Kick Andy dan Para Pewaris Tahta
Catatan Gantyo Koespradono
GEKA-WRITENOW (Rabu 10 Desember 2008): Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) telah menjadi harga mati. Namun banyak di antara kita yang tidak tahu, ternyata puluhan kerajaan di Indonesia sampai kini tetap eksis, meskipun tidak punya kekuasaan politik.
Masyarakat Indonesia selama ini barangkali hanya mengenal Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai satu-satunya “kerajaan” yang tersisa dan masih “diakui” oleh pemerintah Indonesia dengan Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai raja.
Kick Andy di Metro TV dalam episodenya “Para Pewaris Tahta” yang disiarkan Jumat 5 Desember lalu membuka mata sebagian besar masyarakat Indonesia bahwa kerajaan-kerajaan yang ratusan tahun lalu pernah eksis di bumi Nusantara ternyata masih ada.
Kick Andy mengangkat tema itu diilhami oleh Festival Keraton Nusantara VI yang berlangsung di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, pertengahan November 2008. Festival berlangsung di Sungguminasa, ibu kota Gowa. Pembukaan ditandai dengan kirab 2.651 prajurit dan abdi dalem dari 30 kerajaan di Nusantara yang mengenakan pakaian adat masing- masing.
Kirab diawali dengan parade 350 prajurit dan pengikut Kerajaan Gowa. Di belakangnya menyusul 300 prajurit Kerajaan Tallo, kerajaan kembaran Kerajaan Gowa. Kemudian ada rombongan prajurit Keraton Yogyakarta, Kesultanan Ternate, dan Keraton Cirebon, diikuti ribuan prajurit dari 25 keraton lain.
Dalam festival itu dipamerkan pula antara lain permata, mahkota, koin mata uang kuno, kain, keris, pedang, tombak, peti penyimpan pusaka, perabotan dari logam mulia, foto, silsilah keluarga kerajaan, kitab kuno, bendera pusaka kerajaan, dan lukisan. Pameran berlangsung di Istana Tamalate, kompleks Istana Balla Lompoa.
Penonton Kick Andy di Metro TV terkaget-kaget, selain Yogyakarta dengan Sri Sultan HB X yang berstatus raja, ternyata ada pula Kerajaan Lampung, Palembang, Bone, Deli, dan sebagainya. Kerajaan-kerajaan ini rupanya masih ada dan terus memelihara budaya dan adat istiadat yang telah dibangun ratusan tahun yang lalu.
Siapa sangka pula bahwa Lampung ternyata punya kerajaan dan sekarang punya raja yang ke-23 bernama Pangeran Edward Syah Pernong yang bangga dengan sebutan Sultan Skala Brak Yang Dipertuan ke-23. Karena kerajaan ini telah menyatu dengan NKRI, maka Kerajaan Lampung ini tidak punya kekuasaan politik, juga tidak punya wilayah (tanah), dan rakyat sendiri. Istilah rakyat telah diganti dengan kerabat.
“Sebagai anak bangsa, kita mendapat amanah untuk melestarikan warisan budaya. Kita harus ikuti aturan main yang berlaku di NKRI,” kata Edward menjawab pertanyaan host Kick Andy, Andy Noya.
Dia menjelaskan, raja zaman sekarang berbeda dengan raja zaman dulu. “Dulu raja bisa menagih pajak. Sekarang tentu tidak bisa lagi, karena kerajaan di NKRI tidak punya tanah. Raja harus bisa membangun kemampuan dalam komunitas adat agar bisa berdiri sendiri,” kata Edawrd Pernong.
Jika di Kerajaan Lampung, Edward punya jabatan raja, bagaimana dalam kehidupan sehari-hari sebagai warga negara Indonesia? Dia ternyata seorang polisi berpangkat Kombes dan punya jabatan sebagai Kapolres Jakarta Barat.
Sebagai seorang polisi, Edward pernah punya pengalaman menarik. Suatu ketika anak buahnya menangkap sekelompok penodong. Salah seorang penodong ternyata kerabat (rakyat) Kerajaan Lampung. Saat bertemu dengan Edward, tersangka penodong ini berbicara dengan bahasa adat Lampung, meminta belas kasihan Edward.
Namun Edward tidak peduli. Hukum harus tetap ditegakkan. Sebagai sesama kerabat, “di tahanan, saya sambangi dia. Saya kasih rokok,” katanya.
Kerajaan Lampung juga punya perangkat atau organisasi. Dalam hal ini Raja Edward punya seorang perdana menteri (PM) bernama Ike Edwin Gusti yang punya gelar Batin Mangkunegara. Edwin tidak lain adalah adik kandung Edward Pernong yang juga seorang polisi dan menjabat sebagai Kapolres Jakarta Pusat.
Di Kerajaan Lampung, Edwin Gusti bertugas mengurus soal keadatan. Jika ada persoalan adat yang tidak bisa diselesaikan, “saya minta petunjuk kepada raja.”
Dalam kisah kerajaan dahulu kala, sering seorang perdana menteri menggulingkan seorang raja untuk mengambil kekuasaan. “Adakah niat untuk menggulingkan raja?” Andy Noya bertanya kepada Edwin Gusti.
“Saya tidak pernah berpikir untuk menggulingkan raja. Saya sayang kepada kakanda,” jawab Edwin.
Raja Mahmud Perkasa Alam Tugasnya Bermain
Kick Andy dalam episode itu juga menghadirkan sultan termuda, yakni Tengku Mahmud Aria Lamantjiji Perkasa Alam atau Tengku Aji dari Kesultanan Deli Medan.
Dia dinobatkan sebagai Sultan Deli XIV tahun 2005, setelah ayahandanya, Sultan Deli XIII Tengku Tito Otman Mahmud Makmun Padrab meninggal dunia akibat kecelakaan pesawat militer di Lapangan Terbang Malikul Saleh, Lhoksemawe, Aceh. Saat itu Sang Sultan sedang menjalankan tugas negara sebagai tentara dalam operasi bantuan tsunami Aceh.
Meski sudah menjadi seorang sultan, Raja Mahmud Perkasa Alam tetaplah seorang anak. Saat Andy Noya bertanya, apa tugas utamanya sebagai raja? Dengan tenang Mahmud Perkasa Alam menjawab: “Bermain.”
Dia diangkat sebagai raja saat berusia 8 tahun. Tengku Mahmud Perkasa Alam lahir di Makassar 28 Agustus 1998. Hobinya membaca komik dan nonton film kartun. “Saya harus belajar dengan tekun dan punya prestasi,” jawab Tengku Mahmud saat ditanya apa harapannya ke depan.
Tengku Mahmud bercita-cita menjadi tentara dan menyatukan Nusantara. Dia bercita-cita seperti itu terilhami semangat Patih Gajah Mada. Kini Tengku Mahmud tinggal di Makassar bersama kakeknya dan duduk di kelas 5 SD Mulya Bakti.
Tengku Mahmud senang dengan pelajaran IPS. Tahukah guru-guru bahwa kamu seorang raja, tanya Andy Noya. “Saya pernah bilang ke guru bahwa saya adalah raja Deli. Mendengar ini guru saya kaget,” jawab Tengku Mahmud
Sang kakek adalah Palaguna, yang masih keturunan Raja Bone yang menurun ke ibu. “Kalau begitu kamu merasa tidak bahwa kamu raja istmewa karena keturunan dari dua raja<’ tanya Andy Noya. “Ya saya merasa,” katanya polos.
Sang bunda, Puan Hajah Siska Marabintang menjelaskan bahwa tugas seorang raja adalah mengatur tata krama dan tidak melupakan warisan leluhur.
Putra Mahkota Andi Kumala
Dalam Kick Andy hadir pula Putra Mahkota Andi Kumala Idjo dari Kerajaan Gowa. Dia dinobatkan sebagai putra mahkota, bukan raja, karena tidak ada wasiat tentang hal itu. Dia dinobatkan sebagai putra mahkota sejak 5 Mei 2006. Keluarga dan warga kerajaan harus bersepakat dulu sebelum mengangkatnya sebagai raja. Andi Kumala Idjo adalah cucu Sultan Hasanuddin.
Praktis sejak 1978 Kerajaan Gowa tidak punya raja. Gowa sendiri memiliki catatan penting dalam sejarah kerajaan di Indonesia. Buktinya dapat dilihat di Istana Balla Lampoa, yang kini menjadi museum di mana tersimpan berbagai benda pusaka dan harta benda kerajaan.
Nama dan gelar lengkap Kumala Idjo adalah Andi Kumala Ijo Daeng Sila Karaeng Lembang Parang. Namun jangan membayangkan kehidupan Pangeran Andi Kumala bergelimang kemewahan kerajaan, karena di luar statusnya sebagai raja, Andi adalah seorang pegawai negeri sipil yang bertugas di Dinas Prasarana Wilayah Kabupaten Gowa.
Selain sebagai pegawai negeri, Andi juga sempat punya jabatan di pemerintahan sebagai lurah. “Saya pernah menjabat sebagai lurah selama sembilan tahun delapan bulan,” katanya.
Ditanya tentang rakyat yang dipimpinnya, Andi Kumala Idjo mengatakan, mereka semua adalah kerabat. “Semua orang sahabat, saudara dan kerabat,” tegasnya.
Ada pula Pangeran Natanegara. Dia adalah Sultan Palembang Darussalam Iskandar Mahmud Badaruddin. Berbeda dengan kebanyakan sosok seorang sultan. Sulan yang satu ini adalah seorang pebisnis dan memimpin perusahaan keluarga. Sehari-hari dia berambut gondrong.
Dia mengaku sebelum dinobatkan sebagai sultan, sang ayah yang dulunya seorang raja sagat kaya raya, tapi bangkrut lantaran terlalu jujur.
Sebelum ditetapkan sebagai sultan, hidup Pangeran Natanegara pernah malang melintang. Dia pernah menjadi penyanyi bar. Mahmud Badaruddin mengatakan prihatin sebab 80% adat istiadat masyarakat Palembang hilang.
Peduli dengan pelestarian Kerajaan Palembang, dia menjadikan rumahnya sebagai istana kerajaan meskipun istana Kerajaan Palembang masih ada. Dia dinobatkan sebagai sultan tahun 2005. Dia juga dipercaya sebagai Ketua Asosiasi Kerajaan Indonesia.
Di mata Siswono Yudohusodo dan sejarawan Prof Dr Djoko Suryo, masih eksisnya kerajaan-kerajaan ini sangat menarik. Pasalnya, meskipun masih memelihara adat istiadat kerajaan, mereka tetap peduli kepada utuhnya NKRI.
Djoko Suryo mengatakan, mereka menjalankan tugasnya raja dan sultan di wilayahnya sebagai raja kultural, “dan ini merupakan aset budaya Nusantara yang perlu dilestarikan.***
April 13th, 2010 at 1:48 am
Ass, Yth.GEKA,
Apakah yang ditulis GEKA tentang Kick Andy Metro Tv yang ditayangkan pada tgl. 5 Desember 2008 lalu, adalah ditulis hasil dari tayangan Kick Andy ataukah GEKA turut hadir pada saat pengambilan gambar (26 Oktober 2008 lalu). Karena yang sebenarnya dari tayangan Kick Andy, 5 Desember 2008 lalu ada Raja yang tidak ditayangkan (di-edit) karena terjadi peristiwa yg sangat mengejutkan seluruh hadirin yang hadir, termasuk Presenter Kick Andy (Yth. Andy F. Noya) dan seluruh Crew serta seluruh Management Metro Tv. Maka pada hari Jum’at, 9 April 2010 dan Minggu, 11 April 2010 lalu, Kick Andy Metro Tv menayangkan Raja Samu Samu VI (yang tidak ditayangkan pada 5 Desember 2008) dimana dijelaskan oleh Presenter Kick Andy (Yth. Andy F. Noya) kepada Yth. Jaya Suprana (Tamu) serta para hadirin penonton cara tersebut dan para penoton televisi dimanapun berada. Jadi sebenarnya saat pengambilan gambar ada 5 Narasumber : 1) Sultan Muda Deli, 2) Sultan Skala Brak Lampung, 3) Raja Samu Samu VI (tidak ditayangkan), 4) Putra Mahkota Raga Gowa, dan 5) Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin Palembang. Terima kasih GEKA telah mengangkat kami dan senantiasa tetap mememlihara sejarah yang sekarang hanya sebagai peninggalan Budaya, Adat - Istiadat Bangsa dan Negara kita. Salam hormat dan terima kasih.
August 22nd, 2010 at 12:43 pm
saya rasa harus di lestarikan karna kerajaan yang ada adalah ciri khas indonesia yang berakar…dan menjadi adat budaya indonesia…dan masing2 kerjaaan harus bersatu sebagi wadah untuk mempertahankan kerajaan krn sejarah tak bisa di pingkiri…andil kerjaaan pada masa lampau sangat penting..dan bukti sejarah menyatakan bahwa banyak pihak kerjaaan yang ikut berjuang untuk indonesia…