Aura Parpol Peserta Pemilu 2009 (1): Kebanyakan!
Catatan Gantyo Koespradono
GEKA-WRITENOW: Bisakah Anda menjawab jika saya bertanya berapa jumlah partai politik (parpol) peserta Pemilu 2009? Benar, jika Anda menjawab 34 parpol. Tapi itu dulu, sebab setelah muncul gugatan, parpol yang berhak ikut Pemilu 2009 bukan lagi 34, tapi 38. Banyak orang yang bingung, sebab jumlah parpol itu memang kebanyakan!
Bukan tidak mungkin, jumlah itu pun masih berubah-ubah (siapa tahu), sebab ada tiga instansi yang punya kuasa untuk menghidupkan atau mematikan sebuah parpol, yaitu Komisi Pemilihan Umum (KPU), Mahkamah Konstitusi, dan Pengadilan (PTUN). Komentar banyak orang lagi-lagi, terserah, “emang gue pikirin!”
Survei yang dilakukan Indo Baramoter atas partai-partai politik yang berniat mengikuti Pemilihan Umum (Pemilu) 2009 mengungkapkan bahwa masyarakat Indonesia menilai jumlah parpol sekarang ini - Komisi Pemilihan Umum (KPU) memutuskan ada 34 parpol yang disetujui ikut Pemilu 2009 — terlalu banyak dan malah membingungkan.
Idealnya, menurut hasil penelitian itu, jumlah parpol peserta pemilu cukup 3-10 parpol. Lantaran terlalu banyak, menurut Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari sebagaimana dikutip banyak media massa, masyarakat sulit mengingat atau membedakan nama, tanda gambar, pimpinan, atau sikap politik antara satu parpol dan lainnya.
Jumlah parpol yang terlalu banyak seperti itu diyakini justru berdampak melemahkan kualitas pilihan masyarakat. Hasil survei yang dilakukan lembaganya menunjukkan, 73,3 persen responden mengaku sulit membedakan antara satu parpol dan parpol lainnya. Sebanyak 69 persen responden tidak merasa memiliki kedekatan dengan parpol-parpol yang ada.
Nah, dilatarbelakangi fakta-fakta itulah mengapa saya terpanggil menulis serial tulisan berjudul Aura Partai Politik Peserta Pemilu 2009.
Saya sengaja membuat judul serial tulisan seperti itu dib log ini, sebab mengacu pada survei di atas - juga berdasarkan pengamatan saya setelah berdiskusi dengan banyak orang - pamor (lebih pas jika disebut aura) parpol sekarang tidak semenarik dulu. Sepertinya masyarakat sudah alergi begitu mendengar nama sebuah parpol (mudah-mudahan asumsi saya tidak seluruhnya benar).
Bisa dimengerti, sebab faktanya selama ini parpol hanya digunakan oleh para kadernya (baca: elite partai) untuk melegitimasi kekuasaan dengan ‘memanipulasi’ suara rakyat dalam setiap ada hajatan pemilu. Setelah menang pemilu dan para elite partai duduk di lembaga legislatif atau eksekutif, mereka melupakan sama sekali rakyat yang telah mengantarkannya duduk di singgasana empuk. Ibarat permen karet, begitu manisnya habis, dengan begitu gampangnya mereka meludahkannya.
KPU secara resmi dan konstitusional pada tanggal 7 Juli 2008 lalu sudah mengumumkan 34 partai politik peserta Pemilu 2009. Konsekuensinya, itulah partai yang harus dipilih rakyat pada Pemilu 2009. Dari 34 parpol tersebut, beberapa di antaranya adalah parpol lama yang para kadernya banyak duduk di DPR, DPRD dan di pemerintahan, dan sebagian lagi parpol baru meskipun para tokohnya adalah orang-orang lama. Tapi jika kita amati, ada juga parpol yang para pengurus dan kadernya benar-benar orang baru.
Persoalan kemudian, dari 34 parpol tersebut, mana yang harus kita pilih? Siapa sesungguhnya mereka? Apa visi dan misi parpol-parpol tersebut? Apa program dan goal mereka? Bisakah mereka dipercaya untuk mengemban amanat rakyat?
Dalam rangka menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itulah mengapa saya menulis serial artikel di blog ini, sekaligus juga dikandung maksud agar pepatah “tak kenal maka tak sayang” tidak sampai menjadi kenyataan.
Lewat artikel ini, siapa tahu saya bisa ikut membantu tugas KPU - juga parpol - untuk menyosialisasikan parpol peserta Pemilu 2009. Dengan begitu partisipasi masyarakat untuk ikut pemilu dapat semakin meningkat. Fakta bahwa di berbagai ajang pemilihan kepala daerah (pilkada) banyak anggota masyarakat yang apatis dengan bersikap golongan putih (golput) jelas memprihatinkan kita semua.
Mudah-mudahan tulisan ini dapat meningkatkan partisipasi masyarakat pada Pemilu 2009, sehingga rakyat tidak lagi apatis terhadap masa depan bangsa ini yang bagaimanapun rakyatlah penentunya.***
March 19th, 2009 at 12:26 pm
Great post…..bookmarking your website…
Thanks
*blogwalking nich….mampir ke tempatq yach..*