Kick Andy| Siapa yang Tidak Sempurna, Mereka atau Kita?

SIAPA yang sebenarnya tidak sempurna, kita atau mereka? Itulah pertanyaan yang selalu mengusik saya jika Kick Andy menayangkan episode yang menampilkan anak-anak “kurang sempurna” yang karena “ketidaksempurnaannya” mereka terpaksa disekolahkan di Sekolah Luar Biasa (SLB).

Kick Andy, Jumat (27 Februari) kemarin menayangkan episode berjudul “Api Nan Tak Kunjung Padam” yang siaran ulangnya ditayangkan pada Minggu siang di Metro TV. Dalam tayangan yang berdurasi 1,5 jam itu, Kick Andy menampilkan kebolehan anak didik dan berbakat yang bersekolah di SLB Negeri Semarang.

Dalam acara itu, Kick Andy juga menghadirkan Ciptono, kepala sekolah SLB itu yang pantang menyerah.dalam mendidik dan mengembangkan bakat anak-anak asuhnya yang hasilnya memang luar biasa. Anak-anak di sana, baik yang telah lulus, maupun yang masih belajar jauh lebih sempurna daripada kita. Motivasi mereka untuk menjadi pribadi-pribadi yang super jauh mengungguli kita yang telah terlena dengan hidup nyaman dan serba instan.

Keponakan perempuan saya kebetulan sedang menempuh pendidikan di SLB tersebut. Meskipun mentalnya agak terbelakang, semangatnya untuk menjadi pribadi yang menonjol patut saya acungi jempol. Keponakan saya itu pandai menari dan mudah menghafalkan setiap gerakan yang diberikan pelatihnya.

Anak-anak yang mendapat karunia Tuhan tidak seperti orang normal yang bersekolah SLB Negeri Semarang itu umumnya “menderita” (sengaja saya beri tanda kutip) tuna rungu, tuna grahita dan autis.
Lihat saja Muchtar Abas yang dihadirkan di Kick Andy. Walau tuna rungu, kemahiran Abas dalam berpantomim sungguh luar biasa. Dengan mimiknya yang ekspresif, pemuda berusia 20 tahun ini berpantomim bercerita mengenai kehidupan sehari-hari. Hingga saat ini Abas telah berpantomim menghibur penonton dari mal satu ke mal yang lain.

Cuma itu kemampuan Abas? Tidak. Menurut Ciptono, di sekolah, Abas tidak hanya belajar pantomim, melainkan juga diberikan bekal keterampilan lain seperti otomotif. Kemampuan yang kini dipunyai Abas itu dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari; dan dari aktivitasnya itu, Abas mendapatkan uang.
Wow, lihat pula Delly Meladi. Meskipun tidak bisa melihat sejak bayi, Delly lihai menyanyi dengan suara bagus. Lewat suaranya, Delly setiap malam selalu menghibur para pengunjung kafe dan rumah-rumah makan di Semarang.

“Kalau cuma gitu, siapa pun juga bisa.” Mungkin itu komentar Anda. Tapi sanggupkah Anda menghafal 650 buah lagu seperti dia, sementara lagu yang dihafal bukan lagu berbahasa Indonesia saja melainkan juga lagu dari mancanegara seperti, Jepang, Arab, India hingga Perancis? Anda bisa seperti dia? Jangankan menghafal 650 lagu, syair lagu kebangsaan “Indonesia Raya” pun jangan-jangan kita sudah lupa.

Andi Wibowo punya keunikan (kecemerlangan) lain lagi. Pemuda yang akrab disapa Bowo ini adalah tuna grahita atau menderita keterbelakangan mental alias down syndrome. Namun “ketidaksempurnaannya” bukan halangan baginya untuk meraih prestasi di bidang seni lukis.

Ah, melukis, apa susahnya? Silakan Anda berkomentar seperti itu. Tapi bisakah Anda melukis dengan cara yang dilakukan Bowo? Anak muda ini melukis dengan kedua tangannya dan melukis dua obyek sekaligus secara bersamaan. Bowo menyenangi binatang sebagai obyek lukisannya. Melalui guratan tangannya, binatang-binatang seperti harimau, kucing, ayam dan lainnya seolah hidup di atas kanvas.
Saat diminta Andy Noya, host Kick Andy, melukis, Bowo melukis pesawat terbang dan tank dengan hasil lumayan sempurna hanya dalam beberapa menit. Luar biasa!

Malam itu, Kick Andy juga menampilkan Kharisma Rizki. Bocah berusia 10 tahun ini tak bisa diam, karena mengidap autis. Bayangkan, bocah yang seolah tak acuh ketika berbicara itu mampu menghafal sekitar 250 lagu dalam berbagai bahasa.

Bukan cuma itu, Kharisma mampu menirukan sejumlah orang atau tokoh yang sedang berpidato. Dalam menirukan pidato itu, Kharisma hafal hingga titik dan komanya. Di Kick Andy, Kharisma menirukan pidato Bung Karno.

Dari fakta-fakta itu, saya bertanya di dalam hati, tidak sempurnakah mereka, atau kekurangankah mereka? Ciptono menjelaskan, setiap manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan. Tapi melihat kemampuan mereka, saya belajar introspeksi, justru sayalah yang tidak sempurna, karena tidak punya kemampuan seperti mereka.

Dalam kehidupan sehari-hari, saya - mungkin juga Anda - sering menyerah sebelum kemenangan datang. Kita kerap malas berkeringat di saat-saat damai dan akhirnya mengeluarkan banyak darah di saat perang.
Ibarat seorang prajurit yang bertempur di medan perang, kita ditangkap musuh tanpa membawa senjata apa-apa. Menurut Mario Teguh dalam acara Golden Ways di Metro TV, Minggu (1 Maret), pantang hukumnya bagi prajurit ditangkap musuh tanpa membawa senjata.

Padahal, menurut Mario Teguh, senjata itu tidak harus bedil atau sangkur, tapi juga bisa bamboo, tongkat dan sebagainya. Semangat untuk tetap berani juga bisa kita manfaatkan sebagai senjata untuk meraih kemenangan.

Celakanya, musuh yang sering menangkap kita itu adalah ketidakmauan kita untuk melakukan sesuatu. Ketidakmauan itu sering kita bungkus dengan kata “tidak bisa”. Tuhan memang Mahadil dan tidak pernah memperkenalkan kata “tidak bisa” kepada anak-anak luar biasa yang telah tampil di Kick Andy.***

4 Responses to “Kick Andy| Siapa yang Tidak Sempurna, Mereka atau Kita?”

  1. nurkhairiah Says:

    saya juga punya anak yg berusia 4,5 thn mengidap autis,sudah terapi kira2 sudah 2 tahun tapi g ada perkembangannya,bagaimana cara menanggulanginya dan bagaimana pula caranya anak saya bisa normal seperti anak yg lainnya. terima kasih

  2. cika Says:

    saya pnya sepupu tetapi baru berusia 2th dan menderita autis,namun belum bisa berjalan.
    bagamaina cara menanggulanginya?

  3. hartomo Says:

    saya juga mempunyai anak pengidap autis umur sekarang sudah 3,5 tahun,sudah saya terapi sejak setahun tanglalu tetapi belum juga ada perkembangan, dia belumbisa ngomongsamapi sekarang, kalau mau sesuatu menarik tangan saya dan menunjukkan ke arah yang di 7, kami berdomisili di Balikpapan (Kaltim), kami ingin anak kami normal, ada yang bisa memberikan solusi ?

  4. hartomo Says:

    saya juga mempunyai anak umur 4,5 tahun laki-laki yg menderita autis, sdh terapi 2 tahun tetapi hasilnya belum kelihatan, sya tertarik dgn p ciptono yg bis menggali bakat dan potensi anak autis mgkn bs berbagi pengalaman kepada kami, bagaimana biar anak kami bs normal, km tggl di bpp-kaltim. tks

Leave a Reply