KUBURAN KOSONG MBAH SURIP

August 5th, 2009

BUKAN. Meskipun sama-sama pemusik, kuburan yang saya maksud dalam judul di atas bukan “kuburan” yang lupa syairnya itu, tapi kematian Mbah Surip dan makna sebuah kekayaan dan kesuksesan; mungkin juga kebahagiaan.

Kematian “mendadak” Mbah Surip yang bernama asli Urip Achmad Rijanto, Selasa (4 Agustus 2009) memang mengejutkan hampir semua orang di Indonesia. Siapa yang tidak kenal dengan lagunya “Tak Gendong” itu.

Kematian Mbah Surip, juga perjuangannya ketika masih hidup sebagai seniman yang “hanya” meninggalkan dua lagu ciptaannya yang sangat populer, “Tak Gendong” dan “Tidur Lagi” bagaimanapun seharusnya mengusik keberadaan kita yang bukan siapa-siapa dan belum jadi apa-apa.

Lalu apa hubungan dengan kuburan kosong Mbah Surip? Begini. Teman saya, Berny Gomulya dalam bukunya The Leader in You mengungkapkan, suatu hari dia ditanya oleh temannya di mana tempat paling kaya di dunia?

Ditanya seperti itu, Berny menjawab, bank. Sang teman menyalahkannya. “Tempat terkaya di bumi ini bukan bank. Bukan juga ladang minyak di Timur Tengah. Bukan juga tambang-tambang emas dan berlian di Afrika,” kata sang teman.

Berny penasaran dan ingin tahu dan bertanya, “lalu di mana, dong?” Sang teman menjawab bahwa kekayaan itu ada di kuburan. Lho, kok bisa?

“Karena yang terletak di bawah tanah itu adalah semua impian yang tidak akan pernah terwujud,” kata kawan Berny Gomulya.

Konkretnya, manusia memiliki potensi yang sangat luar biasa. Tapi sayangnya banyak dari potensi itu tertanam di dalam kubur. Betapa banyak buku bagus yang tidak akan pernah ditulis, lagu-lagu indah yang tidak pernah dinyanyikan, karya indah yang tidak pernah dibangun, dan ide-ide bisnis yang tidak pernah dimulai. Semuanya itu pernah dipikirkan oleh mereka yang kini berada di dalam kubur, tapi tidak pernah dilaksanakan; dan semuanya itu kini terpendam di dalam kubur.

Oleh sebab itu, “jangan biarkan potensi, bakat, dan talenta Anda terkubur di bawah tanah,” begitu pesan moral Berny Gomulya dalam bukunya. Supaya Anda menyadari bahwa sesungguhnya Anda adalah sosok pemimpin yang mempunyai kemampuan luar biasa, silakan baca bukunya yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama ini.

Dalam konteks dengan makna kuburan di atas, Mbak Surip yang pastinya punya banyak mimpi telah menjadi pemimpin meskipun rambutnya gimbal, pakaiannya kumel dan menggunakan atribut-atribut tidak seperti sosok pemimpin yang selama ini kita bayangkan. Yaitu sosok yang berpakaian rapi, menjaga image agar seolah-olah berwibawa, memegang kekuasaan atau jabatan.

Tidak! Sosok pemimpin yang dideskripsikan Berny Gomulya, bukan seperti yang selama ini kita bayangkan dan definisikan. Sosok pemimpin adalah orang yang secara konsisten - sekecil apa pun yang dikerjakan namun dilakukan terus menerus - berusaha mewujudkan mimpi-mimpinya.

Kriteria seperti itu ada pada sosok Mbak Surip. Dari berbagai informasi yang saya peroleh, Mbah Surip (ternyata usianya 52 tahun, bukan 60 tahun seperti yang sering ditulis di koran) bermimpi menjadi Mbah Surip seperti sekarang sampai ia meninggal dunia sejak tahun 1980-an.

Dengan gitarnya, ke mana-mana dia selalu menyanyikan lagu kebanggaannya itu, “Tak Gendong.” Dia bercita-cita menjadi seniman besar. Tapi tak seorang pun peduli.

Hebatkah lagu “Tak Gendong”? Kalau pertanyaan ini ditujukan kepada musisi kondang, dan mereka jujur, pasti akan menjawab “tidak.” Apanya yang hebat? “Tak gendong ke mana-mana. Tak gendong ke mana-mana.” Sudah, cuma itu. Nenek-nenek, bahkan anak TK juga bisa bikin lagu model begituan.

Yang hebat dan super dahsyat adalah si empunya lagu, Mbah Surip. Dia hebat dan luar biasa, karena konsisten memperjuangkan apa yang dimilikinya dan “digendongnya ke mana-mana” hingga akhir hayatnya. Dia menyadari, sebagai seniman, itulah kemampuan yang dimiliki dan diperjuangkan habis-habisan dan terbukti membuahkan hasil.

Lagu kebanggannya itu telah dikenal publik di Tanah Air dan dijadikan ring back tone (RBT). Koran Kompas Rabu (5 Agustus 2009) memberitakan, sejak Februari sampai Juni 2009, lagu “Tak Gendong” telah diaktivasi sebagai RBT oleh 60.000 pelanggan Indosat. Sedangkan sejak Juni 2008, pelanggan XL yang mendownload “Tak Gendong” ada 70.000. Tak ada informasi, berapa banyak pelanggan operator lain yang juga mengunduh warisannya Mbah Surip itu.

Tidak ada informasi akurat, berapa penghasilan Mbak Surip dari RBT tersebut. Dalam berbagai kesempatan, Mbah Surip bilang mencapai miliaran rupiah dan kemudian diikuti dengan tawa, “ha … ha …. ha.”

Setelah Mbak Surip tiada, banyak orang yang biasanya penasaran dengan lagu tersebut dan menjadikannya sebagai RBT. Jika memang ini faktanya, maka Mbah Surip telah meninggalkan harta warisan yang sangat bernilai buat keluarga yang ditinggalkan.

Harta warisan wujud dari mimpinya itu dia telah perjuangkan begitu lama dengan mempertaruhkan harga diri, kewibawaan, dan fisik yang ada batasnya.

Di dalam kubur, Mbah Surip sudah tidak membawa apa-apa, karena sesuatu yang menurutnya indah dan berharga telah dicurahkannya sampai di ujung kematiannya. Itulah yang saya maksud bahwa kuburan Mbah Surip kosong.

Dia pasti lega, karena mimpinya telah dia wujudkan dengan melakukan tindakan sederhana namun tetap konsisten. Bagaimana dengan kita? Siapkah kita menggendong setiap saat mimpi-mimpi kita?***

TREND HP DIFUNGSIKAN SEBAGAI BUKU

August 3rd, 2009

KORAN Media Indonesia, Sabtu (1/8) menurunkan sebuah tulisan yang menarik. Disebutkan bahwa kehadiran media digital seperti m-book dan e-book cepat atau lambat akan mengakhiri dominasi kertas terhadap buku yang sudah berlangsung sekian lama.

Selengkapnya tulisan di Media Indonesia itu sebagai berikut: Pada masa lalu, penemuan kertas oleh bangsa China merupakan sebuah revolusi besar dalam dunia tulis-menulis. Nenek moyang kita sebelumnya menggunakan berbagai media konvensional seperti batu, kulit binatang, sutra, dan daun lontar sebagai media penulisan.

Harus diakui, hingga kini kertas masih populer digunakan sebagai media untuk mencetak buku. Namun ’status’ kertas mulai berubah. Tidak lagi dianggap sebagai media modern melainkan sudah menjadi media konvensional bahkan dianggap tak ramah lingkungan. Pasalnya, sejak manusia mulai mengenal komputer dan teknologi, media digital dianggap lebih praktis digunakan.

Lalu apakah kehadiran media digital bisa secara instan menggeser hegemoni kertas yang sudah berlangsung berabad-abad? Tentu masih butuh waktu. Tetapi cepat atau lambat, media digital dipastikan mampu mengakhiri dominasi kertas. Apalagi, implementasi media digital belakangan semakin terasa.

Itu terbukti lewat sejumlah buku yang sudah diterbitkan dalam bentuk digital. Sebagian ada yang berbasis ponsel (m-book) dan sebagian lagi berbasis komputer (e-book).

M-novel & M-komik

Di Jepang misalnya, pembelian ‘buku’ sudah mulai bermigrasi dari media kertas ke media digital sejak 2000. Sejumlah novel yang diterbitkan khusus untuk ponsel atau lebih dikenal dengan sebutan m-novel mendapat sambutan meriah dari masyarakat ‘Negeri Sakura’. Menurut Nytimes.com, salah satu di antaranya ialah m-novel berjudul Love Sky yang dibaca lebih dari 20 juta orang pengguna ponsel di Jepang. Bahkan pada 2007, lima dari sepuluh novel best-seller di Jepang menggunakan media m-novel.

Di tanah air, semangat beralih ke media digital juga tidak kalah kuat. Sejak Februari tahun lalu misalnya, penerbit Mizan telah meluncurkan m-novel dengan label Fonovela. Novel-novel tersebut bisa diunduh lewat ponsel. Tidak terlalu lama setelah itu, penulis Dewi Lestari mengikuti jejak Mizan dengan menjual novel berjudul Perahu Kertas bekerjasama dengan sebuah operator ponsel. Konon m-novel ala Dewi Lestari itu sempat diunduh 600 ribu orang pengguna ponsel dengan pemasukan milyaran rupiah.

Selain novel, sejumlah komik di Indonesia juga sudah bisa diunduh lewat ponsel atau biasa disebut m-komik. M-komik di Indonesia merupakan kerjasama sebuah operator selular dengan komunitas komik Indonesia. Sejak Februari lalu, novel Lupus, Gangway, komik strip Benny Mice juga sudah bisa dinikmati melalui layar ponsel.

Cerita yang disajikan m-novel dan m-komik sebetulnya tidak berbeda dengan cerita yang dikisahkan dalam novel konvensional. Ada kisah seputar percintaan, komedi, persahabatan dan kehidupan sehari-hari.

Kedua jenis m-book tersebut diunduh bertahap bab per bab melalui ponsel sesuai keinginan pengguna. Tarifnya beragam dari Rp 5.000 hingga Rp 10.000. Yang menarik, selama ini m-book tidak pernah mewajibkan pengguna memakai ponsel yang premium karena untuk mengunduhnya cukup memanfaatkan ponsel berfitur SMS dan JAVA. Kedua fitur tersebut hampir pasti sudah ada di semua ponsel.

Buku saya berjudul “Cara Elegan Menjadi Narsis di Facebook” kini juga sudah bisa diunduh lewat ponsel. Caranya, ketik MOB 162500384, dan kirim ke 9788. Cuma Rp 5.000 per unit.***

LOVE LOVELY

July 28th, 2009

BAPAKNYA “hanya” bekerja sebagai penjual jeruk keliling, namun sang anak yang bernama Lovely Octavionely mampu membanggakan sang bapak, sebab ia berhasil lolos, masuk ke SMA Negeri Internasional Sumatera Selatan setelah bersaing dengan anak-anak lain yang “berebut” sekolah gratis di SMA yang distandardisasi Cambridge School, Inggris tersebut.

Koran Kompas yang terbit hari ini (Selasa 28 Juli 2009) menggambarkan bagaimana kondisi orang tua Lovely yang hidup apa adanya. Keluarga Lovely tinggal di sebuah rumah kontrakan. Untuk sampai ke rumah Lovely, tamu harus menyeberangi sebuah jembatan kecil, kemudian berjalan sekitar 100 meter di sebuah lorong sempit. Praktis tidak ada perabotan di rumah tersebut.

Kondisi orang tuanya yang seperti itu tidak mematahkan semangat Lovely untuk belajar dan beprestasi. Nilai mata pelajaran Lovely waktu di SMP rata-rata 81,75. Dia juga juara III lomba hafal Alquran, juara III lomba kaligrafi, juara III lomba menyanyi, dan mewakili SMP-nya dalam lomba olimpiade fisika tingkat kota Palembang.

Banyak anak berprestasi lain yang mungkin sama dengan Lovely, tapi tidak sempat terpantau, baik oleh orang tua, sekolah, lingkungan, maupun negara. Beruntung, Lovely terdeteksi oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan Sampoerna Foundation yang menanggung biaya pendidikan Lovely.

Oleh sebab itu saya memberikan apresiasi kepada SMA yang dikelola Yayasan Usaha Peningkatan Pendidikan Teknologi (Yuppentek) Tangerang yang dipilih anak perempuan saya untuk melanjutkan studinya setelah lulus dari SMP swasta dengan NEM 33,95.

Tidak seperti sekolah swasta lain, secara rutin, sekolah ini juga memberikan beasiswa kepada para siswanya yang berprestasi. Begitu masuk ke sekolah itu, semua siswa baru wajib mengikuti test.

Belakangan saya ketahui, test itu diadakan untuk menjaring siswa-siswa pandai. Alhamdulillah, puji Tuhan, anak saya terpilih, dia mendapat peringkat ketiga, dan mendapat bonus bebas membayar uang SPP selama lima bulan. Pembebasan SPP ini berlanjut jika siswa bisa mempertahankan dan meningkatkan prestasinya. Sebuah kebijakan yang sederhana, namun sangat bermanfaat, terutama untuk memotivasi anak-anak belajar.

Sebelumnya dengan NEM sebesar itu, anak saya sempat terseok-seok saat mendaftar masuk ke SMA negeri. Setelah tersundul dari sina dan sini oleh para siswa lain yang NEM-nya lebih tinggi - nggak tahu persis NEM mereka benar-benar murni atau rekayasa - anak saya akhirnya diterima di SMAN 10 Tangerang, sekolah pilihan terakhir.

Namun begitu akan mendaftar ulang, anak saya berubah pikiran. “Nggak mau ah, sekolahannya jelek, masuk kampung,” kata anak saya. Sebuah alasan yang mengada-ada dan sulit diterima oleh orang tua.

Setelah saya minta dipertimbangkan ulang, anak saya tetap menolak mendaftar ulang ke SMA negeri dan memutuskan masuk ke SMA Yuppentek.

Seperti halnya masyarakat Tangerang, saya menganggap rendah sekolah swasta ini. Tapi begitu saya menghadiri pertemuan antara orang tua murid baru dengan pihak sekolah, Sabtu (25 Juli 2009), saya mendapatkan kesan yang sangat jauh berbeda.

Semua ruang kelas menggunakan AC. Guru mengajar dengan laptop dan infokus. Satu kelas maksimal 36 murid. Ruang tempat pertemuan kami lumayan mewah bebas makan dan rokok. Gedung atau bangunan sekolah yang terdiri dari tiga tingkat terawat dengan baik.

Kepala Sekolah YM Kodhiat menjelaskan, tak satu pun guru yang merokok. Para siswa pria tak boleh berambut gondrong; dan jika ketahuan oleh guru pengawas, langsung dipangkas di tempat. Pelajaran dimulai pukul 06.30. Tepat jam ini, pintu gerbang sekolah ditutup. Terlambat masuk, siswa disuruh pulang.

Sekolah ini terakreditasi A dan telah berstatus SMA mandiri. Mulai tahun ajaran ini sudah menerapkan moving class, artiya para siswa yang mencari kelas atau guru, bukan sebaliknya.

Pilihan anak saya ternyata tidak keliru, dan semoga dia dapat terus berprestasi di saat banyak anak segenerasinya yang sulit menghargai waktu dan ingin hidup serba instan.

Halo anak-anak, kamu pasti bisa seperti Lovely. Besyukurlah atas apa yang kamu miliki sekarang.***

TERORISKAH KITA?

July 25th, 2009

LHA kalau begitu kita bisa dong jadi teroris, atau jangan-jangan kita memang sudah jadi teroris. Setidaknya itulah “keresahan” saya setelah membaca artikel berjudul “Bom Jumat Legi” yang ditulis Sujiwo Tejo, mantan wartawan yang kini berprofesi sebagai dalang.

Di koran Kompas yang terbit hari ini (Sabtu, 25 Juli 2009), dalam artikelnya itu, Sujiwo mengungkapkan, “bom” yang tidak meledak di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz Carlton justru berefek high explosive.

Celakanya, menurut budayawan ini, bom semacam itu setiap saat meledak dan menelan korban. Pokoknya ledakan bom itu benar-benar melahirkan peristiwa yang oleh pers sering disebut sebagai “tragedi kemanusiaan.”

Memberikan contoh, Sujiwo menyebut biaya pendidikan yang jangankan gratis, murah pun teramat jauh. Efeknya, banyak SDM Indonesia andal yang karena miskin tidak bisa melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Ujung-ujungnya pengangguran ada di mana-mana dan tidak ke mana-mana (meminjam istilah Gus Dur bahwa NU adalah ormas yang netral).

Serbuan pemodal kelas kakap yang membuka “pasar” atau “toko” modern hingga menyusup ke perkampungan yang menyebabkan pedagang kecil di desa kelimpungan dan megap-megap, juga disebut Sujiwo sebagai bentuk “bom” lain yang berefek mematikan.

Singkat cerita terorisme ada di mana-mana, dan bom yang diledakkan (mungkin) low explosive, namun berefek high explosive.

Banyak definisi tentang terorisme. Yang paling umum adalah sebuah tindakan berupa ancaman atau pemaksaan kehendak dengan cara menakut-nakuti atau melakukan sesuatu yang berdampak pada trauma atau ketakutan yang mendalam kepada orang atau pihak yang dijadikan sasaran terorisme. Efek tindakan terorisme tidak saja ke fisik, tapi juga psikis.

Kalau apa yang dimaksud Sujiwo Tejo masuk dalam wilayah itu, bukankah kita masuk dalam katagori teroris? Sebagai orang tua, tanpa sadar kita sering meneror anak-anak kita dengan “sesuatu” yang menurut ukuran kita benar, padahal tidak demikian dengan anak-anak kita. Kita sering memaksa anak-anak kita agar berpikiran sama dengan apa yang kita pikirkan. Dengan kata lain kita kerap memaksa agar anak-anak memakai sepatu yang ukurannya sama dengan kaki kita. Kita tidak mau peduli saat dipakai, sepatu itu longgar atau sempit di kaki anak-anak kita.

Sebaliknya anak-anak juga sering meneror orang tuanya. Meminta sesuatu dengan prinsip “aku, kan anakmu” kepada orang tua tanpa memahami kondisi orang tua adalah bentuk teror usia dini.

Di tempat pekerjaan juga ada teror dan ledakan bom dalam bentuk yang lain. Atasan yang setiap hari berang dan membentak-bentak anak buah karena target penjualan tidak tercapai juga wujud teror dan bom yang sangat mengganggu psikis para anak buah.

Jika bentakan-bentakan, ejekan-ejekan atau ancaman itu tidak membuahkan hasil positif bagi pencapaian target dan berujung pada rasa frustrasi dan depresi kepada anak buah, maka sesungguhnya sang atasan sudah berhasil meledakkan bom bunuh diri. Bunuh diri yang saya maksud di sini adalah dia telah mematikan suara hatinya sendiri.

Sebaliknya, jika bawahan cuma bisa menuntut imbalan lebih dan mengata-ngatai pimpinannya tidak bijaksana dan tidak pantas memimpin dan sama sekali tidak memberikan solusi, maka sesunggunya anak buah semacam ini layak dijuluki sebagai teroris.

Bagaimana dengan di tempat ibadah? Jangan salah sangka, sebab bukan tidak mungkin, di sini justru banyak mbah buyut para teroris. Kalau para pemuka agama (alim ulama seperti kiai, pendeta, pastor dll) bisanya cuma menakut-nakuti jemaah dengan pengetahuan neraka dan surga, maka sesungguhnya para alim ulama itu telah menebar teror.

Apalagi kalau di tempat suci itu, mereka menebar rasa benci kepada pihak, kelompok atau golongan lain dengan berselimutkan jubah bahwa ajarannya yang paling benar, maka sesungguhnya penebar kebencian itu juga berperilaku seperti teroris.

Dalam hati kecil, saya berharap, apa yang ditulis Sujiwo Tejo dan analisis saya di atas salah besar, karena kita telah merasa menjadi malaikat!***

HAJI PONIMAN KASTURO BELAJAR BERTOBAT

July 22nd, 2009

“DIRI kita sekarang adalah produk dari apa yang kita pikirkan kemarin,” kata orang bijak. Saya kerap tidak mengerti, mengapa bobot kesuksesan setiap orang berbeda-beda. Yang juga kerap tidak saya mengerti “demi panggilan”, banyak orang melakukan “pertobatan” yang sangat revolusioner, bahkan berani untuk tidak populer dan hidup (menurut saya) tidak enak.Saya punya teman seorang bankir. Lebih dari 10 tahun yang silam dia meniti karier di sebuah bank mapan. Gaji pastinya lebih dari cukup, begitu juga masa depannya. Namun di tengah perjalanan, dia bukan hanya banting setir, tapi banting haluan. Dia memutuskan untuk mengakhiri kariernya sebagai bankir dan menekadkan menjadi pendeta.

Menjadi pendeta, lagi-lagi ini menurut cara pandang saya (belum tentu benar), tidak enak. Yang dihadapi hanya persoalan, karena harus menggembalakan jemaat yang “tuntutannya” beraneka rupa.

Pun demikian dengan apa yang saya dapatkan ketika saya memberikan pelatihan penulisan kepada para pemuka agama di kota Kebumen, Jawa Tengah saat liburan kemarin (20 Juli 2009).

Di acara itu, tanpa direncanakan — apalagi disengaja — saya bertemu dengan seorang bernama Poniman Kasturo. Usut punya usut, dia ternyada adalah adik kelas saya sewaktu kuliah di Sekolah Tinggi Publisistik (sekarang Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta).

Ah, betapa keterlaluannya saya. Dia ternyata telah berteman dengan saya di Facebook. Permohonannya untuk berteman dengan saya telah saya approval lumayan lama. Karena itu saya harus berlapang dada membenarkan apa yang dikatakannya bahwa saya sombong ketika dia berdialog dengan saya. Sorry, ya Poniman.

Berkopi darat secara tidak sengaja dengannya di Kebumen, terasa hidup ini sangat singkat dan cepat berubah. Perubahan itu begitu revolusioner. Setidaknya itulah yang saya peroleh setelah mengetahui siapa sebenarnya sosok Poniman Kasturo.

Benar kata orang bijak di awal catatan ini, diri kita sekarang adalah apa yang kita pikirkan kemarin, dan siapa kita di kemudian hari adalah apa yang kita pikirkan sekarang.

Poniman Kasturo adalah anak kampung alias “cah ndeso.” Dia dilahirkan di Desa Prembun, Kebumen, 40 tahun-an yang lalu. Selepas SMA, dia melanjutkan kuliah di STP/IISIP Jakarta. Tak sanggup bayar kuliah, karena orangtuanya tidak mampu, Poniman kemudian dipekerjakan di kampus dengan tugas aneka rupa, mulai dari urusan administrasi mahasiswa, penanggung jawab kebersihan ruangan rektor dan kantin hingga sekretaris rektor.

Nama Poniman Kasturo tentu terasa aneh di telinga para mahasiswa yang terbiasa dengan nama Johny, Robert, Albert, Rahadian dan nama-nama “impor” lainnya. Karena itu, Poniman sering diolok-olok rekan-rekannya sesama mahasiswa.

Yang saya tahu, dihadapkan dengan fakta seperti itu, Poniman Kasturo tenang-tenang saja. Olok-olok seperti itu sering dibalas dengan senyuman. Dia memang tidak banyak omong dan cenderung pendiam; atau mungkin (saat itu) rendah diri. Sesekali saya melihat dia sedang menyapu dan mengepel lantai sekretariat kampus yang lokasinya di Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

Lulus dari perguruan tinggi swasta itu, Poniman Kasturo kemudian dipercaya menjadi dosen di sini. Sempat pula mengajar di perguruan tinggi lain. Setelah itu, saya tak tahu apa yang dilakukan Poniman. Hal ihwal tentang Poniman baru saya ketahui hari Senin (20 Juli) kemarin.

Poniman sekarang bukan lagi Poniman Kasturo 20 tahun yang lalu. Dia bukan lagi sosok yang pendiam dan rendah diri. Profesi awal sebagai akademisi dia telah tinggalkan beberapa tahun silam. Profesi barunya adalah pengusaha, konsultan dan pembicara publik. Sampai sekarang dia menjabat sebagai Ketua Umum Pengembangan Kepribadian Indonesia (HIMPRI). Belum lama berselang dia juga terpilih sebagai Ketua Umum Komite Olahraga Kabupaten (KOK) Kebumen periode 2009-2012. Dia juga sudah naik haji.

Banyak perusahaan besar yang memakai jasanya sebagai konsultan untuk melakukan pelatihan pengembangan diri dan kepemimpinan. Nama boleh ndeso, tapi Poniman bangga dengan nama pemberian orang tuanya. Bersama-sama temannya asal Kebumen, dia mendirikan yayasan Poniman Center.

Lewat yayasan ini, Haji Poniman Kasturo  bermimpi masyarakat kampung halamannya sukses dan percaya diri, lalu mandiri seperti dirinya. Dia rindu masyarakat Kebumen berani berpikir positif hari ini untuk melahirkan Kebumen yang cerdas dan makmur di hari esok.

Caranya? Entahlah, biarlah Poniman Kasturo yang berpikir dan belajar. Yang pasti dia bangga menjadi cah ndeso, syukur-syukur bisa pulang kampung melalui sebuah “pertobatan.” ***

AYAM ORGANIK PONTI RENDAH LEMAK, BEBAS KIMIA

July 15th, 2009

SADAR bahwa sehat itu sangat berharga, masyarakat Indonesia, terutama yang tinggal di perkotaan belakangan ini merindukan bisa mengonsumsi makanan organik yang benar-benar bebas dari zat kimia. Namun sayangnya, selain mahal, makanan organik itu belum banyak variasinya.

Selain sayur, bahan pangan organik yang selama ini sudah dikenal masyarakat adalah beras. Belakangan daging ayam organik juga mulai diproduksi dan dijual bebas ke pasar. Tapi ya itu tadi, selain masih langka, harganya relatif masih mahal. Harga daging ayam organik di pasar swalayan berkisar Rp35.000-Rp40.000 per kilogram.

Harga makanan organik lebih mahal, sebab pada saat memproduksi dan merawat, petani maupun peternak memang memerlukan waktu dan penanganan khusus. Bukan asal sembarang memberikan makan jika sang peternak kebetulan memelihara ayam organik.

Namun Heru Wibawa, sarjana teknik kimia Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, baru-baru ini menemukan teknologi baru yang mampu memutuskan mata rantai bahwa memproduksi makanan sehat organik identik dengan mahal. Teknologi temuannya itu diberi nama Ponti.

Sementara ini Ponti — semua bahan bakunya mengandung herbal — digunakan untuk makanan ayam dan lele. Mengonsumsi Ponti, ayam broiler yang diternakkan Heru di kawasan Parung, Bogor, Jawa Barat, lebih sehat dan tahan penyakit.

Padahal, kata Heru Wibawa kepada Media Indonesia di Parung kemarin, ayam-ayam itu tidak lagi disuntik dengan vitamin-vitamin tambahan berbahan kimia layaknya yang dilakukan peternak lain.

Menunjukkan bukti, Heru mengungkapkan, belum lama ini para peternak ayam mendapatkan anak ayam (DOC) dari farming yang semuanya berkualitas tidak baik. Hampir semua peternak mengalami kasus 80% ayam mereka mati. Sedangkan ayam yang diternakkan Heru yang mengonsumsi Ponti hanya 10% yang mati.

Itulah bedanya ayam biasa dan organik. Seperti halnya ayam kampung, ayam organik memang lebih tangguh. Dengan Ponti, menurut Heru, biaya pemeliharaan untuk ayam-ayam organiknya lebih efisien. Dengan begitu, harga setiap ekor ayam yang rata-rata berberat badan 1 kg-1,2 kg, bisa ditekan cuma Rp26.000-Rp28.000.

Dengan Ponti, kadar lemak daging ayam organik yang diternakkan Heru berkurang. Tidak amis, rasa dagingnya lebih gurih daripada ayam kampung.

Heru sengaja menjual harga ayam organiknya murah, sebab dia berkepentingan masyarakat Indonesia bisa menikmati hidup sehat di tengah lingkungan yang tidak lagi bersahabat.

Oleh sebab itu, untuk sementara ini, Heru sengaja tidak memproduksi Ponti secara massal, begitu juga jumlah ayam yang diternakkan. Daging ayam organiknya juga belum dipasarkan ke pasar-pasar modern, “sebab saya tidak ingin merusak pasar,” katanya.

Supaya semua orang bisa menikmati makanan sehat, menurut Heru, pendistribusian ayam organiknya juga dilakukan dengan memanfaatkan rumah tangga untuk dijadikan agen. Dengan cara seperti ini diharapkan masyarakat Indonesia tidak saja bisa menikmati makanan sehat, tapi juga mendatangkan nilai ekonomi buat mereka.

Lele organik yang diternakkan dengan Ponti juga berbeda dengan lele yang sekarang beredar di pasar yang rasanya hambar, apalagi lele dumbo. Media Indonesia sempat menikmati makan daging lele yang diternakkan secara organik ini. Rasanya terasa unik. Ada rasa ikan gurame goreng dan belut goreng.

Namun semua produk organik itu tetap tidak akan higienis jika cara memasaknya keliru. Daging lele organik Ponti yang diproduksi Heru tetap saja bakal membawa penyakit jika warung tenda pecel lele Lamongan yang selama ini banyak menyerap lele memasaknya dengan minyak bekas.

Mengonsumsi makanan organik yang tetap higienis memang perlu sosialisasi. “Kewajiban kita untuk menjelaskan kepada masyarakat betapa pentingnya mengonsumi makanan organik,” kata Heru Wibawa.***

HASIL PILPRES DAN KAMBING HITAM

July 9th, 2009

ANDA boleh tidak suka dengan cara atau metode yang digunakan lembaga-lembaga survei dalam melakukan quick count (hitung cepat). Tapi setelah Anda mencontreng di TPS dan lalu menonton televisi yang menyiarkan perolehan suara hasil pilpres berdasarkan metode quick count, seharusnya Anda berterimakasih kepada lembaga-lembaga itu.

Terbukti lembaga itu telah membantu kita untuk mengetahui hasil pilpres lebih cepat, meskipun hasil lembaga survei yang satu dengan yang lain berbeda (sedikit).

Hingga pukul 15.30 (Rabu 8/7), hasil quick count yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) sebagaimana disiarkan TVOne, telah masuk 95,80% dengan komposisi perolehan suara untuk:
1. Pasangan SBY-Boediono (60,03%).
2. Pasangan Megawati-Prabowo (27,36%).
3. Pasangan JK-Wiranto (12,61%).

Masih pada jam yang sama, hasil penghitungan cepat yang dilakukan LP3ES sebagaimana disiarkan RCTI, telah masuk 84,30% suara dengan komposisi untuk:

1. SBY-Boediono (59,89%).
2. Megawati-Prabowo (27,61%).
3. JK-Wiranto (12,50%).

Metro TV pada jam yang sama menayangkan hasil penghitungan cepat yang dilakukan lembaga independen bentukan Metro TV sendiri. Hasilnya, 94,77% suara telah masuk, dan menempatkan pasangan SBY-Boediono di posisi teratas (58,51%), menyusul pasangan Megawati-Prabowo (26,32%); dan JK-Win (15,18%).

Anda boleh tidak suka kepada SBY. Tapi faktanya, dari hasil penghitungan cepat itu, rakyat ternyata lebih menyukai dia daripada dua pasangan calon presiden/wakil presiden yang lain.

Itu berarti — suka atau tidak suka — tampaknya pemilihan presiden (pilpres) kali ini hanya satu kali putaran. Lebih cepat ternyata memang lebih baik.

Anda boleh tidak suka kepada SBY. Faktanya, dialah yang dinilai oleh lebih dari 50% rakyat Indonesia sebagai putra terbaik bangsa yang dipercaya untuk memimpin negeri ini lima tahun ke depan.

Menjelang hari H pemungutan suara, SBY masih diterpa kampanye hitam. Selasa (7/7) malam hingga Rabu (8/7), saya masih menerima SMS yang intinya “jangan pilih SBY” dengan berbagai argumentasi yang menurut saya mengada-ada dan sulit dipercaya kebenarannya. Kalaulah saya dan banyak lainnya ‘termakan’ dengan kampanye gelap itu, maka suara saya pun akan menjadi sia-sia, sebab toh SBY tetap unggul.

Akhirnya sia-sia juga mereka yang menyebarluaskan SMS yang berisi kampanye hitam tadi. Tak apalah, pelajaran berharga buat siapa pun.

Banyak pihak, terutama lawan politiknya yang berharap SBY besar kepala menanggapi hasil penghitungan cepat yang mengantarkannya sebagai capres paling unggul.

Beruntung, SBY tidak jatuh ke wilayah itu. Ketika memberikan sambutan di Cikeas, Rabu (8/7) siang, dia hanya mengucapkan terimakasih kepada rakyat Indonesia yang telah melaksanakan haknya memilih presiden dengan baik, aman dan lancar. Dia juga minta agar rakyat bersabar menunggu hasil penghitungan suara resmi yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Menurut dia, kemenangan dan kekalahan sama mulianya.

Masyarakat tentu berharap, semua pihak menjunjung tinggi nilai kemuliaan dalam menghadapi hasil pilpres 2009 ini. Maklum, kita — terutama para elite politik — tidak terbiasa menerima kekalahan.

Mudah-mudahan tidak, pasca pilpres, mereka pasti akan mencari kambing hitam. Mudah-mudahan tidak, perkiraan saya, si kambing hitam itu adalah:

1. Daftar pemilih tetap (DPT).
2. Penggunaan KTP dan Kartu Keluarga.
3. KPU (dituding tidak profesional).
4. Proses penghitungan suara.
5. Pemerintah/aparat tidak independen.
6. Nama rangkap/pemilih ganda di DPT.
7. Money politics.

Atau alasan-alasan lain yang dikarang-karang agar karangannya didengar orang, dan orang percaya dengan karangannya, dan dipercaya bahwa dia tidak mengarang.***

PERIBAHASA DAN POLITIK PASCAPEMILU 2009

May 11th, 2009

KATA-KATA bijak dan peribahasa seharusnya bisa kita jadikan bahan pembelajaran untuk hidup. Tapi sayang, banyak yang mengabaikannya, terutama para politisi pasca-Pemilu 2009. Apa boleh buat “sesal kemudian tiada berguna.”
1. Habis manis sepah dibuang: Inilah perilaku para elite politik kita. Mereka meninggalkan rakyat yang dengan pikiran dan hati telah memilih partai mereka pada pemilu yang lalu. Eh, begitu sudah dapat, suara rakyat dijual belikan demi kekuasaan. Apes.

2. Menepuk air didulang, terpercik muka sendiri: Inilah nasib yang menimpa Soetrisno Bachir. Berlelah-lelah merawat Partai Amanat Nasional (PAN), entah sudah berapa ratus miliar kocek pribadinya keluar untuk membesarkan partai. Eh, belakangan dia nggak dianggap Amien Rais yang membuatnya malu. Dan Bachir pun bernyanyi: “Lebih baik sakit gifi daripada sakit hati.”


3. Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh:
Peribahasa ini cocok dijadikan pelajaran buat Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) yang memisahkan diri dari PDI Perjuangan. PDP berharap Pemilu 2009 bisa menyaingi PDI-P; bahkan Laksamana Sukardi yakin bisa jadi presiden. Gimana mau jadi presiden, partai ini cuma dapat suara 0,86. Nasib. Sudah nol koma, di dalam pakai berkelahi lagi. Kabar paling baru, Laksamana Sukardi memecat Roy BB Janis, tapi Janis menolak. Seru!


4. Bagai si bisu berasin, terasa ada, terkatakan tidak.
Artinya orang yang malu tidak dapat mengeluarkan isi hatinya mmeskipun tahu apa yang dikatakan. Inilah yang dilakukan sejumlah partai politik yang akan melakukan koalisi, tapi nggak juga terucapkan. Mereka cuma bilang “komunikasi politik.” Padahal di dalam hati mereka ingin berterus terang, kejarlah daku kau kutangkap. SBY juga menganut prinsip ini, dia punya mau, tapi nggak keluar juga sesuatu dari mulutnya. Salah sendiri kalau banyak orang kemudian menganggap dia nggak tegas.

5. Seperti kerbau terjebit leher dihela tanduk panjang, dilakukan badan bersih: Sepertinya ini yang dilakukan dan menimpa PDI-P. Banteng moncong putihnya bukan saja terikat lehernya, tapi juga ditanduk. Megawati inginnya tetap jadi presiden, tapi Ketua Dewan Pertimbangan PDI-P Taufik Kiemas yang suami Megawati inginnya merapat ke Partai Demokrat. Berarti Taufik dong yang nanduk. Tega benar.

6. Bagai telur di ujung tanduk: Nah, kalau urusan intern PDI-P nggak rampung-rampung juga, sangat mungkin PDI-P dalam waktu dekat ini akan berada pada posisi yang sulit. Tempo hari Partai Golkar pernah mengalaminya. Jangan-jangan posisinya juga sulit, karena temannya hanya Partai Hanura.


7. Sambil menyelam minum air:
Inilah yang dilakukan para elite politik lewat aksinya “komunikasi politik.” Berkomunikasi sambil melihat peluang dan bisik-bisik, “ada jatah menteri nggak buat gua?” Tapi kalau nggak waspada bisa kelelep. Ini arti harafiahnya peribahasa ini.


8. Umpan habis ikan tak kena:
Inilah nasib para caleg yang sudah mengeluarkan banyak uang, tapi tak dapat suara dan melenggang ke Senayan. Demikian juga partai-partai yang cuma dapat suara nol koma, seperti PDP, Partai Matahari, Partai Sarikat Indonesia, Partai Persatuan Daerah, Partai Buruh, Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia, dan sebagainya.

9. Pucuk dicinta ulam pun tiba: Nah inilah yang ditunggu-tunggu Partai Demokrat, akhirnya datang juga PDI-P ke kubu partai itu. Kenapa sih nggak dari dulu?


10.Tak ada rotan akar pun jadi:
Tampaknya ini yang dianut Wiranto. Nggak dapat posisi calon presiden, calon wapres pun nggak apa, yang penting punya peluang. Jika terpaksa nggak dapat juga, jadi menteri juga oke. Memangnya siapa yang mau pakai dia jadi menteri?

11. Gajah bertarung sama gajah, pelanduk mati di tengah: Para penggede (elite partai) berebut kekuasaan, yang terabaikan akhirnya rakyat kecil juga.


12. Bagaikan pungguk merindukan bulan:
Elite politik yang nggak tahu diri. Perolehan suara partainya nol koma atau nggak cukup, tapi tetap ingin jadi presiden.


13. Ada udang di balik batu:
Ini mah peribahasa yang paling gampang artinya. Itulah tabiat para politikus.


14. Buruk muka cermin dibelah:
Para politikus seharusnya introspeksi. Tapi mereka nggak mau pada ngaca, sebab kalau itu yang dilakukan, sangat mungkin banyak kaca cermin yang pecah berantakan. Hancur abizzz.***

SBY-PRABOWO, MUNGKINKAH?

April 13th, 2009

SITUASI politik pasca pemilu legislatif berubah detik demi detik. Dilandasi berbagai kepentingan, para tokoh yang berambisi menjadi presiden menimbang-nimbang kekuatan, siapa yang pantas dijadikan kawan dan lawan.

Di luar perkiraan — tapi ada pula yang sudah memastikan — Partai Demokrat yang memenangi pemilu legislatif dengan perolehan suara yang sangat spektakuler. Pada Pemilu 2004, partai yang dimotori Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini hanya meraih 7% suara.

Oleh sebab itu banyak pihak yang “cemburu” saat rakyat memilihnya jadi presiden lewat pemilihan langsung. Ujung-ujungnya, pemerintahannya digoyang lewat DPR, meskipun SBY sudah membentuk kabinet pelangi.

Pada pemilu yang digelar pada 9 April kemarin, partainya SBY meraih 21% suara. Itu berarti ada kenaikan 200% suara dibanding Pemilu 2004. Posisi SBY sekarang benar-benar berada di atas angin dan dialah satu-satunya tokoh yang berhak dan memenuhi syarat mencalonkan diri sebagai presiden. Keputusan akan berkoalisi dengan partai apa agar posisinya di DPR semakin kuat, sepenuhnya ada di tangannya.

Kalau kita mau kritis, Pemilu 2009 sebenarnya tetap memunculkan “persaingan” seru antara kelompok nasionalis dan agama (Islam). Kelompok nasionalis terwakili di Partai Demokrat, PDI Perjuangan, Golkar, Partai Hanura dan Partai Gerindra.

Sedangkan dari kubu Islam, direpresentasikan lewat Partai Keadilan Sejahtera, PPP, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Amanat Nasional dan Partai Bulan Bintang (PBB). Pemilih berbasiskan Islam dalam pemilu kali ini tampaknya lebih sreg menyalurkan suaranya ke PKS daripada ke PPP. PKS dianggap lebih islami daripada ke PPP atau PAN. Roh Islam di PPP dan PAN — juga PKB — dianggap semakin tidak jelas. Maka logis jika suara yang diraih PKS di Pemilu 2009 lumayan banyak.

Melihat dari suara yang masuk, mayoritas pemilih tetap menginginkan partai berpaham nasionalis kebangsaan yang tetap memimpin negeri ini. Karena itu tidak ada alasan bagi partai-partai ini untuk memecahkan diri saat menyusun koalisi guna menentukan siapa pasangan presiden dan calon presiden.

Sayang memang, partai berpayung nasionalisme kebangsaan itu tampaknya mau berjalan sendiri-sendiri atas nama dan demi gengsi untuk satu tujuan bagaimana mengalahkan SBY.

Memasang-masangkan capres dan cawapres dengan berbagai spekulasi pun belakangan ini muncul. Ada yang mengatakan, Jusuf Kalla (JK) akan “balik kandang” ke SBY melanjutkan pemerintahan yang telah dilakoni selama lima tahun. Sementara itu Megawati Soekarnoputri juga tengah melirik siapa yang layak dijadikan wapres yang diharapkan bisa membuat pemilih ragu memilih SBY pada pilpres Juli mendatang.

Harus diakui, Megawati sekarang tidak lagi populer di mata rakyat. Entah siapa yang menyuruh, ibu kita yang satu ini kalau ngomong, kok seperti ibu-ibu yang lagi ngrumpi beli sayur dan topik yang dibicarakan selalu menyudutkan SBY. Sikapnya yang seperti itu membuat banyak orang tidak bersimpati kepadanya dan mengalihkan simpatinya kepada SBY.

Belajarlah dari pengalaman, Bu. Janganlah Ibu menganut prinsip “senang melihat orang lain sedih; dan sedih melihat orang lain senang.”

Sore ini saya mendapat SMS yang isinya seperti ini: “Yang bisa mengalahkan SBY hanya Pro-Akbar (Prabowo-Akbar Tanjung) yang didukung Golkar, PDI-Perjuangan, Gerindra, Hanura, dan PPP. Kerelaan Megawati sangat penting. Tidak akan menang jika Pro-Mega atau Mega-Pro, atau Mega-JK.”

Meskipun tidak mungkin menurut akal sehat, saya bermimpi Prabowo rela bersanding dengan SBY sebagai wapres. Jika ini yang terjadi, maka duet SBY-Prabowo bakal benar-benar dahsyat.

Dalam situasi seperti sekarang, seorang tokoh negeri ini layak disebut sebagai negarawan jika dia mau dijadikan sebagai wapres. Jujur, sekarang negeri ini membutuhkan seorang negarawan yang mau merendahkan diri menjadi wapres atau orang kedua.

Bagaimana Pak Prabowo, Pak JK, Pak Wiranto, Pak Hamengku Buwono, Pak Rizal Ramli dan Ibu Megawati?

TATKALA NAMA BEKEN DITELAN ZAMAN

April 6th, 2009

JUMAT pekan lalu saya berkesempatan bertemu dengan anak-anak muda yang tergabung dalam anggota milis Indonesia Young Entrepreneur. Ceritanya, mereka berkopi darat di Sudirman FX, Jakarta.

Meskipun banyak di antaranya yang belum pernah bertatap muka, pada saat “kopi darat”, mereka tampak akrab seolah-olah pernah bertemu dan menjalin hubungan bisnis.

Pertemuan hari itu merupakan kali keempat IYE menggelar acara diskusi yang diisi dengan presentasi. Bertindak sebagai presenter dalam acara itu,
pertama adalah Bhayu yang mempresentasikan bisnis kreatifnya di bidang
desain produk dan periklanan.

Kedua, Kepra yang dalam presentasinya lebih banyak mengingatkan “adik-adiknya” agar lebih serius dalam mengelola usahanya, terutama bagaimana mempertahankan merek dan citra.

Kepra adalah praktisi periklanan yang pada tahun 1970-an pernah menjadi
pembawa acara kuis produk Ani Sumadi semasa TVRI masih berjaya.

Dalam acara kopi darat itu, Kepra mengusung judul presentasinya “Yoshua oh Yoshua.” Intinya, banyak artis di Indonesia yang umur popularitasnya tidak panjang. Siapa yang tidak kenal dengan Yoshua saat penyanyi cilik itu dipuja puji banyak orang. Tapi ketika beranjak remaja, namanya praktis menghilang. Begitu pula Chica Koeswoyo, Irni Yusnita, dan masih banyak lagi.

Dalam dunia bisnis dan entrepreneurship juga demikian. Menurut Kepra, banyak nama merek atau usaha yang dua dasawarsa lalu berkibar, sekarang tenggelam, bahkan namanya pun tidak lagi dikenal oleh generasi masa kini.

Apa yang diungkapkan Kepra mengingatkan saya akan permen pedas bermerek Davos. Permen ini dulu begitu terkenal, tapi sekarang tak lagi saya melihatnya. Entah Anda. Setelah Davos, ada merek lain Miami. Tapi usianya juga tidak lama.

Sangat mungkin kalau Jaya Suprana tidak kreatif menciptakan lembaga
pencatat rekor Indonesia (MURI), jamu cap Jago-nya juga bakal hilang ditelan zaman. Jamu Jago sekarang ini juga tak sejago dua atau tiga dasawarsa yang lalu, padahal di zamannya jamu inilah yang benar-benar
mampu menolak angin yang menyusup ke tubuh manusia.

Di dunia seni budaya, orang Jawa Tengah, khususnya Solo pernah mengenal
Wayang Orang Sriwedari. Kini grup wayang orang itu tinggal legenda, demikian pula grup Wayang Orang Barata di Senen, Jakarta. Nasib yang sama juga dialami grup wayang orang di Gris Semarang.

Grup lawak Srimulat yang legendaris itu sekarang juga tinggal nama, meskipun para pemainnya masih ada. Terakhir, anggota grup lawak asal
Surabaya ini, Timbul meninggal dunia, dan membuat pamor Srimulat semakin redup.

Kepada para anggota IYE yang masih muda-muda itu Kepra menyarankan, dalam berbisnis sebaiknya para entrepreneur tetap fokus pada usaha yang
dijalankan dan mengikuti trend. “Yah, siap-siaplah terus meremajakan diri,” katanya.

Dalam acara itu moderator milis Nico Budianto minta kepada saya untuk presentasi peluang bisnis di bidang tulis menulis. Kepada para anggota IYE saya jelaskan bahwa sekarang ini banyak orang yang butuh untuk bisa menulis atau membutuhkan seorang penulis.

Di samping itu banyak pula objek yang bisa ditulis dan dijadikan sebagai
lahan untuk berbisnis. Menulis obituari untuk orang-orang biasa (bukan tokoh publik) adalah satu di antaranya. Yang perlu dipikirkan adalah
bagaimana bentuk usaha jasa penulisan ini.***