SBY-PRABOWO, MUNGKINKAH?

SITUASI politik pasca pemilu legislatif berubah detik demi detik. Dilandasi berbagai kepentingan, para tokoh yang berambisi menjadi presiden menimbang-nimbang kekuatan, siapa yang pantas dijadikan kawan dan lawan.

Di luar perkiraan — tapi ada pula yang sudah memastikan — Partai Demokrat yang memenangi pemilu legislatif dengan perolehan suara yang sangat spektakuler. Pada Pemilu 2004, partai yang dimotori Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini hanya meraih 7% suara.

Oleh sebab itu banyak pihak yang “cemburu” saat rakyat memilihnya jadi presiden lewat pemilihan langsung. Ujung-ujungnya, pemerintahannya digoyang lewat DPR, meskipun SBY sudah membentuk kabinet pelangi.

Pada pemilu yang digelar pada 9 April kemarin, partainya SBY meraih 21% suara. Itu berarti ada kenaikan 200% suara dibanding Pemilu 2004. Posisi SBY sekarang benar-benar berada di atas angin dan dialah satu-satunya tokoh yang berhak dan memenuhi syarat mencalonkan diri sebagai presiden. Keputusan akan berkoalisi dengan partai apa agar posisinya di DPR semakin kuat, sepenuhnya ada di tangannya.

Kalau kita mau kritis, Pemilu 2009 sebenarnya tetap memunculkan “persaingan” seru antara kelompok nasionalis dan agama (Islam). Kelompok nasionalis terwakili di Partai Demokrat, PDI Perjuangan, Golkar, Partai Hanura dan Partai Gerindra.

Sedangkan dari kubu Islam, direpresentasikan lewat Partai Keadilan Sejahtera, PPP, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Amanat Nasional dan Partai Bulan Bintang (PBB). Pemilih berbasiskan Islam dalam pemilu kali ini tampaknya lebih sreg menyalurkan suaranya ke PKS daripada ke PPP. PKS dianggap lebih islami daripada ke PPP atau PAN. Roh Islam di PPP dan PAN — juga PKB — dianggap semakin tidak jelas. Maka logis jika suara yang diraih PKS di Pemilu 2009 lumayan banyak.

Melihat dari suara yang masuk, mayoritas pemilih tetap menginginkan partai berpaham nasionalis kebangsaan yang tetap memimpin negeri ini. Karena itu tidak ada alasan bagi partai-partai ini untuk memecahkan diri saat menyusun koalisi guna menentukan siapa pasangan presiden dan calon presiden.

Sayang memang, partai berpayung nasionalisme kebangsaan itu tampaknya mau berjalan sendiri-sendiri atas nama dan demi gengsi untuk satu tujuan bagaimana mengalahkan SBY.

Memasang-masangkan capres dan cawapres dengan berbagai spekulasi pun belakangan ini muncul. Ada yang mengatakan, Jusuf Kalla (JK) akan “balik kandang” ke SBY melanjutkan pemerintahan yang telah dilakoni selama lima tahun. Sementara itu Megawati Soekarnoputri juga tengah melirik siapa yang layak dijadikan wapres yang diharapkan bisa membuat pemilih ragu memilih SBY pada pilpres Juli mendatang.

Harus diakui, Megawati sekarang tidak lagi populer di mata rakyat. Entah siapa yang menyuruh, ibu kita yang satu ini kalau ngomong, kok seperti ibu-ibu yang lagi ngrumpi beli sayur dan topik yang dibicarakan selalu menyudutkan SBY. Sikapnya yang seperti itu membuat banyak orang tidak bersimpati kepadanya dan mengalihkan simpatinya kepada SBY.

Belajarlah dari pengalaman, Bu. Janganlah Ibu menganut prinsip “senang melihat orang lain sedih; dan sedih melihat orang lain senang.”

Sore ini saya mendapat SMS yang isinya seperti ini: “Yang bisa mengalahkan SBY hanya Pro-Akbar (Prabowo-Akbar Tanjung) yang didukung Golkar, PDI-Perjuangan, Gerindra, Hanura, dan PPP. Kerelaan Megawati sangat penting. Tidak akan menang jika Pro-Mega atau Mega-Pro, atau Mega-JK.”

Meskipun tidak mungkin menurut akal sehat, saya bermimpi Prabowo rela bersanding dengan SBY sebagai wapres. Jika ini yang terjadi, maka duet SBY-Prabowo bakal benar-benar dahsyat.

Dalam situasi seperti sekarang, seorang tokoh negeri ini layak disebut sebagai negarawan jika dia mau dijadikan sebagai wapres. Jujur, sekarang negeri ini membutuhkan seorang negarawan yang mau merendahkan diri menjadi wapres atau orang kedua.

Bagaimana Pak Prabowo, Pak JK, Pak Wiranto, Pak Hamengku Buwono, Pak Rizal Ramli dan Ibu Megawati?

6 Responses to “SBY-PRABOWO, MUNGKINKAH?”

  1. Hasan Haji Says:

    Kita masih mengharapkan SBY jadi Presiden, siapapun wakilnya, karena melihat tokoh yang datang ke ibu mega itu sungguh orang yang memntingkan kelompoknya saja dengan membuat orasi Pemilu Legeslatif 09 jelek, kasian tokoh2 ini, saya berdoa kepada Allah SWT bahwa selama tokoh ini hatinya jelek terhadap suatu kaum, maka Allah Tidak akan meredhoi untuk menjadi no1 di negeri ini. mari kita berkaca kediri kkita masing-masing sejak tahun 1998 negeri ini selalu buat jadi makanan mereka2 yang tidak punya hati yang bersih, mungkin SBY ini bercita2 untuk negara dan bangsa, pak probowo sudah tidak punya istri, bagaimana dg aktivitis yang di culik waktu menjadi tentara, coba dulu mikir yang mendalam agar tidak buang2 waktu

  2. valdyOK Says:

    Mas Tyo, saya sependapat dgn anda. mari kita gulirkan terus wacana ini. BTW, kemarin ada blog yg cukup lugas mengulas mengenai pasangan keduanya ini.

    http://moharifwidarto.com/2009/04/sby-prabowo-kombinasi-capres-cawapres-terbaik-untuk-indonesia-saat-ini

  3. Alvin Says:

    Nggak mungkinlah. Sebab prabowo orangnya lebih tegas ketimbang sby yg hanya mengandalkan juru bicara. Dibalik aja baru mungkin.

  4. Alvin Says:

    Kayaknya tidak mungkin. Karena model kepemimpinan sby-pro berbeda dari segi ikatan emosional, pro lebih tegas ketimbang sby.

  5. Alvin Says:

    Tidak mungkin akan terjadi duet sby-prabu. Letak perbedaannya adalah sisa dari orde baru yg diyakini masih mampu dan tegas bersuara lantang ketimbang sby yg hanya mengandalkan juru bicaranya.

  6. tere616 Says:

    Wah, andaikata itu menjadi kenyataan pasti hebat sekali. Diperlukan kebesaran hati untuk mengalah menjadi wapres dan andaikata itu terjadi, mungkin akan lahir negarawan baru.

    Ternyata ada juga yang memiliki mimpi yang serupa :-)

    Mega ? Saya pernah memilih beliau dan kecewa. Sayangnya tidak ada yang berani bicara jujur kepada beliau.

    Model kepemimpinan boleh berbeda, tetapi jika memiliki tujuan yang sama, strategi yang bisa disatukan, mengapa tidak.

    Mungkin ada baiknya ide ini digulirkan terus seperti yang disampaikan oleh valdyok

Leave a Reply