajikan m-novel dan m-komik sebetulnya tidak berbeda dengan cerita yang dikisahkan dalam novel konvensional. Ada kisah seputar percintaan, komedi, persahabatan dan kehidupan sehari-hari.

Kedua jenis m-book tersebut diunduh bertahap bab per bab melalui ponsel sesuai keinginan pengguna. Tarifnya beragam dari Rp 5.000 hingga Rp 10.000. Yang menarik, selama ini m-book tidak pernah mewajibkan pengguna memakai ponsel yang premium karena untuk mengunduhnya cukup memanfaatkan ponsel berfitur SMS dan JAVA. Kedua fitur tersebut hampir pasti sudah ada di semua ponsel.

Buku saya berjudul “Cara Elegan Menjadi Narsis di Facebook” kini juga sudah bisa diunduh lewat ponsel. Caranya, ketik MOB 162500384, dan kirim ke 9788. Cuma Rp 5.000 per unit.***

LOVE LOVELY

July 28th, 2009

BAPAKNYA “hanya” bekerja sebagai penjual jeruk keliling, namun sang anak yang bernama Lovely Octavionely mampu membanggakan sang bapak, sebab ia berhasil lolos, masuk ke SMA Negeri Internasional Sumatera Selatan setelah bersaing dengan anak-anak lain yang “berebut” sekolah gratis di SMA yang distandardisasi Cambridge School, Inggris tersebut.

Koran Kompas yang terbit hari ini (Selasa 28 Juli 2009) menggambarkan bagaimana kondisi orang tua Lovely yang hidup apa adanya. Keluarga Lovely tinggal di sebuah rumah kontrakan. Untuk sampai ke rumah Lovely, tamu harus menyeberangi sebuah jembatan kecil, kemudian berjalan sekitar 100 meter di sebuah lorong sempit. Praktis tidak ada perabotan di rumah tersebut.

Kondisi orang tuanya yang seperti itu tidak mematahkan semangat Lovely untuk belajar dan beprestasi. Nilai mata pelajaran Lovely waktu di SMP rata-rata 81,75. Dia juga juara III lomba hafal Alquran, juara III lomba kaligrafi, juara III lomba menyanyi, dan mewakili SMP-nya dalam lomba olimpiade fisika tingkat kota Palembang.

Banyak anak berprestasi lain yang mungkin sama dengan Lovely, tapi tidak sempat terpantau, baik oleh orang tua, sekolah, lingkungan, maupun negara. Beruntung, Lovely terdeteksi oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan Sampoerna Foundation yang menanggung biaya pendidikan Lovely.

Oleh sebab itu saya memberikan apresiasi kepada SMA yang dikelola Yayasan Usaha Peningkatan Pendidikan Teknologi (Yuppentek) Tangerang yang dipilih anak perempuan saya untuk melanjutkan studinya setelah lulus dari SMP swasta dengan NEM 33,95.

Tidak seperti sekolah swasta lain, secara rutin, sekolah ini juga memberikan beasiswa kepada para siswanya yang berprestasi. Begitu masuk ke sekolah itu, semua siswa baru wajib mengikuti test.

Belakangan saya ketahui, test itu diadakan untuk menjaring siswa-siswa pandai. Alhamdulillah, puji Tuhan, anak saya terpilih, dia mendapat peringkat ketiga, dan mendapat bonus bebas membayar uang SPP selama lima bulan. Pembebasan SPP ini berlanjut jika siswa bisa mempertahankan dan meningkatkan prestasinya. Sebuah kebijakan yang sederhana, namun sangat bermanfaat, terutama untuk memotivasi anak-anak belajar.

Sebelumnya dengan NEM sebesar itu, anak saya sempat terseok-seok saat mendaftar masuk ke SMA negeri. Setelah tersundul dari sina dan sini oleh para siswa lain yang NEM-nya lebih tinggi - nggak tahu persis NEM mereka benar-benar murni atau rekayasa - anak saya akhirnya diterima di SMAN 10 Tangerang, sekolah pilihan terakhir.

Namun begitu akan mendaftar ulang, anak saya berubah pikiran. “Nggak mau ah, sekolahannya jelek, masuk kampung,” kata anak saya. Sebuah alasan yang mengada-ada dan sulit diterima oleh orang tua.

Setelah saya minta dipertimbangkan ulang, anak saya tetap menolak mendaftar ulang ke SMA negeri dan memutuskan masuk ke SMA Yuppentek.

Seperti halnya masyarakat Tangerang, saya menganggap rendah sekolah swasta ini. Tapi begitu saya menghadiri pertemuan antara orang tua murid baru dengan pihak sekolah, Sabtu (25 Juli 2009), saya mendapatkan kesan yang sangat jauh berbeda.

Semua ruang kelas menggunakan AC. Guru mengajar dengan laptop dan infokus. Satu kelas maksimal 36 murid. Ruang tempat pertemuan kami lumayan mewah bebas makan dan rokok. Gedung atau bangunan sekolah yang terdiri dari tiga tingkat terawat dengan baik.

Kepala Sekolah YM Kodhiat menjelaskan, tak satu pun guru yang merokok. Para siswa pria tak boleh berambut gondrong; dan jika ketahuan oleh guru pengawas, langsung dipangkas di tempat. Pelajaran dimulai pukul 06.30. Tepat jam ini, pintu gerbang sekolah ditutup. Terlambat masuk, siswa disuruh pulang.

Sekolah ini terakreditasi A dan telah berstatus SMA mandiri. Mulai tahun ajaran ini sudah menerapkan moving class, artiya para siswa yang mencari kelas atau guru, bukan sebaliknya.

Pilihan anak saya ternyata tidak keliru, dan semoga dia dapat terus berprestasi di saat banyak anak segenerasinya yang sulit menghargai waktu dan ingin hidup serba instan.

Halo anak-anak, kamu pasti bisa seperti Lovely. Besyukurlah atas apa yang kamu miliki sekarang.***

TERORISKAH KITA?

July 25th, 2009

LHA kalau begitu kita bisa dong jadi teroris, atau jangan-jangan kita memang sudah jadi teroris. Setidaknya itulah “keresahan” saya setelah membaca artikel berjudul “Bom Jumat Legi” yang ditulis Sujiwo Tejo, mantan wartawan yang kini berprofesi sebagai dalang.

Di koran Kompas yang terbit hari ini (Sabtu, 25 Juli 2009), dalam artikelnya itu, Sujiwo mengungkapkan, “bom” yang tidak meledak di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz Carlton justru berefek high explosive.

Celakanya, menurut budayawan ini, bom semacam itu setiap saat meledak dan menelan korban. Pokoknya ledakan bom itu benar-benar melahirkan peristiwa yang oleh pers sering disebut sebagai “tragedi kemanusiaan.”

Memberikan contoh, Sujiwo menyebut biaya pendidikan yang jangankan gratis, murah pun teramat jauh. Efeknya, banyak SDM Indonesia andal yang karena miskin tidak bisa melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Ujung-ujungnya pengangguran ada di mana-mana dan tidak ke mana-mana (meminjam istilah Gus Dur bahwa NU adalah ormas yang netral).

Serbuan pemodal kelas kakap yang membuka “pasar” atau “toko” modern hingga menyusup ke perkampungan yang menyebabkan pedagang kecil di desa kelimpungan dan megap-megap, juga disebut Sujiwo sebagai bentuk “bom” lain yang berefek mematikan.

Singkat cerita terorisme ada di mana-mana, dan bom yang diledakkan (mungkin) low explosive, namun berefek high explosive.

Banyak definisi tentang terorisme. Yang paling umum adalah sebuah tindakan berupa ancaman atau pemaksaan kehendak dengan cara menakut-nakuti atau melakukan sesuatu yang berdampak pada trauma atau ketakutan yang mendalam kepada orang atau pihak yang dijadikan sasaran terorisme. Efek tindakan terorisme tidak saja ke fisik, tapi juga psikis.

Kalau apa yang dimaksud Sujiwo Tejo masuk dalam wilayah itu, bukankah kita masuk dalam katagori teroris? Sebagai orang tua, tanpa sadar kita sering meneror anak-anak kita dengan “sesuatu” yang menurut ukuran kita benar, padahal tidak demikian dengan anak-anak kita. Kita sering memaksa anak-anak kita agar berpikiran sama dengan apa yang kita pikirkan. Dengan kata lain kita kerap memaksa agar anak-anak memakai sepatu yang ukurannya sama dengan kaki kita. Kita tidak mau peduli saat dipakai, sepatu itu longgar atau sempit di kaki anak-anak kita.

Sebaliknya anak-anak juga sering meneror orang tuanya. Meminta sesuatu dengan prinsip “aku, kan anakmu” kepada orang tua tanpa memahami kondisi orang tua adalah bentuk teror usia dini.

Di tempat pekerjaan juga ada teror dan ledakan bom dalam bentuk yang lain. Atasan yang setiap hari berang dan membentak-bentak anak buah karena target penjualan tidak tercapai juga wujud teror dan bom yang sangat mengganggu psikis para anak buah.

Jika bentakan-bentakan, ejekan-ejekan atau ancaman itu tidak membuahkan hasil positif bagi pencapaian target dan berujung pada rasa frustrasi dan depresi kepada anak buah, maka sesungguhnya sang atasan sudah berhasil meledakkan bom bunuh diri. Bunuh diri yang saya maksud di sini adalah dia telah mematikan suara hatinya sendiri.

Sebaliknya, jika bawahan cuma bisa menuntut imbalan lebih dan mengata-ngatai pimpinannya tidak bijaksana dan tidak pantas memimpin dan sama sekali tidak memberikan solusi, maka sesunggunya anak buah semacam ini layak dijuluki sebagai teroris.

Bagaimana dengan di tempat ibadah? Jangan salah sangka, sebab bukan tidak mungkin, di sini justru banyak mbah buyut para teroris. Kalau para pemuka agama (alim ulama seperti kiai, pendeta, pastor dll) bisanya cuma menakut-nakuti jemaah dengan pengetahuan neraka dan surga, maka sesungguhnya para alim ulama itu telah menebar teror.

Apalagi kalau di tempat suci itu, mereka menebar rasa benci kepada pihak, kelompok atau golongan lain dengan berselimutkan jubah bahwa ajarannya yang paling benar, maka sesungguhnya penebar kebencian itu juga berperilaku seperti teroris.

Dalam hati kecil, saya berharap, apa yang ditulis Sujiwo Tejo dan analisis saya di atas salah besar, karena kita telah merasa menjadi malaikat!***

HAJI PONIMAN KASTURO BELAJAR BERTOBAT

July 22nd, 2009

“DIRI kita sekarang adalah produk dari apa yang kita pikirkan kemarin,” kata orang bijak. Saya kerap tidak mengerti, mengapa bobot kesuksesan setiap orang berbeda-beda. Yang juga kerap tidak saya mengerti “demi panggilan”, banyak orang melakukan “pertobatan” yang sangat revolusioner, bahkan berani untuk tidak populer dan hidup (menurut saya) tidak enak.Saya punya teman seorang bankir. Lebih dari 10 tahun yang silam dia meniti karier di sebuah bank mapan. Gaji pastinya lebih dari cukup, begitu juga masa depannya. Namun di tengah perjalanan, dia bukan hanya banting setir, tapi banting haluan. Dia memutuskan untuk mengakhiri kariernya sebagai bankir dan menekadkan menjadi pendeta.

Menjadi pendeta, lagi-lagi ini menurut cara pandang saya (belum tentu benar), tidak enak. Yang dihadapi hanya persoalan, karena harus menggembalakan jemaat yang “tuntutannya” beraneka rupa.

Pun demikian dengan apa yang saya dapatkan ketika saya memberikan pelatihan penulisan kepada para pemuka agama di kota Kebumen, Jawa Tengah saat liburan kemarin (20 Juli 2009).

Di acara itu, tanpa direncanakan — apalagi disengaja — saya bertemu dengan seorang bernama Poniman Kasturo. Usut punya usut, dia ternyada adalah adik kelas saya sewaktu kuliah di Sekolah Tinggi Publisistik (sekarang Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta).

Ah, betapa keterlaluannya saya. Dia ternyata telah berteman dengan saya di Facebook. Permohonannya untuk berteman dengan saya telah saya approval lumayan lama. Karena itu saya harus berlapang dada membenarkan apa yang dikatakannya bahwa saya sombong ketika dia berdialog dengan saya. Sorry, ya Poniman.

Berkopi darat secara tidak sengaja dengannya di Kebumen, terasa hidup ini sangat singkat dan cepat berubah. Perubahan itu begitu revolusioner. Setidaknya itulah yang saya peroleh setelah mengetahui siapa sebenarnya sosok Poniman Kasturo.

Benar kata orang bijak di awal catatan ini, diri kita sekarang adalah apa yang kita pikirkan kemarin, dan siapa kita di kemudian hari adalah apa yang kita pikirkan sekarang.

Poniman Kasturo adalah anak kampung alias “cah ndeso.” Dia dilahirkan di Desa Prembun, Kebumen, 40 tahun-an yang lalu. Selepas SMA, dia melanjutkan kuliah di STP/IISIP Jakarta. Tak sanggup bayar kuliah, karena orangtuanya tidak mampu, Poniman kemudian dipekerjakan di kampus dengan tugas aneka rupa, mulai dari urusan administrasi mahasiswa, penanggung jawab kebersihan ruangan rektor dan kantin hingga sekretaris rektor.

Nama Poniman Kasturo tentu terasa aneh di telinga para mahasiswa yang terbiasa dengan nama Johny, Robert, Albert, Rahadian dan nama-nama “impor” lainnya. Karena itu, Poniman sering diolok-olok rekan-rekannya sesama mahasiswa.

Yang saya tahu, dihadapkan dengan fakta seperti itu, Poniman Kasturo tenang-tenang saja. Olok-olok seperti itu sering dibalas dengan senyuman. Dia memang tidak banyak omong dan cenderung pendiam; atau mungkin (saat itu) rendah diri. Sesekali saya melihat dia sedang menyapu dan mengepel lantai sekretariat kampus yang lokasinya di Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

Lulus dari perguruan tinggi swasta itu, Poniman Kasturo kemudian dipercaya menjadi dosen di sini. Sempat pula mengajar di perguruan tinggi lain. Setelah itu, saya tak tahu apa yang dilakukan Poniman. Hal ihwal tentang Poniman baru saya ketahui hari Senin (20 Juli) kemarin.

Poniman sekarang bukan lagi Poniman Kasturo 20 tahun yang lalu. Dia bukan lagi sosok yang pendiam dan rendah diri. Profesi awal sebagai akademisi dia telah tinggalkan beberapa tahun silam. Profesi barunya adalah pengusaha, konsultan dan pembicara publik. Sampai sekarang dia menjabat sebagai Ketua Umum Pengembangan Kepribadian Indonesia (HIMPRI). Belum lama berselang dia juga terpilih sebagai Ketua Umum Komite Olahraga Kabupaten (KOK) Kebumen periode 2009-2012. Dia juga sudah naik haji.

Banyak perusahaan besar yang memakai jasanya sebagai konsultan untuk melakukan pelatihan pengembangan diri dan kepemimpinan. Nama boleh ndeso, tapi Poniman bangga dengan nama pemberian orang tuanya. Bersama-sama temannya asal Kebumen, dia mendirikan yayasan Poniman Center.

Lewat yayasan ini, Haji Poniman Kasturo  bermimpi masyarakat kampung halamannya sukses dan percaya diri, lalu mandiri seperti dirinya. Dia rindu masyarakat Kebumen berani berpikir positif hari ini untuk melahirkan Kebumen yang cerdas dan makmur di hari esok.

Caranya? Entahlah, biarlah Poniman Kasturo yang berpikir dan belajar. Yang pasti dia bangga menjadi cah ndeso, syukur-syukur bisa pulang kampung melalui sebuah “pertobatan.” ***

HASIL PILPRES DAN KAMBING HITAM

July 9th, 2009

ANDA boleh tidak suka dengan cara atau metode yang digunakan lembaga-lembaga survei dalam melakukan quick count (hitung cepat). Tapi setelah Anda mencontreng di TPS dan lalu menonton televisi yang menyiarkan perolehan suara hasil pilpres berdasarkan metode quick count, seharusnya Anda berterimakasih kepada lembaga-lembaga itu.

Terbukti lembaga itu telah membantu kita untuk mengetahui hasil pilpres lebih cepat, meskipun hasil lembaga survei yang satu dengan yang lain berbeda (sedikit).

Hingga pukul 15.30 (Rabu 8/7), hasil quick count yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) sebagaimana disiarkan TVOne, telah masuk 95,80% dengan komposisi perolehan suara untuk:
1. Pasangan SBY-Boediono (60,03%).
2. Pasangan Megawati-Prabowo (27,36%).
3. Pasangan JK-Wiranto (12,61%).

Masih pada jam yang sama, hasil penghitungan cepat yang dilakukan LP3ES sebagaimana disiarkan RCTI, telah masuk 84,30% suara dengan komposisi untuk:

1. SBY-Boediono (59,89%).
2. Megawati-Prabowo (27,61%).
3. JK-Wiranto (12,50%).

Metro TV pada jam yang sama menayangkan hasil penghitungan cepat yang dilakukan lembaga independen bentukan Metro TV sendiri. Hasilnya, 94,77% suara telah masuk, dan menempatkan pasangan SBY-Boediono di posisi teratas (58,51%), menyusul pasangan Megawati-Prabowo (26,32%); dan JK-Win (15,18%).

Anda boleh tidak suka kepada SBY. Tapi faktanya, dari hasil penghitungan cepat itu, rakyat ternyata lebih menyukai dia daripada dua pasangan calon presiden/wakil presiden yang lain.

Itu berarti — suka atau tidak suka — tampaknya pemilihan presiden (pilpres) kali ini hanya satu kali putaran. Lebih cepat ternyata memang lebih baik.

Anda boleh tidak suka kepada SBY. Faktanya, dialah yang dinilai oleh lebih dari 50% rakyat Indonesia sebagai putra terbaik bangsa yang dipercaya untuk memimpin negeri ini lima tahun ke depan.

Menjelang hari H pemungutan suara, SBY masih diterpa kampanye hitam. Selasa (7/7) malam hingga Rabu (8/7), saya masih menerima SMS yang intinya “jangan pilih SBY” dengan berbagai argumentasi yang menurut saya mengada-ada dan sulit dipercaya kebenarannya. Kalaulah saya dan banyak lainnya ‘termakan’ dengan kampanye gelap itu, maka suara saya pun akan menjadi sia-sia, sebab toh SBY tetap unggul.

Akhirnya sia-sia juga mereka yang menyebarluaskan SMS yang berisi kampanye hitam tadi. Tak apalah, pelajaran berharga buat siapa pun.

Banyak pihak, terutama lawan politiknya yang berharap SBY besar kepala menanggapi hasil penghitungan cepat yang mengantarkannya sebagai capres paling unggul.

Beruntung, SBY tidak jatuh ke wilayah itu. Ketika memberikan sambutan di Cikeas, Rabu (8/7) siang, dia hanya mengucapkan terimakasih kepada rakyat Indonesia yang telah melaksanakan haknya memilih presiden dengan baik, aman dan lancar. Dia juga minta agar rakyat bersabar menunggu hasil penghitungan suara resmi yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Menurut dia, kemenangan dan kekalahan sama mulianya.

Masyarakat tentu berharap, semua pihak menjunjung tinggi nilai kemuliaan dalam menghadapi hasil pilpres 2009 ini. Maklum, kita — terutama para elite politik — tidak terbiasa menerima kekalahan.

Mudah-mudahan tidak, pasca pilpres, mereka pasti akan mencari kambing hitam. Mudah-mudahan tidak, perkiraan saya, si kambing hitam itu adalah:

1. Daftar pemilih tetap (DPT).
2. Penggunaan KTP dan Kartu Keluarga.
3. KPU (dituding tidak profesional).
4. Proses penghitungan suara.
5. Pemerintah/aparat tidak independen.
6. Nama rangkap/pemilih ganda di DPT.
7. Money politics.

Atau alasan-alasan lain yang dikarang-karang agar karangannya didengar orang, dan orang percaya dengan karangannya, dan dipercaya bahwa dia tidak mengarang.***

PERIBAHASA DAN POLITIK PASCAPEMILU 2009

May 11th, 2009

KATA-KATA bijak dan peribahasa seharusnya bisa kita jadikan bahan pembelajaran untuk hidup. Tapi sayang, banyak yang mengabaikannya, terutama para politisi pasca-Pemilu 2009. Apa boleh buat “sesal kemudian tiada berguna.”
1. Habis manis sepah dibuang: Inilah perilaku para elite politik kita. Mereka meninggalkan rakyat yang dengan pikiran dan hati telah memilih partai mereka pada pemilu yang lalu. Eh, begitu sudah dapat, suara rakyat dijual belikan demi kekuasaan. Apes.

2. Menepuk air didulang, terpercik muka sendiri: Inilah nasib yang menimpa Soetrisno Bachir. Berlelah-lelah merawat Partai Amanat Nasional (PAN), entah sudah berapa ratus miliar kocek pribadinya keluar untuk membesarkan partai. Eh, belakangan dia nggak dianggap Amien Rais yang membuatnya malu. Dan Bachir pun bernyanyi: “Lebih baik sakit gifi daripada sakit hati.”


3. Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh:
Peribahasa ini cocok dijadikan pelajaran buat Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) yang memisahkan diri dari PDI Perjuangan. PDP berharap Pemilu 2009 bisa menyaingi PDI-P; bahkan Laksamana Sukardi yakin bisa jadi presiden. Gimana mau jadi presiden, partai ini cuma dapat suara 0,86. Nasib. Sudah nol koma, di dalam pakai berkelahi lagi. Kabar paling baru, Laksamana Sukardi memecat Roy BB Janis, tapi Janis menolak. Seru!


4. Bagai si bisu berasin, terasa ada, terkatakan tidak.
Artinya orang yang malu tidak dapat mengeluarkan isi hatinya mmeskipun tahu apa yang dikatakan. Inilah yang dilakukan sejumlah partai politik yang akan melakukan koalisi, tapi nggak juga terucapkan. Mereka cuma bilang “komunikasi politik.” Padahal di dalam hati mereka ingin berterus terang, kejarlah daku kau kutangkap. SBY juga menganut prinsip ini, dia punya mau, tapi nggak keluar juga sesuatu dari mulutnya. Salah sendiri kalau banyak orang kemudian menganggap dia nggak tegas.

5. Seperti kerbau terjebit leher dihela tanduk panjang, dilakukan badan bersih: Sepertinya ini yang dilakukan dan menimpa PDI-P. Banteng moncong putihnya bukan saja terikat lehernya, tapi juga ditanduk. Megawati inginnya tetap jadi presiden, tapi Ketua Dewan Pertimbangan PDI-P Taufik Kiemas yang suami Megawati inginnya merapat ke Partai Demokrat. Berarti Taufik dong yang nanduk. Tega benar.

6. Bagai telur di ujung tanduk: Nah, kalau urusan intern PDI-P nggak rampung-rampung juga, sangat mungkin PDI-P dalam waktu dekat ini akan berada pada posisi yang sulit. Tempo hari Partai Golkar pernah mengalaminya. Jangan-jangan posisinya juga sulit, karena temannya hanya Partai Hanura.


7. Sambil menyelam minum air:
Inilah yang dilakukan para elite politik lewat aksinya “komunikasi politik.” Berkomunikasi sambil melihat peluang dan bisik-bisik, “ada jatah menteri nggak buat gua?” Tapi kalau nggak waspada bisa kelelep. Ini arti harafiahnya peribahasa ini.


8. Umpan habis ikan tak kena:
Inilah nasib para caleg yang sudah mengeluarkan banyak uang, tapi tak dapat suara dan melenggang ke Senayan. Demikian juga partai-partai yang cuma dapat suara nol koma, seperti PDP, Partai Matahari, Partai Sarikat Indonesia, Partai Persatuan Daerah, Partai Buruh, Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia, dan sebagainya.

9. Pucuk dicinta ulam pun tiba: Nah inilah yang ditunggu-tunggu Partai Demokrat, akhirnya datang juga PDI-P ke kubu partai itu. Kenapa sih nggak dari dulu?


10.Tak ada rotan akar pun jadi:
Tampaknya ini yang dianut Wiranto. Nggak dapat posisi calon presiden, calon wapres pun nggak apa, yang penting punya peluang. Jika terpaksa nggak dapat juga, jadi menteri juga oke. Memangnya siapa yang mau pakai dia jadi menteri?

11. Gajah bertarung sama gajah, pelanduk mati di tengah: Para penggede (elite partai) berebut kekuasaan, yang terabaikan akhirnya rakyat kecil juga.


12. Bagaikan pungguk merindukan bulan:
Elite politik yang nggak tahu diri. Perolehan suara partainya nol koma atau nggak cukup, tapi tetap ingin jadi presiden.


13. Ada udang di balik batu:
Ini mah peribahasa yang paling gampang artinya. Itulah tabiat para politikus.


14. Buruk muka cermin dibelah:
Para politikus seharusnya introspeksi. Tapi mereka nggak mau pada ngaca, sebab kalau itu yang dilakukan, sangat mungkin banyak kaca cermin yang pecah berantakan. Hancur abizzz.***

SBY-PRABOWO, MUNGKINKAH?

April 13th, 2009

SITUASI politik pasca pemilu legislatif berubah detik demi detik. Dilandasi berbagai kepentingan, para tokoh yang berambisi menjadi presiden menimbang-nimbang kekuatan, siapa yang pantas dijadikan kawan dan lawan.

Di luar perkiraan — tapi ada pula yang sudah memastikan — Partai Demokrat yang memenangi pemilu legislatif dengan perolehan suara yang sangat spektakuler. Pada Pemilu 2004, partai yang dimotori Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini hanya meraih 7% suara.

Oleh sebab itu banyak pihak yang “cemburu” saat rakyat memilihnya jadi presiden lewat pemilihan langsung. Ujung-ujungnya, pemerintahannya digoyang lewat DPR, meskipun SBY sudah membentuk kabinet pelangi.

Pada pemilu yang digelar pada 9 April kemarin, partainya SBY meraih 21% suara. Itu berarti ada kenaikan 200% suara dibanding Pemilu 2004. Posisi SBY sekarang benar-benar berada di atas angin dan dialah satu-satunya tokoh yang berhak dan memenuhi syarat mencalonkan diri sebagai presiden. Keputusan akan berkoalisi dengan partai apa agar posisinya di DPR semakin kuat, sepenuhnya ada di tangannya.

Kalau kita mau kritis, Pemilu 2009 sebenarnya tetap memunculkan “persaingan” seru antara kelompok nasionalis dan agama (Islam). Kelompok nasionalis terwakili di Partai Demokrat, PDI Perjuangan, Golkar, Partai Hanura dan Partai Gerindra.

Sedangkan dari kubu Islam, direpresentasikan lewat Partai Keadilan Sejahtera, PPP, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Amanat Nasional dan Partai Bulan Bintang (PBB). Pemilih berbasiskan Islam dalam pemilu kali ini tampaknya lebih sreg menyalurkan suaranya ke PKS daripada ke PPP. PKS dianggap lebih islami daripada ke PPP atau PAN. Roh Islam di PPP dan PAN — juga PKB — dianggap semakin tidak jelas. Maka logis jika suara yang diraih PKS di Pemilu 2009 lumayan banyak.

Melihat dari suara yang masuk, mayoritas pemilih tetap menginginkan partai berpaham nasionalis kebangsaan yang tetap memimpin negeri ini. Karena itu tidak ada alasan bagi partai-partai ini untuk memecahkan diri saat menyusun koalisi guna menentukan siapa pasangan presiden dan calon presiden.

Sayang memang, partai berpayung nasionalisme kebangsaan itu tampaknya mau berjalan sendiri-sendiri atas nama dan demi gengsi untuk satu tujuan bagaimana mengalahkan SBY.

Memasang-masangkan capres dan cawapres dengan berbagai spekulasi pun belakangan ini muncul. Ada yang mengatakan, Jusuf Kalla (JK) akan “balik kandang” ke SBY melanjutkan pemerintahan yang telah dilakoni selama lima tahun. Sementara itu Megawati Soekarnoputri juga tengah melirik siapa yang layak dijadikan wapres yang diharapkan bisa membuat pemilih ragu memilih SBY pada pilpres Juli mendatang.

Harus diakui, Megawati sekarang tidak lagi populer di mata rakyat. Entah siapa yang menyuruh, ibu kita yang satu ini kalau ngomong, kok seperti ibu-ibu yang lagi ngrumpi beli sayur dan topik yang dibicarakan selalu menyudutkan SBY. Sikapnya yang seperti itu membuat banyak orang tidak bersimpati kepadanya dan mengalihkan simpatinya kepada SBY.

Belajarlah dari pengalaman, Bu. Janganlah Ibu menganut prinsip “senang melihat orang lain sedih; dan sedih melihat orang lain senang.”

Sore ini saya mendapat SMS yang isinya seperti ini: “Yang bisa mengalahkan SBY hanya Pro-Akbar (Prabowo-Akbar Tanjung) yang didukung Golkar, PDI-Perjuangan, Gerindra, Hanura, dan PPP. Kerelaan Megawati sangat penting. Tidak akan menang jika Pro-Mega atau Mega-Pro, atau Mega-JK.”

Meskipun tidak mungkin menurut akal sehat, saya bermimpi Prabowo rela bersanding dengan SBY sebagai wapres. Jika ini yang terjadi, maka duet SBY-Prabowo bakal benar-benar dahsyat.

Dalam situasi seperti sekarang, seorang tokoh negeri ini layak disebut sebagai negarawan jika dia mau dijadikan sebagai wapres. Jujur, sekarang negeri ini membutuhkan seorang negarawan yang mau merendahkan diri menjadi wapres atau orang kedua.

Bagaimana Pak Prabowo, Pak JK, Pak Wiranto, Pak Hamengku Buwono, Pak Rizal Ramli dan Ibu Megawati?