Sedahsyat Bom Nuklir, PR dan Koran Tinggal Tunggu Waktu
Catatan Gantyo Koespradono
DUNIA kini telah memasuki era Web 2.0 yang ditandai dengan fenomena Facebook dan blog yang interaktif. Dikaitkan dengan ilmu pemasaran, konsekuensinya di era seperti ini, secara alamiah, konsumen semakin mengelompok, berinteraksi secara intens satu sama lain dan berkomunitas membentuk “crowd” (kerumunan).
Munculnya web tools, seperti blog, vblog, chat, dig, coComment, internet messenger atau social networking (Facebook) telah membebaskan umat manusia untuk berkomunikasi, berinteraksi dan berbagi. Konsumen pun telah berubah menjadi “mutan” yang sama sekali berbeda dari sebelumnya.
Pakar marketing Indonesia Hermawan Kartajaya dalam berbagai kesempatan menyebut model komunikasi seperti itu sebagai komunikasi horisontal. Maka dalam hubungan antara produsen dan konsumen, pendekatan yang dilakukan seharusnya juga dengan model komunikasi seperti itu yang dalam dunia marketing disebut dengan horizontal marketing.
Yuswohady, anak buah Hermawan Kartajaya, dalam bukunya CROW Marketing Becomes Horizontal, merumuskan horisontal marketing itu dengan formula E = wMC2. Yang dimaksud dengan E adalah energi marketing yang sangat dahsyat sedahsyat bom nuklir; wM adalah word of Mouth atau rekomendasi pelanggan; sedangkan C2 (2=kuadrat) adalah customer community, baik offline maupun online.
Kalau mau sukses memasarkan sebuah produk, menurut Yuswohady, selayaknya produsen menggunakan formula seperti itu. “Energi marketing sedahsyat bom nuklir akan Anda dapatkan jika Anda mampu menggabungkan dan menyintesakan kekuatan dua elemen penting pemasaran masa depan tersebut, yaitu word of mouth (sering juga disebut evangelism atau net promoter) dan komunitas pelanggan,” tulis Yuswohady.
Lalu apa konsekuensinya jika pemasaran sebuah produk mengabaikan formula di atas? Dampaknya juga akan sedahsyat bom nuklir, tapi kali ini benar-benar mematikan. Dalam buku ini Yuswohady memberikan contoh kasus Wal-Mart di AS yang ditelanjangi warga AS lewat blog.
Ketika masih berjaya Wal-Mart punya kuasa yang sangat powerful. Peritel nomor satu di dunia ini begitu perkasa dalam mempengaruhi berbagai sendi kehidupan masyarakat AS, baik positif maupun negatif. Karena menjual produk apa pun dari deodoran, baju CD musik, komputer, hingga mobil, maka penjual apa pun di AS bersaing head to head dengannya. Wal-Mart adalah “musuh siapa pun.”
Karena ukurannya yang seperti gajah bengkak, Wal-Mart bahkan sampai mampu menekan tingkat inflasi AS melalui kebijakan “every low price”. Tapi karena kebijakan harga miring itu pula ia dikritik habis-habisan karena menekan karyawan dengan memberikan gaji yang rendah untuk membangkas biaya.
Bukan hanya itu Wal-Mart juga dituding membunuh peritel tempatnya beroperasi karena begitu gerai Wal-Mart dibuka, pelan tapi pasti, peritel-peritel lain berguguran, karena kalah bersaing. Wal-Mart juga memeras para pemasok barang agar memberikan harga semurah mungkin.
Arogansi Wal-Mart itu hancur setelah para pelanggan membangun komunitas lewat blog. Wal-Mart tak mampu bersembunyi. “Apakah dia bisa pakai topeng dan gincu agar praktek bisnis buruknya terkemas rapi kelihatan kinclong di luaran? Sama sekali tidak,” tulis Yuswohady.
Semua itu ditulis Yuswohady untuk membuktikan bahwa di saat dunia tengah masuk dalam “transformasi informasi”, pelanggan adalah segala-galanya. Dia mengibaratkan suara konsumen adalah suara Tuhan. Jika diberi perhatian, fasilitas dan dipedulikan, pelanggan juga akan menjadi salesman yang baik. Dengan kata lain pelangganlah yang meskipun tanpa dibayar mau mempromosikan sebuah produk.
Yang menarik, dalam bukunya, Yuswohady menulis, di era transformasi informasi seperti ini, para blogger memegang peranan sangat luar biasa. Dia memerkirakan Indonesia sedang berproses dan bertransformasi dari era “blog 1.0″ menuju era “blog 2.0.” Dari era blogger amatiran menuju blogger profesional.
Hugh Hewitt, orang yang dianggap sebagai pemicu munculnya blog revolution mengatakan, blog telah memicu lengsernya rezim-rezim informasi yang memonopoli penyiapan, pengolahan, dan penyajian informasi ke khalayak.
Rezim-rezim informasi yang dimaksud tidak lain adalah media konvensional, seperti surat kabar, majalah, radio dan televisi. Yuswohady menulis, penyedia informasi yang selama ini didominasi oleh media konvensional, nantinya akan tergantikan oleh miliaran - sekali lagi miliaran - blog yang ada di internet.
“Tinggal tunggu tanggal mainnya saja, media konvensional akan menghadapi kenyataan pahit tergerus oleh blog dengan sederet temannya, chat room, wikis, instant messaging, social network portal, dan media sharing,” kata Yuswohady.
Menariknya, miliaran blog itu nantinya dikelola dan dimiliki oleh individual blogger, bukan oleh perusahaan atau negara. Jangan heran, setiap individu nanti akan menjadi “wartawan” yang mencari, memasak, menyajikan dan men-sharing informasi yang ia punya ke orang lain di seluruh dunia melalui jaringan internet.
Bahkan menurut Yuswohady, bukan hanya media konvensional yang bakal mati, perusahaan public relations pun akan bernasib sama jika jobnya tetap memoles dan memberi gincu agar perusahaan-perusahaan yang menjadi kliennya tampak kinclong di luar, sementara di dalamnya busuk.***