KUBURAN KOSONG MBAH SURIP
August 5th, 2009
BUKAN. Meskipun sama-sama pemusik, kuburan yang saya maksud dalam judul di atas bukan “kuburan” yang lupa syairnya itu, tapi kematian Mbah Surip dan makna sebuah kekayaan dan kesuksesan; mungkin juga kebahagiaan.
Kematian “mendadak” Mbah Surip yang bernama asli Urip Achmad Rijanto, Selasa (4 Agustus 2009) memang mengejutkan hampir semua orang di Indonesia. Siapa yang tidak kenal dengan lagunya “Tak Gendong” itu.
Kematian Mbah Surip, juga perjuangannya ketika masih hidup sebagai seniman yang “hanya” meninggalkan dua lagu ciptaannya yang sangat populer, “Tak Gendong” dan “Tidur Lagi” bagaimanapun seharusnya mengusik keberadaan kita yang bukan siapa-siapa dan belum jadi apa-apa.
Lalu apa hubungan dengan kuburan kosong Mbah Surip? Begini. Teman saya, Berny Gomulya dalam bukunya The Leader in You mengungkapkan, suatu hari dia ditanya oleh temannya di mana tempat paling kaya di dunia?
Ditanya seperti itu, Berny menjawab, bank. Sang teman menyalahkannya. “Tempat terkaya di bumi ini bukan bank. Bukan juga ladang minyak di Timur Tengah. Bukan juga tambang-tambang emas dan berlian di Afrika,” kata sang teman.
Berny penasaran dan ingin tahu dan bertanya, “lalu di mana, dong?” Sang teman menjawab bahwa kekayaan itu ada di kuburan. Lho, kok bisa?
“Karena yang terletak di bawah tanah itu adalah semua impian yang tidak akan pernah terwujud,” kata kawan Berny Gomulya.
Konkretnya, manusia memiliki potensi yang sangat luar biasa. Tapi sayangnya banyak dari potensi itu tertanam di dalam kubur. Betapa banyak buku bagus yang tidak akan pernah ditulis, lagu-lagu indah yang tidak pernah dinyanyikan, karya indah yang tidak pernah dibangun, dan ide-ide bisnis yang tidak pernah dimulai. Semuanya itu pernah dipikirkan oleh mereka yang kini berada di dalam kubur, tapi tidak pernah dilaksanakan; dan semuanya itu kini terpendam di dalam kubur.
Oleh sebab itu, “jangan biarkan potensi, bakat, dan talenta Anda terkubur di bawah tanah,” begitu pesan moral Berny Gomulya dalam bukunya. Supaya Anda menyadari bahwa sesungguhnya Anda adalah sosok pemimpin yang mempunyai kemampuan luar biasa, silakan baca bukunya yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama ini.
Dalam konteks dengan makna kuburan di atas, Mbak Surip yang pastinya punya banyak mimpi telah menjadi pemimpin meskipun rambutnya gimbal, pakaiannya kumel dan menggunakan atribut-atribut tidak seperti sosok pemimpin yang selama ini kita bayangkan. Yaitu sosok yang berpakaian rapi, menjaga image agar seolah-olah berwibawa, memegang kekuasaan atau jabatan.
Tidak! Sosok pemimpin yang dideskripsikan Berny Gomulya, bukan seperti yang selama ini kita bayangkan dan definisikan. Sosok pemimpin adalah orang yang secara konsisten - sekecil apa pun yang dikerjakan namun dilakukan terus menerus - berusaha mewujudkan mimpi-mimpinya.
Kriteria seperti itu ada pada sosok Mbak Surip. Dari berbagai informasi yang saya peroleh, Mbah Surip (ternyata usianya 52 tahun, bukan 60 tahun seperti yang sering ditulis di koran) bermimpi menjadi Mbah Surip seperti sekarang sampai ia meninggal dunia sejak tahun 1980-an.
Dengan gitarnya, ke mana-mana dia selalu menyanyikan lagu kebanggaannya itu, “Tak Gendong.” Dia bercita-cita menjadi seniman besar. Tapi tak seorang pun peduli.
Hebatkah lagu “Tak Gendong”? Kalau pertanyaan ini ditujukan kepada musisi kondang, dan mereka jujur, pasti akan menjawab “tidak.” Apanya yang hebat? “Tak gendong ke mana-mana. Tak gendong ke mana-mana.” Sudah, cuma itu. Nenek-nenek, bahkan anak TK juga bisa bikin lagu model begituan.
Yang hebat dan super dahsyat adalah si empunya lagu, Mbah Surip. Dia hebat dan luar biasa, karena konsisten memperjuangkan apa yang dimilikinya dan “digendongnya ke mana-mana” hingga akhir hayatnya. Dia menyadari, sebagai seniman, itulah kemampuan yang dimiliki dan diperjuangkan habis-habisan dan terbukti membuahkan hasil.
Lagu kebanggannya itu telah dikenal publik di Tanah Air dan dijadikan ring back tone (RBT). Koran Kompas Rabu (5 Agustus 2009) memberitakan, sejak Februari sampai Juni 2009, lagu “Tak Gendong” telah diaktivasi sebagai RBT oleh 60.000 pelanggan Indosat. Sedangkan sejak Juni 2008, pelanggan XL yang mendownload “Tak Gendong” ada 70.000. Tak ada informasi, berapa banyak pelanggan operator lain yang juga mengunduh warisannya Mbah Surip itu.
Tidak ada informasi akurat, berapa penghasilan Mbak Surip dari RBT tersebut. Dalam berbagai kesempatan, Mbah Surip bilang mencapai miliaran rupiah dan kemudian diikuti dengan tawa, “ha … ha …. ha.”
Setelah Mbak Surip tiada, banyak orang yang biasanya penasaran dengan lagu tersebut dan menjadikannya sebagai RBT. Jika memang ini faktanya, maka Mbah Surip telah meninggalkan harta warisan yang sangat bernilai buat keluarga yang ditinggalkan.
Harta warisan wujud dari mimpinya itu dia telah perjuangkan begitu lama dengan mempertaruhkan harga diri, kewibawaan, dan fisik yang ada batasnya.
Di dalam kubur, Mbah Surip sudah tidak membawa apa-apa, karena sesuatu yang menurutnya indah dan berharga telah dicurahkannya sampai di ujung kematiannya. Itulah yang saya maksud bahwa kuburan Mbah Surip kosong.
Dia pasti lega, karena mimpinya telah dia wujudkan dengan melakukan tindakan sederhana namun tetap konsisten. Bagaimana dengan kita? Siapkah kita menggendong setiap saat mimpi-mimpi kita?***