John Pantau Boleh Juga
SALAH satu acara televisi yang lumayan saya sukai adalah “John Pantau” yang ditayangkan setiap hari Sabtu dan Minggu sore di Trans TV. Pasalnya, acara itu sangat “Indonesia banget”, terutama soal perilaku anggota masyarakat dalam hal mematuhi aturan.
Setiap Sabtu dan Minggu, John Pantau selalu menghadirkan hasil pantauannya dalam menangkap basah pelanggar aturan atau larangan. Pelakunya bisa anak-anak sekolah, mahasiswa, guru, dosen, anggota masyarakat biasa, bahkan aparat.
Dalam tayangan yang saya tonton baru-baru ini (Minggu 22 Februari), dengan gaya yang kocak tapi berani, John memergoki orang yang sedang merokok di tempat umum (stasiun kereta api).
Dipergoki John Pantau, sang pelaku marah-marah. Seperti biasa, orang yang tersudut (dan bersalah) selalu menncari kambing hitam dan menuding orang-orang lain di stasiun itu yang juga merokok, “tapi, kok nggak diapa-apain.”
Terus dikuntit John Pantau dan disorot kamera, si perokok makin emosi. “Kalau nggak disorot kamera, kutujah (tusuk) kau,” umpatnya kepada John Pantau. Beberapa menit kemudian si perokok menghampiri John Pantau dan berusaha memukulnya. Sebuah acara reality show yang sangat menarik. Beruntung, kepalan tinjunya tidak mengenai kepala John.
Kali lain, John Pantau menangkap basah pelanggar lalu lintas, mahasiswa yang suka mengabsenkan kawan yang bolos kuliah, murid SMA yang bawa VCD porno dan siswa SMP yang bawa HP berkamera dan di dalamnya ada gambar macam-macam.
Ini tontonan bertema kritik sosial. Menurut saya, tontonan ini merupakan cerminan sosial, itulah masyarakat kita yang sulit diajak untuk berdisiplin dan taat aturan.
Beberapa hari lalu saya sempat kesal (sebenarnya nggak boleh ya) dengan para sopir angkot. Saat kami antre di jalan raya yang sedang macet karena jalan sedang diperbaiki sehingga diberlakukan satu arah, banyak angkot yang menyalip mobil kami.
Tahulah sendiri akibatnya, lalu lintas menjadi macet total, karena kendaraan dari arah berlawanan tertutup angkot-angkot ini. Apa boleh buat saya tetrpaksa keluar dari mobil mengatur lalu lintas. Bak seorang banpol, saya pun berani menggebrak-nggebrak angkot yang coba-coba nekat mengambil jatah jalan untuk kendaraan dari arah berlawanan. Saya minta para sopir itu untuk mundur.
Setelah macet tak bergerak selama 20 menit, barulah lalu lintas mencair. Saya gemas, dalam soal beginian, orang kita sulit diatur dan maunya melanggar aturan, tak peduli orang lain.
Meskipun Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah menangkapi banyak pejabat, para abdi negara ternyata masih doyan korupsi dengan berbagai cara.
Baru-baru ini saya mendapat kabar dari teman yang sedang mengurus izin untuk melegalisasi (sertifikasi) produk baru di sebuah departemen. Berkas dokumen sudah diajukan beberapa bulan yang lampau. Tapi sampai sekarang belum juga keluar. “Mereka mengajukan dalih dengan berbagai cara, intinya mereka minta duit,” kata teman saya.
Membasmi korupsi tampaknya masih jauh dari harapan. Tak heran kalau rakyat ikut-ikutan melanggar aturan. Karena tak ada yang bisa dikorup, ya yang ada di depan matalah yang diembat.***
Dikutip dari catatan Gantyo Koespradono di Facebook.
April 7th, 2010 at 12:19 am
Blog Menarik…
…Korupsi telah lama menghantui sepakbola Asia, terutama Malaysia, Vietnam, China dan tidak terkecuali Indonesia…….