Saya Orang Jawa Murtad

SEJAK nyeprot ke dunia, saya ditakdirkan sebagai orang Jawa. Bapak dan ibu saya asli orang Jawa. Tidak ada unsur dari suku lain, apalagi berbau Belanda atau Jerman, apalagi Amerika. Jadi berusaha bersolek seperti apa pun, saya tidak akan bertampang indo, lalu jadi artis sinetron.

Namun sejak kanak-kanak hingga menjelang tua bangka, kedua orang saya tidak pernah mengajari tradisi, budaya dan nilai-nilai Jawa. Paling banter, orang tua mengajari kami anak-anaknya agar menghormati orang yang lebih tua, sesuatu yang juga berlaku umum di suku-suku lain. Bahkan tata krama pergaulan internasional pun mengajari hal beginian.

Pernah suatu hari saat kami tinggal di Solo, bapak saya mengajak saya nonton wayang orang di Sriwedari. Pertunjukan belum lagi sejam, saya sudah merengek minta pulang. “Pak, mulih (pulang),” kata saya. Kalaupun saya terpaksa nonton wayang, yang saya suka adalah saat Semar, Petruk, Gareng dan Bagong keluar panggung dan membuat lawakan.

Saya suka dengan ulah punokawan itu. Selebihnya no way. Itulah sebabnya ketika duduk di sekolah dasar, saya senang membaca komik tentang Semar, Petruk, Gareng dan Bagong.

Pernah sih saya berpikir malu sebagai orang Jawa kok nggak senang nonton wayang. Saat sudah dewasa dan hidup di Jakarta, suatu kali, saya pernah memaksakan diri nonton wayang kulit dengan dalang Ki Manteb Sudharsono di Gedung Veteran Granadha (sekarang Plasa Semanggi).

Saya merasa perlu nonton Manteb Sudharsono beraksi menyabet wayangnya — dia dikenal dengan sabetannya — dengan harapan siapa tahu bisa memulihkan kejawaan saya. Tapi belum lagi dua jam Ki Manteb Sudharsono mendalang, mata saya yang nggak bisa diajak mantep. Saya tertidur, mungkin juga sampai ngiler.

Sampai sekarang saya tidak bisa berbahasa Jawa. Capek mikirnya, apalagi mempraktekkanya, karena bahasa Jawa punya tingkatan yang puncak tertingginya disebut “kromo inggil”.

Saya betul-betul orang Jawa murtad yang nggak ngerti sejarah, tata krama dan budaya Jawa. Sekali saja saya jadi “orang Jawa” saat menikah dan harus mengenakan pakaian Jawa. Tapi dalam acara pernikahan itu tidak ada sungkeman, apalagi nginjak telor dan lempar-lemparan daun sirih dengan mantan pacar saya yang sekarang berstatus istri. Maka sempurnalah kemurtadan saya sebagai orang Jawa.

Belajar dari Ki Enthus

Oleh sebab itu saya salut dengan dalang Ki Enthus Susmono yang kisahnya ditulis wartawan Kompas Siwi Nurbiajanti di korannya yang terbit Jumat (27 Februari). Ki Enthus berprestasi dan meraih banyak penghargaan karena konsisten dengan kejawaannya.

Akhir Januari lalu, karya wayang terbarunya, wayang Rai Wong atau wayang berwajah orang, dipamerkan di Museum Rotterdam, Belanda. Pameran yang rencananya berlangsung selama enam bulan itu bertajuk Wayang Superstar The Theaterworld of Ki Enthus Susmono. Pameran ini menampilkan wayang kulit dan wayang golek karya Enthus yang dimiliki Museum Tropen. Seusai pameran Juni nanti, Enthus akan mementaskan wayang kulit Rai Wong dengan lakon Dewa Ruci di Amsterdam, Dohctrect, dan Paris.

Ayah Enthus seorang dalang. Semangat Enthus untuk menggeluti dunia wayang terusik ketika ia disindir salah seorang gurunya. Saat itu ia duduk di bangku SMP Negeri 1 Tegal. Gurunya mengatakan, sebagai anak dalang kok dia tak bisa memainkan gending.

Kalau saya yang disindir seperti itu, reaksi saya paling-paling “emang gue pikirin.” Merasa tertantang, Enthus lalu mengikuti kegiatan ekstra kulikuler karawitan. Enthus dibimbing gurunya, Prasetyo. Menurut dia, ilmu dari gurunya itu yang menjadi dasar kemahirannya memainkan gamelan dan mendalang.

Selepas tamat SMP, ia melanjutkan belajar di SMAN 1 Tegal. Saat duduk di bangku SLTA inilah, ia mulai mendalang. Ini berawal dari acara lomba karya penegak pandega dalam kegiatan ekstra kulikuler pramuka.

Enthus mendalang menggunakan wayang dari batang pohon pisang, dengan gamelan ‘cangkem’ (suara mulut). Layar atau geber diikatkan pada tongkat pramuka yang dipegangi teman-temannya. Lampu untuk penerangan menggunakan obor.

Pada Februari 1984, ayahnya, Soemarjadiharja meninggal dunia. Ketika itu Enthus duduk di kelas II SMA. Kepergian sang ayah mengakibatkan ekonomi keluarga itu terseok-seok.

Enthus pun mengambil alih peran sebagai kepala keluarga, untuk menghidupi ibu dan membiayai sekolahnya. Ia juga harus menghidupi 11 anak pungut sang ayah. Jadilah dia bersekolah pada pagi hari, dan malamnya mendalang untuk mendapat penghasilan.

Nama Enthus berkibar setelah ia memenangi Festival Dalang Remaja Tingkat Jawa Tengah di Wonogiri tahun 1988. Ia juga terus berkreasi mengembangkan berbagai jenis wayang, sampai wayang Rai Wong.

Sebagai orang Jawa murtad, saya jadi malu mengetahui dedikasi dan perjuangan Ki Enthus.***

3 Responses to “Saya Orang Jawa Murtad”

  1. abinehanafi Says:

    berarti nasibnya sama dengan anak saya. wong jowo tapi gak iso ngomong jowo. sakno sampeyan.

  2. Alvin Says:

    Sy juga org medan murtad

  3. bayu prad Says:

    murtad ke arab ya mas?

Leave a Reply