PERIBAHASA DAN POLITIK PASCAPEMILU 2009

May 11th, 2009

KATA-KATA bijak dan peribahasa seharusnya bisa kita jadikan bahan pembelajaran untuk hidup. Tapi sayang, banyak yang mengabaikannya, terutama para politisi pasca-Pemilu 2009. Apa boleh buat “sesal kemudian tiada berguna.”
1. Habis manis sepah dibuang: Inilah perilaku para elite politik kita. Mereka meninggalkan rakyat yang dengan pikiran dan hati telah memilih partai mereka pada pemilu yang lalu. Eh, begitu sudah dapat, suara rakyat dijual belikan demi kekuasaan. Apes.

2. Menepuk air didulang, terpercik muka sendiri: Inilah nasib yang menimpa Soetrisno Bachir. Berlelah-lelah merawat Partai Amanat Nasional (PAN), entah sudah berapa ratus miliar kocek pribadinya keluar untuk membesarkan partai. Eh, belakangan dia nggak dianggap Amien Rais yang membuatnya malu. Dan Bachir pun bernyanyi: “Lebih baik sakit gifi daripada sakit hati.”


3. Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh:
Peribahasa ini cocok dijadikan pelajaran buat Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) yang memisahkan diri dari PDI Perjuangan. PDP berharap Pemilu 2009 bisa menyaingi PDI-P; bahkan Laksamana Sukardi yakin bisa jadi presiden. Gimana mau jadi presiden, partai ini cuma dapat suara 0,86. Nasib. Sudah nol koma, di dalam pakai berkelahi lagi. Kabar paling baru, Laksamana Sukardi memecat Roy BB Janis, tapi Janis menolak. Seru!


4. Bagai si bisu berasin, terasa ada, terkatakan tidak.
Artinya orang yang malu tidak dapat mengeluarkan isi hatinya mmeskipun tahu apa yang dikatakan. Inilah yang dilakukan sejumlah partai politik yang akan melakukan koalisi, tapi nggak juga terucapkan. Mereka cuma bilang “komunikasi politik.” Padahal di dalam hati mereka ingin berterus terang, kejarlah daku kau kutangkap. SBY juga menganut prinsip ini, dia punya mau, tapi nggak keluar juga sesuatu dari mulutnya. Salah sendiri kalau banyak orang kemudian menganggap dia nggak tegas.

5. Seperti kerbau terjebit leher dihela tanduk panjang, dilakukan badan bersih: Sepertinya ini yang dilakukan dan menimpa PDI-P. Banteng moncong putihnya bukan saja terikat lehernya, tapi juga ditanduk. Megawati inginnya tetap jadi presiden, tapi Ketua Dewan Pertimbangan PDI-P Taufik Kiemas yang suami Megawati inginnya merapat ke Partai Demokrat. Berarti Taufik dong yang nanduk. Tega benar.

6. Bagai telur di ujung tanduk: Nah, kalau urusan intern PDI-P nggak rampung-rampung juga, sangat mungkin PDI-P dalam waktu dekat ini akan berada pada posisi yang sulit. Tempo hari Partai Golkar pernah mengalaminya. Jangan-jangan posisinya juga sulit, karena temannya hanya Partai Hanura.


7. Sambil menyelam minum air:
Inilah yang dilakukan para elite politik lewat aksinya “komunikasi politik.” Berkomunikasi sambil melihat peluang dan bisik-bisik, “ada jatah menteri nggak buat gua?” Tapi kalau nggak waspada bisa kelelep. Ini arti harafiahnya peribahasa ini.


8. Umpan habis ikan tak kena:
Inilah nasib para caleg yang sudah mengeluarkan banyak uang, tapi tak dapat suara dan melenggang ke Senayan. Demikian juga partai-partai yang cuma dapat suara nol koma, seperti PDP, Partai Matahari, Partai Sarikat Indonesia, Partai Persatuan Daerah, Partai Buruh, Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia, dan sebagainya.

9. Pucuk dicinta ulam pun tiba: Nah inilah yang ditunggu-tunggu Partai Demokrat, akhirnya datang juga PDI-P ke kubu partai itu. Kenapa sih nggak dari dulu?


10.Tak ada rotan akar pun jadi:
Tampaknya ini yang dianut Wiranto. Nggak dapat posisi calon presiden, calon wapres pun nggak apa, yang penting punya peluang. Jika terpaksa nggak dapat juga, jadi menteri juga oke. Memangnya siapa yang mau pakai dia jadi menteri?

11. Gajah bertarung sama gajah, pelanduk mati di tengah: Para penggede (elite partai) berebut kekuasaan, yang terabaikan akhirnya rakyat kecil juga.


12. Bagaikan pungguk merindukan bulan:
Elite politik yang nggak tahu diri. Perolehan suara partainya nol koma atau nggak cukup, tapi tetap ingin jadi presiden.


13. Ada udang di balik batu:
Ini mah peribahasa yang paling gampang artinya. Itulah tabiat para politikus.


14. Buruk muka cermin dibelah:
Para politikus seharusnya introspeksi. Tapi mereka nggak mau pada ngaca, sebab kalau itu yang dilakukan, sangat mungkin banyak kaca cermin yang pecah berantakan. Hancur abizzz.***

SBY-PRABOWO, MUNGKINKAH?

April 13th, 2009

SITUASI politik pasca pemilu legislatif berubah detik demi detik. Dilandasi berbagai kepentingan, para tokoh yang berambisi menjadi presiden menimbang-nimbang kekuatan, siapa yang pantas dijadikan kawan dan lawan.

Di luar perkiraan — tapi ada pula yang sudah memastikan — Partai Demokrat yang memenangi pemilu legislatif dengan perolehan suara yang sangat spektakuler. Pada Pemilu 2004, partai yang dimotori Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini hanya meraih 7% suara.

Oleh sebab itu banyak pihak yang “cemburu” saat rakyat memilihnya jadi presiden lewat pemilihan langsung. Ujung-ujungnya, pemerintahannya digoyang lewat DPR, meskipun SBY sudah membentuk kabinet pelangi.

Pada pemilu yang digelar pada 9 April kemarin, partainya SBY meraih 21% suara. Itu berarti ada kenaikan 200% suara dibanding Pemilu 2004. Posisi SBY sekarang benar-benar berada di atas angin dan dialah satu-satunya tokoh yang berhak dan memenuhi syarat mencalonkan diri sebagai presiden. Keputusan akan berkoalisi dengan partai apa agar posisinya di DPR semakin kuat, sepenuhnya ada di tangannya.

Kalau kita mau kritis, Pemilu 2009 sebenarnya tetap memunculkan “persaingan” seru antara kelompok nasionalis dan agama (Islam). Kelompok nasionalis terwakili di Partai Demokrat, PDI Perjuangan, Golkar, Partai Hanura dan Partai Gerindra.

Sedangkan dari kubu Islam, direpresentasikan lewat Partai Keadilan Sejahtera, PPP, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Amanat Nasional dan Partai Bulan Bintang (PBB). Pemilih berbasiskan Islam dalam pemilu kali ini tampaknya lebih sreg menyalurkan suaranya ke PKS daripada ke PPP. PKS dianggap lebih islami daripada ke PPP atau PAN. Roh Islam di PPP dan PAN — juga PKB — dianggap semakin tidak jelas. Maka logis jika suara yang diraih PKS di Pemilu 2009 lumayan banyak.

Melihat dari suara yang masuk, mayoritas pemilih tetap menginginkan partai berpaham nasionalis kebangsaan yang tetap memimpin negeri ini. Karena itu tidak ada alasan bagi partai-partai ini untuk memecahkan diri saat menyusun koalisi guna menentukan siapa pasangan presiden dan calon presiden.

Sayang memang, partai berpayung nasionalisme kebangsaan itu tampaknya mau berjalan sendiri-sendiri atas nama dan demi gengsi untuk satu tujuan bagaimana mengalahkan SBY.

Memasang-masangkan capres dan cawapres dengan berbagai spekulasi pun belakangan ini muncul. Ada yang mengatakan, Jusuf Kalla (JK) akan “balik kandang” ke SBY melanjutkan pemerintahan yang telah dilakoni selama lima tahun. Sementara itu Megawati Soekarnoputri juga tengah melirik siapa yang layak dijadikan wapres yang diharapkan bisa membuat pemilih ragu memilih SBY pada pilpres Juli mendatang.

Harus diakui, Megawati sekarang tidak lagi populer di mata rakyat. Entah siapa yang menyuruh, ibu kita yang satu ini kalau ngomong, kok seperti ibu-ibu yang lagi ngrumpi beli sayur dan topik yang dibicarakan selalu menyudutkan SBY. Sikapnya yang seperti itu membuat banyak orang tidak bersimpati kepadanya dan mengalihkan simpatinya kepada SBY.

Belajarlah dari pengalaman, Bu. Janganlah Ibu menganut prinsip “senang melihat orang lain sedih; dan sedih melihat orang lain senang.”

Sore ini saya mendapat SMS yang isinya seperti ini: “Yang bisa mengalahkan SBY hanya Pro-Akbar (Prabowo-Akbar Tanjung) yang didukung Golkar, PDI-Perjuangan, Gerindra, Hanura, dan PPP. Kerelaan Megawati sangat penting. Tidak akan menang jika Pro-Mega atau Mega-Pro, atau Mega-JK.”

Meskipun tidak mungkin menurut akal sehat, saya bermimpi Prabowo rela bersanding dengan SBY sebagai wapres. Jika ini yang terjadi, maka duet SBY-Prabowo bakal benar-benar dahsyat.

Dalam situasi seperti sekarang, seorang tokoh negeri ini layak disebut sebagai negarawan jika dia mau dijadikan sebagai wapres. Jujur, sekarang negeri ini membutuhkan seorang negarawan yang mau merendahkan diri menjadi wapres atau orang kedua.

Bagaimana Pak Prabowo, Pak JK, Pak Wiranto, Pak Hamengku Buwono, Pak Rizal Ramli dan Ibu Megawati?

TATKALA NAMA BEKEN DITELAN ZAMAN

April 6th, 2009

JUMAT pekan lalu saya berkesempatan bertemu dengan anak-anak muda yang tergabung dalam anggota milis Indonesia Young Entrepreneur. Ceritanya, mereka berkopi darat di Sudirman FX, Jakarta.

Meskipun banyak di antaranya yang belum pernah bertatap muka, pada saat “kopi darat”, mereka tampak akrab seolah-olah pernah bertemu dan menjalin hubungan bisnis.

Pertemuan hari itu merupakan kali keempat IYE menggelar acara diskusi yang diisi dengan presentasi. Bertindak sebagai presenter dalam acara itu,
pertama adalah Bhayu yang mempresentasikan bisnis kreatifnya di bidang
desain produk dan periklanan.

Kedua, Kepra yang dalam presentasinya lebih banyak mengingatkan “adik-adiknya” agar lebih serius dalam mengelola usahanya, terutama bagaimana mempertahankan merek dan citra.

Kepra adalah praktisi periklanan yang pada tahun 1970-an pernah menjadi
pembawa acara kuis produk Ani Sumadi semasa TVRI masih berjaya.

Dalam acara kopi darat itu, Kepra mengusung judul presentasinya “Yoshua oh Yoshua.” Intinya, banyak artis di Indonesia yang umur popularitasnya tidak panjang. Siapa yang tidak kenal dengan Yoshua saat penyanyi cilik itu dipuja puji banyak orang. Tapi ketika beranjak remaja, namanya praktis menghilang. Begitu pula Chica Koeswoyo, Irni Yusnita, dan masih banyak lagi.

Dalam dunia bisnis dan entrepreneurship juga demikian. Menurut Kepra, banyak nama merek atau usaha yang dua dasawarsa lalu berkibar, sekarang tenggelam, bahkan namanya pun tidak lagi dikenal oleh generasi masa kini.

Apa yang diungkapkan Kepra mengingatkan saya akan permen pedas bermerek Davos. Permen ini dulu begitu terkenal, tapi sekarang tak lagi saya melihatnya. Entah Anda. Setelah Davos, ada merek lain Miami. Tapi usianya juga tidak lama.

Sangat mungkin kalau Jaya Suprana tidak kreatif menciptakan lembaga
pencatat rekor Indonesia (MURI), jamu cap Jago-nya juga bakal hilang ditelan zaman. Jamu Jago sekarang ini juga tak sejago dua atau tiga dasawarsa yang lalu, padahal di zamannya jamu inilah yang benar-benar
mampu menolak angin yang menyusup ke tubuh manusia.

Di dunia seni budaya, orang Jawa Tengah, khususnya Solo pernah mengenal
Wayang Orang Sriwedari. Kini grup wayang orang itu tinggal legenda, demikian pula grup Wayang Orang Barata di Senen, Jakarta. Nasib yang sama juga dialami grup wayang orang di Gris Semarang.

Grup lawak Srimulat yang legendaris itu sekarang juga tinggal nama, meskipun para pemainnya masih ada. Terakhir, anggota grup lawak asal
Surabaya ini, Timbul meninggal dunia, dan membuat pamor Srimulat semakin redup.

Kepada para anggota IYE yang masih muda-muda itu Kepra menyarankan, dalam berbisnis sebaiknya para entrepreneur tetap fokus pada usaha yang
dijalankan dan mengikuti trend. “Yah, siap-siaplah terus meremajakan diri,” katanya.

Dalam acara itu moderator milis Nico Budianto minta kepada saya untuk presentasi peluang bisnis di bidang tulis menulis. Kepada para anggota IYE saya jelaskan bahwa sekarang ini banyak orang yang butuh untuk bisa menulis atau membutuhkan seorang penulis.

Di samping itu banyak pula objek yang bisa ditulis dan dijadikan sebagai
lahan untuk berbisnis. Menulis obituari untuk orang-orang biasa (bukan tokoh publik) adalah satu di antaranya. Yang perlu dipikirkan adalah
bagaimana bentuk usaha jasa penulisan ini.***

JURNALISTIK DI INDONESIA KARUT MARUT?

April 3rd, 2009

Catatan Gantyo Koespradono

CATATAN saya di Facebook berjudul “Karut Marut Dunia Jurnalistik di Indonesia” mengundang banyak komentar dari teman-teman. Ada yang mendukung, tapi ada pula yang tersinggung.

Ide tulisan itu sebenarnya sangat sederhana. Berawal dari panitia seminar tentang jurnalistik Universitas Tarumanegara yang minta kepada saya untuk membawakan topik tersebut pada seminar yang akan dilangsungkan akhir bulan ini. Posisi saya menggantikan Andy Noya, host Kick Andy yang berhalangan hadir.

Setelah menambah sejumlah informasi, saya kemudian memposting catatan dengan topik itu ke teman-teman di Facebook. Di luar dugaan, catatan itu mengundang reaksi pembaca, terutama teman-teman alumni Sekolah Tinggi Publisistik (IISIP Jakarta).

Kawan lama yang selama ini entah ke mana, muncul, nimbrung memberikan komentar dan memerkaya wawasan tentang dunia jurnalistik. Teman yang kebetulan penggagas acara infotainment di televisi swasta ikutan bicara. Dia merasa terusik — juga mengaku tersinggung — dengan komentar para komentator yang mendiskreditkan acara infotainment.

Bagaimana tidak tersinggung, sebab ada teman yang berkomentar sangat keras, seperti “acara infotainment wajib dihukum seberat-beratnya dengan tidak menonton acara itu.”

Fakta dan opini

Roh atau benang merah dari diskusi di media komunikasi berbasiskan web 2.0 itu lagi-lagi menyangkut soal “fakta dan opini” yang menjadi acuan bagi para jurnalis dalam melahirkan karya jurnalistiknya.

Persoalan menjadi panjang, sebab muncul pendapat pro dan kontra, “berita-berita” selebritis yang dikemas dalam acara infotainment itu produk jurnalistik atau bukan; dan para pengumpul berita infotainment layak disebut wartawan atau bukan. Debat soal ini sampai sekarang masih berlanjut di kalangan wartawan dan lembaga-lembaga pers.

Bagi para pekerja pers di media massa arus utama, fakta adalah segala-galanya. Mazab seperti ini pulalah yang diajarkan di fakultas komunikasi (jurnalistik) — termasuk di IISIP Jakarta sejak institut ini bernama Perguruan Tinggi Publisistik — hingga sekarang.

Kepada mahasiswa di sini, saya selalu ingatkan bahwa fakta adalah segala-galanya. Saya pun mengutip pendapat alumnus perguruan tinggi ini Jakoeb Oetama (pemimpin Kompas) yang mengatakan bahwa fakta itu suci. “Jadi jangan coba-coba Anda memerkosanya,” kata saya kepada para mahasiswa.

Sebagai perbandingan, saya memberikan contoh kasus kriminal atau kejahatan yang ditangani oleh aparat penegak hukum, mulai dari polisi, jaksa hingga hakim, baik di pengadilan negeri, pengadilan tinggi, maupun Mahkamah Agung.

Para pengabdi hukum itu sebelum melanjutkan atau memutuskan perkara, selalu mengedepankan fakta dan disertai dengan barang bukti. Sebelum menemukan fakta, mereka tidak akan gegabah menyimpulkan bahwa seseorang telah melakukan kesalahan. Cara kerja seperti inilah yang kemudian dikenal di dunia jurnalistik dengan istilah “trial by the press.”

Konkretnya, jika polisi, jaksa dan hakim saja tidak sembarangan saat akan menetapkan seseorang menjadi tersangka, terdakwa atau terpidana, apalagi wartawan. Dalam menjalankan tugas jurnalistiknya, seorang wartawan harus mencari dan mengedepankan fakta. Jangan sembarangan menafsirkannya, apalagi dibumbui dengan opini sendiri. Itu haram hukumnya.

Dalam soal itu, saya selalu ingat petuah wartawan senior Indonesia Amir Daud (alm) yang berkali-kali mengingatkan kepada para muridnya, termasuk saya, bahwa wartawan yang baik adalah apabila dia mampu menunjukkan sesuatu, bukan mengatakan sesuatu.

Oleh sebab itu pulalah di setiap awal kuliah atau pada saat saya memberikan pelatihan jurnalistik, saya selalu memberikan tugas kepada mahasiswa untuk menuliskan fakta-fakta tentang apa yang dilihat dan didengarnya mulai bangun tidur hingga mengikuti kuliah pada hari itu. Faktanya, ada sementara mahasiswa yang tidak mampu menunjukkan sesuatu (fakta sebagaimana adanya). Mereka masih mencampuradukkan fakta dan opini. Opini yang mereka tulis umumnya adalah perasaan saat melihat dan mendengar peristiwa.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia memang cenderung melebih-lebihkan tentang apa yang dilihat dan didengarnya dalam berkomunikasi dengan orang lain.

Melakukan hal itu di warung kopi atau di pos ronda ala “suami-suami takut istri” memang tidak akan berdampak apa-apa. Tapi jika pesan komunikasi seperti itu tertuang di halaman-halaman surat kabar dalam bentuk berita, jelas sangat berisiko. Bisa digugat, disomasi, bahkan diserbu massa.

Dilatarbelakangi fenomena seperti itulah, insan pers mempunyai apa yang disebut dengan Kode Etik Jurnalistik (KEJ).

Pasal 3 tentang Cara Pemberitaan dan Menyatakan Pendapat, ayat (3) disebutkan: “Di dalam menyusun suatu berita, wartawan Indonesia membedakan antara kejadian (fact) dan pendapat (opini), sehingga tidak mencampurbaurkan fakta dan opini tersebut.

Intinya, fakta ya fakta, jangan coba-coba memerkosanya dengan opini atau kesimpulan wartawan. Sayang memang, tidak semua wartawan mengetahui, apalagi membacanya.***

KICK ANDY: MATI TERTAWA ALA SRIMULAT

March 17th, 2009

AHA…, Srimulat manggung lagi bukan di Taman Ria Senayan atau stasiun televisi Indosiar, tapi di Metro TV dalam acara Kick Andy yang dipandu Andy Noya, Jumat (13 Maret 2009). Tidak terasa grup lawak yang pernah amat terkenal itu telah mati suri lebih dari lima tahun.

Tampil di Kick Andy selama satu setengah jam, para anggotanya berbagi kisah tentang perjalanan mereka. Layaknya sebuah kehidupan, ada pasang naik dan surut. Mereka kini tengah berada di pasang surut.

Di saat Teguh Slamet Hardjo, pemimpin grup ini masih hidup, Srimulat pada era 70-90-an, pernah berjaya sebagai bisnis lawak Indonesia. Inilah satu-satunya grup lawak yang dikelola seperti sebuah perusahaan, karena mempunyai usaha atau cabang di empat kota: Jakarta, Semarang, Solo dan Surabaya.

Setiap cabang, Srimulat selalu melahirkan primadona atau bintang. Namun seiring dengan berjalannya waktu dan munculnya grup-grup lawak baru, Srimulat mulai keteteran, di samping adanya “konflik” di antara para anggotanya yang lazimnya ditandai dengan keluarnya anggota dari grup itu, lalu membuat grup sendiri atau bersolo karier.

Ibarat sebuah peperangan, benteng terakhir Srimulat waktu itu ada di Jakarta. Grup ini secara rutin pentas di Taman Ria Senayan. Tapi lagi-lagi, Srimulat tak mampu bertahan dan kemudian tutup. Ada yang kemudian membuat lawakan baru bahwa tutupnya Srimulat di Senayan karena grup ini tidak mampu bersaing dengan ulah para anggota DPR yang sering membuat “banyolan” politik di gedung DPR yang lokasinya juga di Senayan.

Sampai sekarang, para wakil rakyat kita di Senayan itu bahkan masih doyan membuat “dagelan-dagelan” politik yang wujudnya antara lain membanyolkan setiap proyek yang ujung-ujungnya para anggota DPR dapat “honor” yang jumlahnya hingga miliaran rupiah. Pantas, Srimulat kalah bersaing.

Lebih mengasyikkan di panggung

Apa pun yang terjadi, Srimulat adalah grup lawak yang hebat. Pada suatu hari (lupa tahunnya), saya pernah menyaksikan grup lawak itu saat manggung di Taman Ria Senayan. Nonton secara live di panggung ternyata lebih mengasyikkan ketimbang nonton lewat televisi.

Ibarat pidato, tontonan Srimulat selalu diawali dengan prolog atau pengantar yang biasanya diisi dengan musik dan ada penyanyinya. Sang penyanyi sesekali melucu lewat gerakan tubuhnya. Suara mereka bagus-bagus. Sang penyanyi umumnya menyanyikan lagu-lagu lama yang telah dikenal publik.

Kalau tidak salah ingat, waktu itu si penyanyi (perempuan) menyanyikan lagu “Saya Ini Si Gembala Sapi.” Syair lagu terkadang diplesetkan mirip lawakan grup lawak Teamlo sekarang.

Setelah lagu selesai dinyanyikan, seperti biasa, ada anggota (pelawak) Srimulat yang muncul di panggung. Klasik tapi tetap menarik, yang sering kita saksikan adalah seorang pembantu rumah tangga (PRT) yang membawa serbet sambil mengelap perabotan rumah tangga (biasanya meja dan kursi tamu). Sambil bekerja, sang PRT biasanya berbicara kepada penonton “ngrasani” (membicarakan) keburukan sang majikan.

Tetap mengundang tawa

Adegan mirip-mirip seperti itulah yang Jumat malam diperagakan Kabul (Tessy) dan Kadir saat mereka akan tampil di panggung Kick Andy. Tessy “ngrasani” Andy Noya; dan begitu Andy Noya muncul, Tessy malu. Sesuatu yang sudah sangat biasa, tapi tetap saja mengundang tawa, sebab Tessy dan Kadir punya keistimewaan tersendiri saat melakukan adegan itu.

Tessy dan Kadir adalah dua dari sekian banyak “bintang” yang dilahirkan Srimulat. Tessy selalu memerankan waria habis di Srimulat hingga grup lawak itu bubar. Sebelum Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengeluarkan “fatwa haram” sosok “bencong” yang diperankan seorang laki-laki tulen muncul di televisi, Kabul masih memerankan Tessy dalam berbagai kesempatan.

Penampilan Kabul di panggung dan televisi memang sangat ekstrem, alias Tessy banget dengan dandanan yang sepertinya tanpa perhitungan. Saat tampil di Kick Andy, Kabul mengenakan kain yang diubel-ubelkan begitu saja; dan seperti biasa, di jemarinya terpasang cincin batu sebesar telor bebek.

Apa pun dandanannya – dia mengenakan sepatu kumal — itulah Kabul. Kabul bergabung ke Srimulat sejak tahun 1979. Pada awal bergabung ke grup lawak yang didirikan oleh Teguh bersama istri pertamanya bernama Raden Ajeng Srimulat itu, Kabul belum mampu mengundang tawa penonton. “Saat saya melawak, jangankan tertawa, banyak penonton yang malah makan kacang,” katanya.

Nama Tessy sendiri adalah ungkapan spontan Kabul saat di atas panggung ketika lawan mainnya Bambang Gentholet bertanya siapa sesungguhnya namanya. Tessy adalah nama anak kandung Kabul.

Andy Noya punya kenangan tersendiri dengan Kabul saat kakak kandungnya sakit kanker dan dirawat di RS Dharmais, Jakarta. Sebelum meninggal, kakak Andy Noya mengungkapkan ingin bertemu dengan Kabul. Karena pada waktu itu Andy Noya tidak punya relasi dengan Kabul, dia minta bantuan Nico Siahaan untuk mendatangkan Kabul. Meskipun lelah karena baru saja shooting film, Kabul pada jam dua belas malam akhirnya datang juga menemui kakak Andy.

Akan halnya Kadir. Sebelum bergabung ke Srimulat tahun 1983, lelaki berkulit hitam ini adalah anggota grup kesenian tradisional di Jawa Timur. Dialah yang menggagas Srimulat melakukan reuni dan manggung di Taman Ria Senayan tahun 1995. Karakter yang dimiliki Kadir adalah dia sangat pas kalau berbicara dengan dialek Madura. Kadir sendiri berasal dari Kediri.

Punya karakter

Setiap pemain Srimulat mempunyai karakter. Kesimpulan seperti ini pulalah yang dicatat Herry Gendut Djanarto, penulis buku “Teguh Srimulat.” “Lawakannya luar biasa, begitu pula musik-musiknya,” kata Gendut.

Coba amati Nunung dan Mamiek Prakoso yang juga hadir di Kick Andy. Ceplas-ceplos Nunung tak ada yang bisa menandinginya. Kelakarnya sama dengan pelawak pria di grup itu. Menurut Nunung, hal itu bisa dilakukan, sebab di Srimulat, semua pemain sudah dianggapnya seperti saudara sendiri. Di lingkungannya yang sebagian besar laki-laki, tak segan-segan Nunung bergurau: “Ayo-ayo, buatlah aku bancaan (makanan yang dimakan bersama-sama).”

Meskipun telah mati suri, Srimulat tidak akan ditinggalkan Nunung. “Saya lahir dan besar di Srimulat. Jadi sampai kapan pun saya akan bertahan di Srimulat,” katanya menjawab pertanyaan Andy Noya.

Bahwa Srimulat sempat besar dan berjaya, siapa pun tidak ada yang bisa memungkiri, itu adalah berkat Teguh, laki-laki keturunan Tinghoa yang oleh para anggota Srimulat biasa disapa Pak Teguh.

Juju, primadona Srimulat, istri kedua Teguh menyebut suaminya itu sebagai laki-laki yang sabar dan pintar. Pak Teguh, katanya, bisa memainkan banyak alat musik. Semangat belajar Teguh juga tinggi. Waktu senggangnya selalu dimanfaatkan untuk membaca, dan dari kebiasaan membaca inilah muncul ide dan kreativitas dalam membuat cerita yang dipentaskan di panggung Srimulat. Dan jangan heran kalau dari pikirannya, Teguh mampu melahirkan episode cerita dengan judul-judul yang aneh dan unik seperti: Air Mata Gigolo, Reuni Kamar Mayat, Bila Musim Cerai Tiba, Brigade Bayi.

Karena punya keunikan dan keluarbiasaan, wajar pula kalau gaya lawakan ala Srimulat, seperti diungkapkan Polo, sering ditiru oleh grup lawak lainnya. Polo pernah tersandung kasus narkoba sebanyak dua kali; sedangkan rekannya, Gogon, yang juga tersandung kasus yang sama kini masih berada di lembaga pemasyarakatan.

Wawan dari grup lawak Teamlo mengakui terinspirasi dari Srimulat saat dia dan teman-temannya melawak lewat musik. “Srimulat telah ‘menjerumuskan’ saya masuk ke jalur komedi,” katanya.

Pengakuan serupa juga diungkapkan Thukul Arwana, pelawak dan host “Bukan Empat Mata” Trans TV. “Saya selalu menonton Srimulat. Pemain Srimulat yang sering saya tiru gayanya adalah Tarzan,” katanya.

Harap maklum, sebab ibarat makanan sebagaimana diungkap Tarzan, Srimulat adalah gudeg yang bisa dimakan oleh siapa saja. Sampai-sampai Srimulat pun diundang untuk manggung di istana saat Pak Harto masih berkuasa sebagai presiden.

Semua orang tentu berkepentingan mati suri Srimulat segera berakhir. Pasalnya, menurut Agum Gumelar, pembina Srimulat, “kita memerlukan mereka untuk menghibur kita di saat kita penat setelah bekerja keras. Kita perlu rileks dan hidup harus seimbang.” Maksudnya, tertawa itu perlu. Bahkan ada ayat dalam sebuah kitab suci yang mengatakan bahwa hati yang gembira adalah obat.***

Gantyo Koespradono dikutip dari Facebook

Sarapan dengan Tempe pun Terasa Nikmat

March 4th, 2009
TANPA sengaja, seorang teman belum lama ini membuat saya malu. Banyak kawan yang tidak rela saya diperlakukan seperti itu, termasuk istri saya.

Bagi saya, peristiwa itu justru semakin membesarkan saya, sebab saya bisa belajar dari kesalahan dan belajar untuk lebih profesional. Saya saat itu bisa saja marah atau paling tidak ganti mempermalukannya. Tapi hal itu tidak saya lakukan, sebab saya masih diberi kesempatan untuk memilih respon, melakukan hal yang sama atau sebaliknya.

Pilihan saya adalah sebaliknya, tidak melakukan apa-apa. Ingat apa yang sering dikatakan sahabat saya Arvan Pradiansyah, saya coba belajar untuk memakan makanan bergizi ke dalam pikiran saya. Artinya, peristiwa “mempermalukan” itu saya anggap sebagai materi pelajaran hidup. Lagi pula dalam peristiwa itu, saya tidak sendirian.

Namun bagi kawan yang lain, peristiwa itu rupanya masih dianggap sebagai ganjalan. Belum lama ini saya masih menerima SMS yang isinya pernyataan simpati kepada saya. “Mas, sampai hari ini, perasaanku masih resah, marah dan nggak sejahtera. Tega amat ya dia?” demikian isi SMS seorang teman.

Bingung saya mesti menjawab SMS bernada simpati itu seperti apa. Setelah merenung beberapa saat, saya balas SMS-nya seperti ini: “Ya, sudah, kita harus bisa memaafkan apa pun yang terjadi sebagai sangu (bekal) masuk surga.”

Plong. Tugas saya menyebar energi positif sudah saya lakukan. Saya berhasil mengendalikan diri untuk tidak jadi kompor yang memanas-manaskan situasi. Dalam soal ini saya jadi ingat apa yang dikatakan Mario Teguh, jika kita telah menebar kebaikan, tatkala kita ditimpa kemalangan, bahkan berbuat salah pun, pasti akan banyak orang yang membela kita. Mereka bahkan tidak percaya dengan kesalahan yang kita lakukan. Jangan habiskan waktu hanya untuk memikirkan satu-dua orang yang tidak menyukai atau mengecewakan kita, padahal di luar sana, ribuan, bahkan jutaan orang mengelu-elukan kita.

Sebelum tidur, saya masih sempat membuka Facebook. Ah, begitu baiknya teman-teman saya; mereka menulis kalimat-kalimat yang sangat menghibur dan menghapus kepenatan yang saya alami. Teman lama di kampus, Mayang Ranti – lebih dari 15 tahun tidak berjumpa – menebarkan energi positif setelah saya mengganti foto profil saya. Terimakasih Mayang.

Lalu, saya pun tidur nyenyak di malam hari. Bangun pagi, saya mendengar kicauan burung yang sangat merdu. Ah, burung-burung itu rupanya bersukaria sama dengan saya. Dedaunan di pohon-pohon bergemiricik tertiup angin seolah mengalunkan simponi yang sangat indah.

Lengkingan tukang sayur, ayam panggang yang menjajakan dagangan mereka yang biasa saya dengar amat menyebalkan, pagi ini berubah layaknya seorang penyanyi bersuara sopran, merdu sekali. Mendengar desingan pesawat udara, saya membayangkan betapa bahagia penumpang di dalamnya, karena mereka segera tiba di tujuan.

Pagi saya sarapan hanya dengan nasi, kecap, tempe dan kerupuk. Tapi, ah, betapa nikmatnya, karena semua itu masuk ke mulut saya dengan kesadaran penuh dan ungkapan rasa syukur.***

Kick Andy| Siapa yang Tidak Sempurna, Mereka atau Kita?

March 2nd, 2009

SIAPA yang sebenarnya tidak sempurna, kita atau mereka? Itulah pertanyaan yang selalu mengusik saya jika Kick Andy menayangkan episode yang menampilkan anak-anak “kurang sempurna” yang karena “ketidaksempurnaannya” mereka terpaksa disekolahkan di Sekolah Luar Biasa (SLB).

Kick Andy, Jumat (27 Februari) kemarin menayangkan episode berjudul “Api Nan Tak Kunjung Padam” yang siaran ulangnya ditayangkan pada Minggu siang di Metro TV. Dalam tayangan yang berdurasi 1,5 jam itu, Kick Andy menampilkan kebolehan anak didik dan berbakat yang bersekolah di SLB Negeri Semarang.

Dalam acara itu, Kick Andy juga menghadirkan Ciptono, kepala sekolah SLB itu yang pantang menyerah.dalam mendidik dan mengembangkan bakat anak-anak asuhnya yang hasilnya memang luar biasa. Anak-anak di sana, baik yang telah lulus, maupun yang masih belajar jauh lebih sempurna daripada kita. Motivasi mereka untuk menjadi pribadi-pribadi yang super jauh mengungguli kita yang telah terlena dengan hidup nyaman dan serba instan.

Keponakan perempuan saya kebetulan sedang menempuh pendidikan di SLB tersebut. Meskipun mentalnya agak terbelakang, semangatnya untuk menjadi pribadi yang menonjol patut saya acungi jempol. Keponakan saya itu pandai menari dan mudah menghafalkan setiap gerakan yang diberikan pelatihnya.

Anak-anak yang mendapat karunia Tuhan tidak seperti orang normal yang bersekolah SLB Negeri Semarang itu umumnya “menderita” (sengaja saya beri tanda kutip) tuna rungu, tuna grahita dan autis.
Lihat saja Muchtar Abas yang dihadirkan di Kick Andy. Walau tuna rungu, kemahiran Abas dalam berpantomim sungguh luar biasa. Dengan mimiknya yang ekspresif, pemuda berusia 20 tahun ini berpantomim bercerita mengenai kehidupan sehari-hari. Hingga saat ini Abas telah berpantomim menghibur penonton dari mal satu ke mal yang lain.

Cuma itu kemampuan Abas? Tidak. Menurut Ciptono, di sekolah, Abas tidak hanya belajar pantomim, melainkan juga diberikan bekal keterampilan lain seperti otomotif. Kemampuan yang kini dipunyai Abas itu dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari; dan dari aktivitasnya itu, Abas mendapatkan uang.
Wow, lihat pula Delly Meladi. Meskipun tidak bisa melihat sejak bayi, Delly lihai menyanyi dengan suara bagus. Lewat suaranya, Delly setiap malam selalu menghibur para pengunjung kafe dan rumah-rumah makan di Semarang.

“Kalau cuma gitu, siapa pun juga bisa.” Mungkin itu komentar Anda. Tapi sanggupkah Anda menghafal 650 buah lagu seperti dia, sementara lagu yang dihafal bukan lagu berbahasa Indonesia saja melainkan juga lagu dari mancanegara seperti, Jepang, Arab, India hingga Perancis? Anda bisa seperti dia? Jangankan menghafal 650 lagu, syair lagu kebangsaan “Indonesia Raya” pun jangan-jangan kita sudah lupa.

Andi Wibowo punya keunikan (kecemerlangan) lain lagi. Pemuda yang akrab disapa Bowo ini adalah tuna grahita atau menderita keterbelakangan mental alias down syndrome. Namun “ketidaksempurnaannya” bukan halangan baginya untuk meraih prestasi di bidang seni lukis.

Ah, melukis, apa susahnya? Silakan Anda berkomentar seperti itu. Tapi bisakah Anda melukis dengan cara yang dilakukan Bowo? Anak muda ini melukis dengan kedua tangannya dan melukis dua obyek sekaligus secara bersamaan. Bowo menyenangi binatang sebagai obyek lukisannya. Melalui guratan tangannya, binatang-binatang seperti harimau, kucing, ayam dan lainnya seolah hidup di atas kanvas.
Saat diminta Andy Noya, host Kick Andy, melukis, Bowo melukis pesawat terbang dan tank dengan hasil lumayan sempurna hanya dalam beberapa menit. Luar biasa!

Malam itu, Kick Andy juga menampilkan Kharisma Rizki. Bocah berusia 10 tahun ini tak bisa diam, karena mengidap autis. Bayangkan, bocah yang seolah tak acuh ketika berbicara itu mampu menghafal sekitar 250 lagu dalam berbagai bahasa.

Bukan cuma itu, Kharisma mampu menirukan sejumlah orang atau tokoh yang sedang berpidato. Dalam menirukan pidato itu, Kharisma hafal hingga titik dan komanya. Di Kick Andy, Kharisma menirukan pidato Bung Karno.

Dari fakta-fakta itu, saya bertanya di dalam hati, tidak sempurnakah mereka, atau kekurangankah mereka? Ciptono menjelaskan, setiap manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan. Tapi melihat kemampuan mereka, saya belajar introspeksi, justru sayalah yang tidak sempurna, karena tidak punya kemampuan seperti mereka.

Dalam kehidupan sehari-hari, saya - mungkin juga Anda - sering menyerah sebelum kemenangan datang. Kita kerap malas berkeringat di saat-saat damai dan akhirnya mengeluarkan banyak darah di saat perang.
Ibarat seorang prajurit yang bertempur di medan perang, kita ditangkap musuh tanpa membawa senjata apa-apa. Menurut Mario Teguh dalam acara Golden Ways di Metro TV, Minggu (1 Maret), pantang hukumnya bagi prajurit ditangkap musuh tanpa membawa senjata.

Padahal, menurut Mario Teguh, senjata itu tidak harus bedil atau sangkur, tapi juga bisa bamboo, tongkat dan sebagainya. Semangat untuk tetap berani juga bisa kita manfaatkan sebagai senjata untuk meraih kemenangan.

Celakanya, musuh yang sering menangkap kita itu adalah ketidakmauan kita untuk melakukan sesuatu. Ketidakmauan itu sering kita bungkus dengan kata “tidak bisa”. Tuhan memang Mahadil dan tidak pernah memperkenalkan kata “tidak bisa” kepada anak-anak luar biasa yang telah tampil di Kick Andy.***

Saya Orang Jawa Murtad

February 27th, 2009

SEJAK nyeprot ke dunia, saya ditakdirkan sebagai orang Jawa. Bapak dan ibu saya asli orang Jawa. Tidak ada unsur dari suku lain, apalagi berbau Belanda atau Jerman, apalagi Amerika. Jadi berusaha bersolek seperti apa pun, saya tidak akan bertampang indo, lalu jadi artis sinetron.

Namun sejak kanak-kanak hingga menjelang tua bangka, kedua orang saya tidak pernah mengajari tradisi, budaya dan nilai-nilai Jawa. Paling banter, orang tua mengajari kami anak-anaknya agar menghormati orang yang lebih tua, sesuatu yang juga berlaku umum di suku-suku lain. Bahkan tata krama pergaulan internasional pun mengajari hal beginian.

Pernah suatu hari saat kami tinggal di Solo, bapak saya mengajak saya nonton wayang orang di Sriwedari. Pertunjukan belum lagi sejam, saya sudah merengek minta pulang. “Pak, mulih (pulang),” kata saya. Kalaupun saya terpaksa nonton wayang, yang saya suka adalah saat Semar, Petruk, Gareng dan Bagong keluar panggung dan membuat lawakan.

Saya suka dengan ulah punokawan itu. Selebihnya no way. Itulah sebabnya ketika duduk di sekolah dasar, saya senang membaca komik tentang Semar, Petruk, Gareng dan Bagong.

Pernah sih saya berpikir malu sebagai orang Jawa kok nggak senang nonton wayang. Saat sudah dewasa dan hidup di Jakarta, suatu kali, saya pernah memaksakan diri nonton wayang kulit dengan dalang Ki Manteb Sudharsono di Gedung Veteran Granadha (sekarang Plasa Semanggi).

Saya merasa perlu nonton Manteb Sudharsono beraksi menyabet wayangnya — dia dikenal dengan sabetannya — dengan harapan siapa tahu bisa memulihkan kejawaan saya. Tapi belum lagi dua jam Ki Manteb Sudharsono mendalang, mata saya yang nggak bisa diajak mantep. Saya tertidur, mungkin juga sampai ngiler.

Sampai sekarang saya tidak bisa berbahasa Jawa. Capek mikirnya, apalagi mempraktekkanya, karena bahasa Jawa punya tingkatan yang puncak tertingginya disebut “kromo inggil”.

Saya betul-betul orang Jawa murtad yang nggak ngerti sejarah, tata krama dan budaya Jawa. Sekali saja saya jadi “orang Jawa” saat menikah dan harus mengenakan pakaian Jawa. Tapi dalam acara pernikahan itu tidak ada sungkeman, apalagi nginjak telor dan lempar-lemparan daun sirih dengan mantan pacar saya yang sekarang berstatus istri. Maka sempurnalah kemurtadan saya sebagai orang Jawa.

Belajar dari Ki Enthus

Oleh sebab itu saya salut dengan dalang Ki Enthus Susmono yang kisahnya ditulis wartawan Kompas Siwi Nurbiajanti di korannya yang terbit Jumat (27 Februari). Ki Enthus berprestasi dan meraih banyak penghargaan karena konsisten dengan kejawaannya.

Akhir Januari lalu, karya wayang terbarunya, wayang Rai Wong atau wayang berwajah orang, dipamerkan di Museum Rotterdam, Belanda. Pameran yang rencananya berlangsung selama enam bulan itu bertajuk Wayang Superstar The Theaterworld of Ki Enthus Susmono. Pameran ini menampilkan wayang kulit dan wayang golek karya Enthus yang dimiliki Museum Tropen. Seusai pameran Juni nanti, Enthus akan mementaskan wayang kulit Rai Wong dengan lakon Dewa Ruci di Amsterdam, Dohctrect, dan Paris.

Ayah Enthus seorang dalang. Semangat Enthus untuk menggeluti dunia wayang terusik ketika ia disindir salah seorang gurunya. Saat itu ia duduk di bangku SMP Negeri 1 Tegal. Gurunya mengatakan, sebagai anak dalang kok dia tak bisa memainkan gending.

Kalau saya yang disindir seperti itu, reaksi saya paling-paling “emang gue pikirin.” Merasa tertantang, Enthus lalu mengikuti kegiatan ekstra kulikuler karawitan. Enthus dibimbing gurunya, Prasetyo. Menurut dia, ilmu dari gurunya itu yang menjadi dasar kemahirannya memainkan gamelan dan mendalang.

Selepas tamat SMP, ia melanjutkan belajar di SMAN 1 Tegal. Saat duduk di bangku SLTA inilah, ia mulai mendalang. Ini berawal dari acara lomba karya penegak pandega dalam kegiatan ekstra kulikuler pramuka.

Enthus mendalang menggunakan wayang dari batang pohon pisang, dengan gamelan ‘cangkem’ (suara mulut). Layar atau geber diikatkan pada tongkat pramuka yang dipegangi teman-temannya. Lampu untuk penerangan menggunakan obor.

Pada Februari 1984, ayahnya, Soemarjadiharja meninggal dunia. Ketika itu Enthus duduk di kelas II SMA. Kepergian sang ayah mengakibatkan ekonomi keluarga itu terseok-seok.

Enthus pun mengambil alih peran sebagai kepala keluarga, untuk menghidupi ibu dan membiayai sekolahnya. Ia juga harus menghidupi 11 anak pungut sang ayah. Jadilah dia bersekolah pada pagi hari, dan malamnya mendalang untuk mendapat penghasilan.

Nama Enthus berkibar setelah ia memenangi Festival Dalang Remaja Tingkat Jawa Tengah di Wonogiri tahun 1988. Ia juga terus berkreasi mengembangkan berbagai jenis wayang, sampai wayang Rai Wong.

Sebagai orang Jawa murtad, saya jadi malu mengetahui dedikasi dan perjuangan Ki Enthus.***

John Pantau Boleh Juga

February 24th, 2009

SALAH satu acara televisi yang lumayan saya sukai adalah “John Pantau” yang ditayangkan setiap hari Sabtu dan Minggu sore di Trans TV. Pasalnya, acara itu sangat “Indonesia banget”, terutama soal perilaku anggota masyarakat dalam hal mematuhi aturan.

Setiap Sabtu dan Minggu, John Pantau selalu menghadirkan hasil pantauannya dalam menangkap basah pelanggar aturan atau larangan. Pelakunya bisa anak-anak sekolah, mahasiswa, guru, dosen, anggota masyarakat biasa, bahkan aparat.

Dalam tayangan yang saya tonton baru-baru ini (Minggu 22 Februari), dengan gaya yang kocak tapi berani, John memergoki orang yang sedang merokok di tempat umum (stasiun kereta api).

Dipergoki John Pantau, sang pelaku marah-marah. Seperti biasa, orang yang tersudut (dan bersalah) selalu menncari kambing hitam dan menuding orang-orang lain di stasiun itu yang juga merokok, “tapi, kok nggak diapa-apain.”

Terus dikuntit John Pantau dan disorot kamera, si perokok makin emosi. “Kalau nggak disorot kamera, kutujah (tusuk) kau,” umpatnya kepada John Pantau. Beberapa menit kemudian si perokok menghampiri John Pantau dan berusaha memukulnya. Sebuah acara reality show yang sangat menarik. Beruntung, kepalan tinjunya tidak mengenai kepala John.

Kali lain, John Pantau menangkap basah pelanggar lalu lintas, mahasiswa yang suka mengabsenkan kawan yang bolos kuliah, murid SMA yang bawa VCD porno dan siswa SMP yang bawa HP berkamera dan di dalamnya ada gambar macam-macam.

Ini tontonan bertema kritik sosial. Menurut saya, tontonan ini merupakan cerminan sosial, itulah masyarakat kita yang sulit diajak untuk berdisiplin dan taat aturan.

Beberapa hari lalu saya sempat kesal (sebenarnya nggak boleh ya) dengan para sopir angkot. Saat kami antre di jalan raya yang sedang macet karena jalan sedang diperbaiki sehingga diberlakukan satu arah, banyak angkot yang menyalip mobil kami.

Tahulah sendiri akibatnya, lalu lintas menjadi macet total, karena kendaraan dari arah berlawanan tertutup angkot-angkot ini. Apa boleh buat saya tetrpaksa keluar dari mobil mengatur lalu lintas. Bak seorang banpol, saya pun berani menggebrak-nggebrak angkot yang coba-coba nekat mengambil jatah jalan untuk kendaraan dari arah berlawanan. Saya minta para sopir itu untuk mundur.

Setelah macet tak bergerak selama 20 menit, barulah lalu lintas mencair. Saya gemas, dalam soal beginian, orang kita sulit diatur dan maunya melanggar aturan, tak peduli orang lain.

Meskipun Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah menangkapi banyak pejabat, para abdi negara ternyata masih doyan korupsi dengan berbagai cara.

Baru-baru ini saya mendapat kabar dari teman yang sedang mengurus izin untuk melegalisasi (sertifikasi) produk baru di sebuah departemen. Berkas dokumen sudah diajukan beberapa bulan yang lampau. Tapi sampai sekarang belum juga keluar. “Mereka mengajukan dalih dengan berbagai cara, intinya mereka minta duit,” kata teman saya.

Membasmi korupsi tampaknya masih jauh dari harapan. Tak heran kalau rakyat ikut-ikutan melanggar aturan. Karena tak ada yang bisa dikorup, ya yang ada di depan matalah yang diembat.***

Dikutip dari catatan Gantyo Koespradono di Facebook.

Sedahsyat Bom Nuklir, PR dan Koran Tinggal Tunggu Waktu

February 20th, 2009

Catatan Gantyo Koespradono

DUNIA kini telah memasuki era Web 2.0 yang ditandai dengan fenomena Facebook dan blog yang interaktif. Dikaitkan dengan ilmu pemasaran, konsekuensinya di era seperti ini, secara alamiah, konsumen semakin mengelompok, berinteraksi secara intens satu sama lain dan berkomunitas membentuk “crowd” (kerumunan).

Munculnya web tools, seperti blog, vblog, chat, dig, coComment, internet messenger atau social networking (Facebook) telah membebaskan umat manusia untuk berkomunikasi, berinteraksi dan berbagi. Konsumen pun telah berubah menjadi “mutan” yang sama sekali berbeda dari sebelumnya.

Pakar marketing Indonesia Hermawan Kartajaya dalam berbagai kesempatan menyebut model komunikasi seperti itu sebagai komunikasi horisontal. Maka dalam hubungan antara produsen dan konsumen, pendekatan yang dilakukan seharusnya juga dengan model komunikasi seperti itu yang dalam dunia marketing disebut dengan horizontal marketing.

Yuswohady, anak buah Hermawan Kartajaya, dalam bukunya CROW Marketing Becomes Horizontal, merumuskan horisontal marketing itu dengan formula E = wMC2. Yang dimaksud dengan E adalah energi marketing yang sangat dahsyat sedahsyat bom nuklir; wM adalah word of Mouth atau rekomendasi pelanggan; sedangkan C2 (2=kuadrat) adalah customer community, baik offline maupun online.

Kalau mau sukses memasarkan sebuah produk, menurut Yuswohady, selayaknya produsen menggunakan formula seperti itu. “Energi marketing sedahsyat bom nuklir akan Anda dapatkan jika Anda mampu menggabungkan dan menyintesakan kekuatan dua elemen penting pemasaran masa depan tersebut, yaitu word of mouth (sering juga disebut evangelism atau net promoter) dan komunitas pelanggan,” tulis Yuswohady.

Lalu apa konsekuensinya jika pemasaran sebuah produk mengabaikan formula di atas? Dampaknya juga akan sedahsyat bom nuklir, tapi kali ini benar-benar mematikan. Dalam buku ini Yuswohady memberikan contoh kasus Wal-Mart di AS yang ditelanjangi warga AS lewat blog.

Ketika masih berjaya Wal-Mart punya kuasa yang sangat powerful. Peritel nomor satu di dunia ini begitu perkasa dalam mempengaruhi berbagai sendi kehidupan masyarakat AS, baik positif maupun negatif. Karena menjual produk apa pun dari deodoran, baju CD musik, komputer, hingga mobil, maka penjual apa pun di AS bersaing head to head dengannya. Wal-Mart adalah “musuh siapa pun.”

Karena ukurannya yang seperti gajah bengkak, Wal-Mart bahkan sampai mampu menekan tingkat inflasi AS melalui kebijakan “every low price”. Tapi karena kebijakan harga miring itu pula ia dikritik habis-habisan karena menekan karyawan dengan memberikan gaji yang rendah untuk membangkas biaya.

Bukan hanya itu Wal-Mart juga dituding membunuh peritel tempatnya beroperasi karena begitu gerai Wal-Mart dibuka, pelan tapi pasti, peritel-peritel lain berguguran, karena kalah bersaing. Wal-Mart juga memeras para pemasok barang agar memberikan harga semurah mungkin.

Arogansi Wal-Mart itu hancur setelah para pelanggan membangun komunitas lewat blog. Wal-Mart tak mampu bersembunyi. “Apakah dia bisa pakai topeng dan gincu agar praktek bisnis buruknya terkemas rapi kelihatan kinclong di luaran? Sama sekali tidak,” tulis Yuswohady.

Semua itu ditulis Yuswohady untuk membuktikan bahwa di saat dunia tengah masuk dalam “transformasi informasi”, pelanggan adalah segala-galanya. Dia mengibaratkan suara konsumen adalah suara Tuhan. Jika diberi perhatian, fasilitas dan dipedulikan, pelanggan juga akan menjadi salesman yang baik. Dengan kata lain pelangganlah yang meskipun tanpa dibayar mau mempromosikan sebuah produk.

Yang menarik, dalam bukunya, Yuswohady menulis, di era transformasi informasi seperti ini, para blogger memegang peranan sangat luar biasa. Dia memerkirakan Indonesia sedang berproses dan bertransformasi dari era “blog 1.0″ menuju era “blog 2.0.” Dari era blogger amatiran menuju blogger profesional.

Hugh Hewitt, orang yang dianggap sebagai pemicu munculnya blog revolution mengatakan, blog telah memicu lengsernya rezim-rezim informasi yang memonopoli penyiapan, pengolahan, dan penyajian informasi ke khalayak.

Rezim-rezim informasi yang dimaksud tidak lain adalah media konvensional, seperti surat kabar, majalah, radio dan televisi. Yuswohady menulis, penyedia informasi yang selama ini didominasi oleh media konvensional, nantinya akan tergantikan oleh miliaran - sekali lagi miliaran - blog yang ada di internet.

“Tinggal tunggu tanggal mainnya saja, media konvensional akan menghadapi kenyataan pahit tergerus oleh blog dengan sederet temannya, chat room, wikis, instant messaging, social network portal, dan media sharing,” kata Yuswohady.

Menariknya, miliaran blog itu nantinya dikelola dan dimiliki oleh individual blogger, bukan oleh perusahaan atau negara. Jangan heran, setiap individu nanti akan menjadi “wartawan” yang mencari, memasak, menyajikan dan men-sharing informasi yang ia punya ke orang lain di seluruh dunia melalui jaringan internet.

Bahkan menurut Yuswohady, bukan hanya media konvensional yang bakal mati, perusahaan public relations pun akan bernasib sama jika jobnya tetap memoles dan memberi gincu agar perusahaan-perusahaan yang menjadi kliennya tampak kinclong di luar, sementara di dalamnya busuk.***