SUARA DARI GEREJA TROTOAR

August 25th, 2010

Catatan: Gantyo Koespradono

PAGI ini (Rabu 25 Agustus 2010), masuk ke redaksi Media Indonesia, siaran pers dari Majelis Jemaat Gereja Kristen Indonesia “Trotoar” yang beralamat di Jl Pengadilan 35, Bogor. Isinya berupa “keluhan” betapa tidak leluasanya beribadah di bumi pertiwi, Indonesia.

GKI “Trotoar”. Ya, inilah nama baru gereja di saat Penyatuan Gereja Kristen Indonesia (GKI) telah berusia 22 tahun pada Minggu 22 Agustus tersebut. Istilah trotoar diambil, karena jemaah ini sudah untuk ke-10 kalinya beribadah di trotoar Jl KH Abdullah bin Nuh, Taman Yasmin, Bogor.

Setiap dua minggu sekali jemaah gereja itu beribadah dengan cara “lesehan”. Pasalnya gedung gereja yang biasa dipakai untuk beribadah sejak beberapa bulan lalu disegel dan digembok oleh Pemerintah  Kota  Bogor, padahal “gereja kami secara sah telah mendapatkan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) rumah ibadah,” kata Ketua Umum Majelis GKI Jl Pengadilan 35 Bogor, Pdt Ujang Tanusaputra dan Sekretaris Umum Pdt Esakatri Parahita.

Soal, sengketa, kasus (atau entah apa namanya) keberadaan bangunan gereja itu sebenarnya sudah masuk ranah hukum. Para hakim Pengadilan Tata Usaha Negara telah membuat keputusan bahwa keberadaan gereja itu secara hukum sah. Tapi Pemkot Bogor menutup telinga, mata dan hati dengan keputusan tersebut dan entah dipengaruhi oleh kekuatan apa (iblis atau makhluk lain?) tetap menutup gereja tersebut. Aneh bukan? Orang mau bertemu Tuhan secara formal, kok dilarang.

“Enam  puluh  lima  tahun  setelah  negeri ini merdeka, kemerdekaan beribadah justru dirampas dari kami, umat yang dicap sebagai kelompok minoritas yang karenanya dianggap tidak patut dengan bebas beribada di negeri kami sendiri sesuai dengan keyakinan    dan iman kami,” begitu ungkapan hati jemaah gereja tersebut yang diwakili Ujang Tanusaputra dan Esakatri Parahita.

Dari trotoar sebuah jalan di kota hujan, jemaat GKI Jl Pengadilan 35, Bakal Pos Taman Yasmin Bogor, bersama-sama dengan seluruh umat  Kristiani di negeri ini mengingatkan pemerintah bahwa umat Kristen di seluruh Indonesia adalah warga negara yang sejak awal masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, bahu membahu dengan saudara-saudaranya sebangsa dan setanah air dari beragam agama dan kepercayaan yang berbeda, merebut, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan rumah bersama kita, Indonesia.

Pdt Ujang Tanusaputra dan Pdt Esakatri Parahita mengingatkan, tokoh-tokoh nasional seperti A.A. Maramis, Mgr. A. Soegiopranoto, Dr    Leimena, Alex Kawilarang, GSSJ  Ratulangi,  Marsda TNI  Agustinus Adisucipto,    Ignatius Slamet Riyadi, T.B. Simatupang, hanyalah sedikit dari sekian banyak tokoh Kristen yang telah memberikan diri, karya hidup dan bahkan nyawanya bagi tegaknya Republik Indonesia.

Siapa pula di Republik ini yang tidak mengenal lagu-lagu perjuangan seperti “Bangun Pemudi  Pemuda”  dan    “Maju    Tak  Gentar”  yang  dinyanyikan  di  setiap  peringatan kemerdekaan,  yang  lahir  dari    dua  komponis  nasional  beragama  Kristen,  Alfred imanjuntak dan Cornel Simanjuntak?

Dengan semua peran tersebut, menurut Ujang Tanusaputra dan Esakatri Parahita, adalah sangat ironis bila 65 tahun kemudian, kaum Kristen Indonesia, harus terlunta-lunta sekadar untuk beribadah di negeri yang turut diperjuangkannya untuk merdeka. “Adalah sangat ironis bila 65 tahun kemudian, banyak gereja  di  Indonesia  disegel, dirusak,  dan dibakar  dengan  berdasar  sentimen  intoleran keagamaan yang membuat umat Kristen Indonesia di banyak jemaat gereja tidak dapat beribadah menurut agama dan keyakinannya.”

Semua tindakan dan pembiaran atas perusakan rumah ibadah kaum minoritas di Indonesia, sebagaimana dikatakan Pendeta Dr Gomar Gultom, Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dalam sambutannya di Ibadah Minggu Trotoar ke-10 GKI Bapos Taman Yasmin Bogor, sejatinya adalah sebuah tindakan inskonstitusional dan pengkhianatan terhadap “proyek bersama” yang bernama Indonesia.

Dari trotoar jalanan Jalan KH Abdulah bin Nuh, jemaah gereja itu bersuara: “Kami menegaskan kekristenan dan keindonesiaan kami, untuk terus memperjuangkan hak beribadah kami di negeri ini. Dari trotoar jalanan ini pula, kami menyambut uluran tangan persaudaraan tulus lintas agama yang diulurkan oleh saudara-saudari kami, untuk kemudian secara bersama-sama,  meneruskan  upaya  dan  perjuangan  kita  untuk  mempertahankan Indonesia sebagai rumah bersama yang aman dan damai bagi semua.”

Dalam soal pengekangan beribadah, GKI “Trotoar” memang tidak sendirian, sebab masih banyak jemaah dari gereja lain yang juga mengalami diskriminasi dalam hal mendapatkan tempat ibadah dan izin-izinnya.

Tempo hari sebagaimana telah saya tulis di blog ini, Ketua Umum PGI AA Yewangoe, Koordinator Komisi Advokasi Hukum dan HAM Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII) Pdt Ronny Mandang, dan Ketua Persekutuan Gereja-Gereja Pentakosta Indonesia (PGPI) Rev. Robinson Nainggolan, datang ke kantor kami. Mereka menyayangkan negara membiarkan aksi-aski penutupan tempat ibadah umat Kristen dan menyerahkan soal itu kepada para preman.

Tadi malam (Selasa 24 Agustus 2010), saya rapat dengan para pendeta dari Gereja Kristen Jawa se Klasis Jakarta Bagian Barat. Dalam pertemuan itu, ada seorang anggota majelis sebuah gereja di kawasan Bintaro, Tangerang yang mengungkapkan betapa sulitnya mendapatkan selembar surat rekomendasi pendirian tempat ibadah. Rekomendasi dan surat pengantar dari RT dan RW tidak masalah. Tapi begitu sampai di kelurahan, “Kami disarankan agar minta izin dulu kepada FBR (Forum Betawi Rempug),” ungkap anggota majelis ini.

Banyak di antara masyarakat kita yang menganggap/berpraduga keliru bahwa dengan banyaknya permohonan izin pembangunan gereja di berbagai tempat sebagai “kisah sukses” kristenisasi. Padahal faktanya tidak seperti itu.

Dalam rapat tadi malam, seorang pendeta dari GKJ Grogol mengungkapkan bagaimana sulitnya melayani jemaahnya yang terpencar-pencar di penjuru Jabodetabek. Meskipun terdaftar sebagai anggota GKJ Grogol, banyak jemaah gereja ini yang tinggal di Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Kalau lagi ngumpul bareng untuk kebaktian pada hari Minggu, jemaah yang hadir jarang mencapai rekor di atas 200 orang, padahal dari uang persembahan merekalah pendeta digaji.

Sering malah banyak gereja yang keuangannya tekor dan harus “mengemis” ke gereja-gereja lain yang dianggap lebih makmur. Banyak gereja yang kerap mengajukan proposal (minta uang) hanya untuk membeli sebuah sepeda motor bagi pendetanya yang harganya “cuma” Rp 15 juta-Rp 20 juta.

Sebagian besar masyarakat Indonesia yang bukan Kristen menganggap orang Kristen kaya (materi) dan dengan kekayaannya bisa mengkristenkan orang. Padahal seseorang menganut Kristen atau bukan, itu adalah urusan pribadi antara yang bersangkutan dengan Tuhan. Manusia tidak punya kuasa untuk urusan yang satu ini.**

SURAT TERBUKA SOAL PLURALISME BUAT PAK SBY

August 18th, 2010

Ditulis oleh Gantyo Koespradono

SELAMAT pagi/siang/malam Pak Susilo Bambang Yudhoyono. Pak SBY yang saya hormati, izinkan saya melayangkan surat ini secara terbuka melalui blog ini. Maafkan jika dalam surat ini saya tidak basa-basi seperti tamu kami yang siang tadi (Rabu 18 Agustus) datang ke kantor kami.

Diantar Presiden Institut Leimena Jacob Tobing, tamu yang berkunjung ke kantor kami (Media Indonesia) adalah Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Pdt Dr AA Yewangoe, Koordinator Komisi Advokasi Hukum dan HAM Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII) Pdt Ronny Mandang, dan Ketua Persekutuan Gereja-Gereja Pentakosta Indonesia (PGPI) Rev. Robinson Nainggolan.

Sekadar mengingatkan Bapak, PGI adalah sebuah organisasi yang menaungi gereja-gereja Kristen beraliran Protestan. Dibentuk pada tahun 1950, PGI yang semula bernama Dewan Gereja-Gereja di Indonesia (DGI) kini terdiri atas 27 wilayah dan 85 sinode gereja. Sinode gereja beranggotakan lagi gereja-gereja yang tersebar di seluruh pelosok negeri yang kebetulan sekarang Bapak pimpin.

PGLII didirikan pada 17 Juli 1971 di Batu Malang, Jawa Timur dengan nama Persekutuan Injili Indonesia (PII). Dalam kongres PII tahun 2006 di Cipanas, Jawa Barat, nama PII diubah menjadi Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia (PGLII). Perubahan nama ini dimaksudkan agar organisasi ini dapat menjelaskan secara lebih eksplisit bahwa wadah ini terdiri dari komponen sinode-sinode gereja dan lembaga-lembaga Kristen. Kini PGLII menaungi 92 sinode gereja dan 123 lembaga Kristen.

Sedangkan PGPI adalah organisasi yang menaungi gereja-gereja yang beraliran Pantekosta sebelumnya PGPI bernama Dewan Pantekosta Indonesia (DPI). Perubahan nama dilakukan pada saat organisasi ini mengadakan musyawarah besar IV tahun 1998. Kini PGPI menaungi 79 sinode gereja Pentakosta di Indonesia.

Akan halnya Institut Leimena. Izinkan kami menjelaskan kepada Bapak bahwa Institut Leimena adalah lembaga nonprofit yang mengkaji berbagai kebijakan dan permasalahan publik yang berkembang untuk ikut mendorong kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik. Jadi secara tidak langsung, lembaga ini sebenarnya membantu tugas-tugas yang menjadi tanggung jawab Bapak.

Nama Leimena diambil untuk mengenang Dr Johannes Leimena (1905-1977), seorang negarawan dan sejarawan Indonesia. Semula lembaga ini bernama Akademi Leimena dan TB Simatupang (senior Bapak) sebagai ketua yang pertama. Pada tahun 2004, atas masukan dan harapan para pemimpin lembaga gereja aras nasional, beberapa anggota pengurus akademi sepakat untuk mendirikan Institut Leimena sebagai lembaga kajian independen yang mencerminkan perkembangan keberagaman gereja dewasa ini.

Bapak SBY yang saya muliakan. Bapak tentu bertanya-tanya mengapa para tamu itu berkunjung ke Media Indonesia? Benar, mereka bersimpati atas pemberitaan dan kebijakan redaksional kami yang berkomitmen menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Beberapa hari terakhir, koran kami dalam editorial atau pemberitaan yang mungkin membuat telinga Bapak memerah, karena gemas dengan tercabik-cabiknya pluralisme yang seharusnya Bapak jaga, tapi Bapak diamkan. Dalam edisi Senin 16 Agustus lalu, Media Indonesia bahkan menurunkan berita utama (HL) berjudul “Pluralisme Terancam.” Semoga rumor ini tidak benar, gara-gara berita itu, Media Indonesia tidak boleh masuk ke Istana. Tidak benar, kan Pak?

Para tamu kami bicara buka-bukaan tentang pluralisme yang kini benar-benar dalam ancaman. Mereka prihatin, sebab begitu sulitnya ruang bagi umat Kristen di Indonesia untuk beribadah. Mau menyembah Tuhan, sulitnya kok minta ampun padahal hal itu diatur dalam konstitusi.

Bapak Presiden yang saya kasihi. Benar, mewakili umat Kristen di gerejanya masing-masing, mereka memang tidak menyalahkan Bapak selaku pribadi, karena yang melakukan aksi penutupan gereja — juga mempersulit izin membangun gedung gereja — bukan orang-orangnya Bapak, tapi sekelompok orang yang tergabung dalam ormas-ormas tertentu. Tapi ketika Bapak diam saja dan petugas keamanan seolah tidak mau tahu, itulah yang menjadi keprihatinan tamu-tamu kami.

Ketua PGI Yewangoe bahkan menyimpulkan ada sesuatu yang tidak beres ketika penguasa yang  seharusnya punya wewenang untuk mencegah ternyata tidak punya kuasa, karena takut atau entah apa namanya. Secara tidak langsung, demikian Yewangoe, kekuasaan sebenarnya telah diambil alih oleh sekelompok orang yang selama ini dikenal masyarakat dengan tindakan anarkisnya.

Yewangoe juga mengungkapkan ada kelucuan dalam soal keamanan dan kenyamanan beribadah yang dialami oleh umat Kristen di negeri Bhineka Tunggal Ika yang sekarang Bapak pimpin. Karena beribadah adalah wujud dari kebebasan beragama sebagaimana diatur dan dijamin oleh konstitusi, seharusnya yang memberikan jaminan bahwa ibadah tersebut dapat terselenggara dengan baik dan aman adalah negara melalui aparat Bapak. Tapi bagaimana prakteknya di lapangan? “Saudara-saudara kami dari Anshor yang justru melindungi dan menjaga gereja kami saat kami beribadah,” kata Ketua PGLII Pdt Ronny Mandang.

Ke mana aparat keamanan (polisi)? Kapan kami bisa menikmati kebebasan beribadah dengan cara yang benar-benar membuat kami nyaman? Pak SBY, itulah ungkapan hati para tamu kami yang mungkin sudah tidak tahan melihat praktek-praktek berbangsa, bernegara dan bermasyarakat yang benar-benar menjijikkan. Lagi-lagi Bapak dikritik mengapa diam saja?

Bapak SBY yang saya hormati. Para tamu kami sebenarnya tidak terlalu mempersoalkan banyaknya rumah ibadah yang ditutup oleh para utusan iblis itu. Namun mereka mengingatkan bahwa  negara berhak memberikan solusi atau alternatif untuk mencarikan tempat yang aman dan layak, jangan membiarkannya.

Tamu kami Ronny Mandang menambahkan, gara-gara kasus pelarangan beribadah oleh sekelompok orang yang membawa-bawa agama, sekarang ini praktis tidak ada pengembang/developer yang berani menunjuk organisasi gereja untuk membangun tempat ibadah. “Bahkan ada sebuah kompleks perumahan yang mayoritas (80%) penghuninya beragama Kristen, tapi tetap tak diizinkan membangun tempat ibadah. Ke mana lagi kami harus beribadah?” kata Ronny.

Ketua PGPI Robinson Nainggolan kepada kami mengatakan, pelarangan beribadah bagi jemaat gereja HKBP di Bekasi tempo hari merupakan sebagian kecil dari perkara besar yang dihadapi umat Kristen di Indonesia. “Kalau soal penutupan gereja, gereja kami-lah yang sering diperlakukan seperti itu, cuma tidak pernah terekspose ke publik,” katanya.

Bapak Presiden yang arif dan bijaksana. Mendengar pengaduan-pengaduan seperti itu, salah seorang teman kami bertanya mengapa tidak langsung saja bertemu dan melapor kepada Presiden SBY?

“Kami sudah mengirim surat permohonan hingga empat kali kepada Pak SBY untuk bertemu, tapi  sampai sekarang tidak pernah ditanggapi,” kata Yewangoe.

Haaahhh? Benarkah? Memangnya Bapak sedang sibuk apa? Mohon Bapak berkenan menerima mereka.

Ingat lho Pak. Diakui atau tidak, bangsa ini masih direpotkan dengan persoalan-persoalan seperti di atas. Kita mesti belajar dari negara-negara lain yang tidak pernah maju karena hampir setiap hari rakyatnya, penguasanya, para elite politiknya selalu mempersoalkan agama sebagai pembeda atau alat untuk melakukan aksi diskriminasi terhadap kelompok minoritas.

Kita mesti belajar dari negara Afrika Selatan yang sukses menghapus politik perbedaan warna kulit. Di negeri itu ada pengakuan dosa, ada pengampunan dan rekonsiliasi. Kita lihat sekarang Afrika Selatan maju pesat.

Bapak Presiden yang budiman, kita hanya dihadapkan pada dua pilihan, Indonesia semakin hancur atau sejahtera dan maju pesat. Banggakah kita dianggap sebagai negara beradab jika ada sebagian  warga negaranya yang kebetulan bergereja mau menyembah Tuhan dan berdoa kepada-Nya secara berjamaah saja sulitnya minta ampun.

Kami menunggu Bapak tidak saja berbicara, tapi juga bertindak, sehingga dengan bangga kami bisa berkata: “Lanjutkan.” ***

BERJUANG MEMPEROLEH KEBEBASAN BERIBADAH

August 16th, 2010

Catatan Gantyo Koespradono

PADA mulanya adalah sebuah SMS yang masuk ke ponsel saya: “Untuk meminta perhatian pemerintah atas maraknya penutupan gereja dan kekerasan atas nama agama, akan diadakan kebaktian di depan Istana Negara, Monas pada Minggu 15 Agustus pukul 13.00. Aksi damai akan dihadiri tokoh lintas agama. Mohon kehadiran atau paling tidak kesediaannya menyebarkan SMS ini. Saatnya kita peduli.”

SMS itu pertama kali mampir ke ponsel saya pada hari Jumat (13/8), lalu bertubi-tubi pada Sabtu (14/8). Pesan yang bunyinya sama juga masuk melalui BBM (Black Berry Messenger).

Kepedulian banyak orang Kristen ternyata hanya sampai pada aksi menyebarkan SMS, sebab ketika saya berada di lokasi Minggu (15/8) jemaat yang hadir di tempat acara tidak mencapai 2.000 orang. Jumlah yang pasti tidak sebanding dengan jumlah orang Kristen di Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok dan Bekasi.

Antisipasi Provokasi

Kehadiran saya ke lokasi bukan semata-mata ingin bersimpati, tapi juga mengantisipasi jika terjadi sesuatu. Maklum sebagai seorang wartawan, kami harus dituntut tajam dalam melihat sesuatu, termasuk tentang kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi. Sebab bukan tidak mungkin, peristiwa seperti itu bisa saja ditungganggi oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab untuk melakukan provokasi. Atau muncul serangan dari kelompok/ormas tertentu yang belakangan banyak mendapat sorotan karena tindakan mereka anarkastis. Penyerangan atas jemaat HKBP yang akan mengadakan kebaktian di Bekasi belum lama berselang adalah salah satu buktinya.

Wartawan boleh saja lihai mengantisipasi. Tapi sehebat apa pun dia, tetap tak mampu mengantisipasi apa yang telah diskenariokan Tuhan atas peristiwa Minggu 15 Agustus 2010 di Silang Monas, Jakarta Pusat.

Mau tahu buktinya? Tidak seperti biasa, pada hari itu, tepatnya pukul 11.00, sebagian Jakarta dan sekitarnya (Tangerang, Bekasi dan Depok) dilanda hujan sangat lebat. Saat saya meluncur ke lokasi acara dari Tangerang, hujan deras masih terus mengguyur.

Mendekati Jl Merdeka Utara, sekitar Istana Merdeka, hujan sudah berhenti. Namun awan tebal masih menggantung di langit Jakarta, khususnya di kawasan Monas. Di depan istana, tidak ada kegiatan kerumunan, kecuali petugas yang sedang mempersiapkan panggung untuk peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan 17 Agustus. Saat saya akan membelokkan kendaraan ke Monas, petugas polisi militer mencegah. Saat saya bertanya di mana tempat kebaktian, petugas berkata: “Sudah dialihkan di depan patung kuda.” Patung kuda terletak di ujung Jl Merdeka Barat, dekat bundaran air mancur di ujung Silang Monas, dekat Jl Merdeka Selatan.

Di ujung Silang Monas telah berkumpul ratusan jemaat dari berbagai gereja. Mereka berpakaian hitam-hitam sambil membawa bendera merah putih ukuran kecil. Beberapa di antaranya memegang bendera merah putih yang dipasang setengah tiang pertanda berkabung, karena kebebasan beribadah terbelenggu.

Karena mendung, udara Jakarta terasa sejuk. Sinar mentari sesekali mengintip melalui gumpalan awan. Beberapa orang pendeta didampingi pemuda berkopiah berdiri di mobil bak terbuka mengatur jemaat agar tertib. Puluhan wartawan tulis, foto dan juru kamera siap meliput event yang baru pertama kali terjadi. Sejumlah tokoh dari lintas agama hadir, antara lain Sekjen Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Siti Musdah Mulia. Mengenakan pakaian berwarna hitam dan berjilbab, dia mendekati Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Andreas Yewangoe yang berdiri tidak jauh dari saya. Perempuan itu menanyakan bagaimana tindak lanjut rencana ibadah.

Langgar Konstitusi Negara

Dia salah seorang tokoh pluralis yang peduli kepada nasib kelompok minoritas. Sebelumnya kepada Media Indonesia, dia menegaskan bahwa desain Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri tentang pendirian rumah ibadah telah melanggar konstitusi negara.

Menurut dia, pendirian rumah ibadah dan pelaksanaan ibadah itu sendiri sudah berbeda. Misalnya, umat Islam di mana-mana saja bisa beribadah tanpa di rumah ibadah tertentu. “Lantas mengapa umat lain tidak boleh? Jadi, prinsip saya dari awal adalah keberadaan SKB 3 Menteri itu sangat bermasalah dan menganggu teman-teman minoritas,” ungkap Siti.

Siti menilai ada beberapa kritik yang dapat dilancarkan terhadap SKB Tiga Menteri. Pertama, SKB Tiga Menteri dinilai tidak masuk akal karena untuk mendirikan sebuah rumah ibadah perlu ada izin dari forum SKUB. “Siapa mereka?” ujarnya.

Kedua, kelompok-kelompok perwakilan yang ada di forum itu hanya berasal dari enam agama resmi yang diakui pemerintah. Hal itu merugikan kelompok lain yang tidak punya perwakilan dan tidak dapat menyuarakan kepentingan mereka. Ketiga, persetujuan 90 Kepala Keluarga (KK) sebagai syarat pendirian rumah ibadah. Siti menganggap hal ini tidak dapat dilakukan untuk tempat-tempat terpencil di mana tidak ada populasi penduduk yang cukup memenuhi kuota.

Siti mengasumsikan pendirian rumah ibadah kelompok minoritas, di bawah SKB Tiga Menteri, harus mendapatkan izin dari kelompok mayoritas. “Kenapa sih mesti mengotak-kotakkan masyarakat ke mayoritas dan mayoritas? Ini kan menyangkut salah satu pemenuhan hak-hak sipil yang paling mendasar, yaitu masalah keyakinan.”


Sebelum ibadah dimulai, Perwakilan Pengurus Besar Nahdatul Ulama PBNU yang hadir dalam acara itu bahkan turut memberikan orasi meminta rasa aman bagi seluruh agama yang ada di negara ini. “Kami siap melayani mereka yang suka mengganggu aksi ibadah agama lain. Kami juga siap berdiri terdepan untuk membantu memberikan rasa aman dalam melakukan aksi ibadah di negeri ini,” ujar Billy, salah satu perwakilan PBNU dalam orasinya.

Kita Satu

Dengan pengeras suara yang kadang mati kadang hidup, Billy berteriak, perwakilan PBNU menegaskan untuk saling melindungi warga negara bangsa ini yang akan melakukan ibadah sesuai dengan kepercayaan yang mereka anut. “Apa yang kita tuntut, apa yang kita lakukan hari ini sudah jelas dilindungi oleh Pancasila dan UUD 1945. Mereka yang berada di istana tidak buta! Tidak tuli,” tegas Billy.

PBNU juga sangat menentang tindakan anarkis dan kekerasan yang mengatasnamakan Islam.  “Kami sangat menentang radikalisasi Islam. Kami sangat tidak mendukung kekerasan yang berkedok Islam,” ujarnya.

“Kita semua satu Tuhan dan satu Allah, semua ajaran agama tidak ada yang mengajarkan melakukan tindakan anarkis dan kekerasan,” tandas Billy. “Radikalisasi Islam adalah tindakan kebohongan. Kami atas nama PBNU sangat mengutuk keras dan menantang radikalisasi Islam yang bisa menghancurkan NKRI,” ucapnya.

Perwakilan PBNU juga menegaskan bahwa bangsa ini bukan hanya berisikan agama Islam, melainkan bangsa yang terdiri dari banyak agama yang membangun dan membentuk negara ini.

Di bawah keteduhan awan mendung, ibadah yang digalang Forum Solidaritas Kebebasan Beragama (FSKB) yang semula akan dlangsungkan di depan Istana Negara itu akhirnya dilakukan di Lapangan Monas, depan Bundaran Air Mancur, Jakarta, karena aparat keamanan melarang ribuan jemaah dari berbagai gereja itu merapat ke istana. Tidak ada perlawanan apa pun ketika polisi menghadang rombongan.

Sebelum pukul 13.00, ratusan jemaah sudah berkumpul di ujung Silang Monas antara Jl Merdeka Selatan-Merdeka Barat dan Jl Thamrin, dekat patung kuda. Mereka menunggu informasi anggota tim yang disebut-sebut sedang bernegoisasi dengan petugas di Istana Presiden.

Namun belakangan diperoleh kabar, jemaah tidak diperkenankan kebaktian di depan Istana Negara. Kebetulan di depan Istana Merdeka, petugas juga tengah mempersiapkan panggung untuk digunakan upacara memperingati detik-detik prokamasi 17 Agustus. Polisi militer yang berjaga di depan istana mengalihkan kendaraan yang akan parkir di monas di ujung Jl Merdeka Barat ke silang Monas Jl Merdeka Selatan.

Menjelang pukul 13.00, ada informasi tempat kebaktian akan dialihkan ke depan RRI, Jl Merdeka Barat. Namun ketika jemaah akan menuju ke sana, polisi memblokade, sehingga kerumunan jemaah banyak gereja itu terisoloasi di Monas.

Akhirnya pukul 13.15 kebaktian dimulai dipayungi awan mendung membuat suasana sejuk. Kebaktian dipimpin Pdt Sabar Siahaan dari Distrik 3 HKBP Jakarta dan Pdt Palti Panjaitan dari HKBP Filadelfia. Bekasi.

Kebaktian berjalan lancar, berlangsung sekitar satu jam. Saat kebaktian berakhir yang ditutup dengan Doa Bapak Kami, hujan pun turun. Jemaah beringsut membubarkan diri. Banyak jemaah yang mengatakan, awan mendung dan hujan merupakan cara Tuhan untuk melindungi jemaah pada siang itu, sehingga tidak kepanasan, dan acara berakhir dengan damai.

Tidak ada kerusuhan. Semua acara berjalan dengan lancar. Apa yang saya antisipasi tidak terjadi. Tidak ada provokasi. Tidak ada serangan atau gangguan apa pun.

Wujud Solidaritas

Sebagaimana diinfomasikan, kebaktian yang dilangsungkan di tempat terbuka itu sebagai bentuk solidaritas umat Kristen di Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi dan Bogor atas aksi penutupan tempat ibadah oleh ormas-ormas tertentu. Belum lama berselang, jemaat HKBP di Bekasi bahkan dipukuli oleh anggota ormas tertentu yang tidak rela jemaah HKBP beribadah di tempat terbuka, karena tempat ibadah mereka ditutup.

Kasus penutupan tempat ibadah sudah kerap terjadi di berbagai tempat dengan alasan tidak berizin. Pemerintah Kota Depok sampai sekarang juga belum memberi keleluasaan kepada jemaah sebuah gereja di sana untuk leluasa memuji dan memuja Tuhan. Fakta serupa juga terjadi di Bogor, Bekasi dan Tangerang.

Karena sulit mendapatkan izin, banyak gereja yang terpaksa membuka ibadah di ruko. Tapi ruko yang dijadikan beribadah pun dijadikan amuk massa. Di kawasan Pasar Kemis, Bumi Indah, Tangerang, ada sejumlah ruko yang sudah diklaim oleh oknum warga sebagai wilayah kekuasaannya dengan menulis pengumuman yang dipasang di dinding dengan ukuran besar: “Ruko ini tidak boleh dipakai untuk gereja!”

Dilatarbelakangi fakta-fakta itulah Forum Solidaritas Kebebasan Beragama dalam pernyataannya Minggu (15/8) mengingatkan, Indonesia merupakan negara majemuk, terdiri dai suku bangsa agama, maupun aliran kepercayaan dari Sabang sampai Merauke. Mereka memiliki perasaan senasib untuk membentuk satu kesatuan, yakni negara kesatuan Republik Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.

Kemajukan ini, demikian pernyataan forum, merupakan modal persatuan dan kesatuan untuk menjadikan Indonesia sebagai sebuah negara besar, berdaulat dan berintegritas. Oleh sebab itu negara wajib dan bertanggung jawab untuk melindungi dan menghormati setiap unsur-unsur pembentuk kemajemukan, termasuk di dalamnya kebebasan beribadah, beragama dan berkeyakinan sebagai hak asasi manusia yang sangat fundamental.

Tapi kenyataan berbicara lain. “Negara tidak mnunjukkan konsistensi dalam memberikan perlindungan dan penghormatan atas kebebasan beribadah, beragama dan berkeyakinan bagi warganya,” demikian pernyataan tertulis forum yang disebar di tengah-tengah jemaah Minggu (15/8).

Dalam banyak kasus, masih menurut Forum Solidaritas Kebebasan Beragama, negara melakukan penutupan, penyegelan, dan pelarangan pendirian rumah ibadah dan aktivitas beribadah dengan alasan karena adanya penolakan sekelompok orang. Bahkan negara melalui aparat keamanan, dalam hal ini kepolisian melakukan pembiaran terhadap ormas-ormas yang mengatasnamakan agama untuk melakukan serangan dan kekerasan terhadap umat beragama lain yang melakukan ibadah. “Ini merupakan sebuah pelanggaran HAM yang dilakukan oleh negara,” tegasnya.

Dalam pernyataannya, forum menegaskan, negara dalam hal ini pemerintah, terutama Presiden harus bertanggung jawab untuk menjamin hak-hak warga negara untuk beribadah, beragama dan berkeyakinan. Negara harus menindak tegas terhadap tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok vigilante terhadap penganut agama tertentu.

Di samping itu negara harus mencabut peraturan perundang-undangan diskriminatif yang membelenggu hak atas kebebasan beribadah, beragama dan berkeyakinan. “Negara seharusnya mengurus kepentingan publik seperti masalah kemiskinan, pengangguran, buruh, petani, nelayan, kaum miskin kota dan kelompok-kelompok lemah lainnya, bukan mengurus urusan keagamaan yang merupakan ranah privat.”

Anggota FSKB

Untuk diketahui, anggota FSKB yang pada hari Minggu (15/8) melakukan ibadah terbuka di Silang Monas itu adalah gereja:

  1. HKBP Pondok Timur Indah, Bekasi.

  2. HKBP Getsemani Jatimulya, Bekasi.

  3. HKBP Filadelfia, Tambun Bekasi.

  4. HKBP Rawalumbu.

  5. HKBP Suprapto, Jakarta.

  6. HKBP Jatiasih, Bekasi.

  7. GKI Taman Yasmin, Bogor.

  8. Gereja Rakyat.

  9. Gekindo Jatimulya, Bekasi.

  10. GPDI Elshadday Jatimulya, Bekasi.

  11. GPDI Immanuel, Sukapura.

Yang bukan gereja:

  1. Setara Institute.

  2. PBHI Jakarta.

  3. Tim Pembela Kebebasan Beragama.

  4. Ut Omnes Unum Sint Institute.

  5. ANBTI.

  6. JKLPK.

  7. JAI.

  8. LSAF.

  9. Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia.

  10. Komunitas Kristen Katolik Indonesia.

  11. Wahid Institute.

  12. Serikat Jurnalis Untuk Keberagaman.

  13. Jaringan Isam Liberal.

  14. LBH Jakarta.

  15. YLBHI.

  16. Elsam.

  17. Repdem.

  18. PMKRI.

  19. ICRP.

  20. SDI

  21. KGJ

  22. GMM.

  23. Hagai.

  24. BMDS.

  25. GMKI.

  26. AMDS.

  27. AKKBB.

  28. Hikmabudhi.

  29. STT Setia.

  30. STT Jakarta.

  31. KMHDI.

  32. TPH HAM.

  33. Forum Komunikasi Aktivis 98.

  34. Nabaja.

  35. Srikandi Demokrasi.

Liturgi

Ibadah bersama untuk kemerdekaan beribadah itu menggunakan liturgi yang dibuat sedemikian rupa bersemangat perdamaian, persatuan dan kebangsaan. “Saudara-saudara yang bergumul memperjuangkan kemerdekaan beribadah, di dalam iman dan kepercayaan kepada Tuhan Pencipta Alam Semesta, kita menyatu dalam satu visi dan misi, dalam doa dan pengharapan, mengukir karya, membangun makna untuk kemerdekaan beribadah sebagai hak asasi warga bangsa. Saat ini kumandang puji dan doa akan kita laksanakan sebagai bukti kerinduan untuk kemerdekaan beribadah di negara kesatuan Republik Indonesia.”

Kata-kata di atas merupakan kalimat “salam dan doa syukur.” Kemudian dilanjutkan dengan menyanyi bersama Kidung Jemaat No 3: “Kami Puji dengan Riang.” Dilanjutkan lagi dengan menyanyi dari KJ 337: “Betapa Kita Tidak Bersyukur.”

Lalu diikuti dengan doa pengucapan syukur yang dipimpin dua pendeta dan dinaikkan secara bersahut-sahutan. Jemaat menyahut dengan “dengarkan doa kami ya Tuhan.” Persisnya doa itu sebagai berikut:

  1. Ya Allah, kami bersyukur untuk kehadiranMu di saat ini dan Roh KekalMu yang menyertai kami di dalam ibadah bersama untuk kemerdekaan beribadah di NKRI ini. Berilah kami damai dalam perlindunganMu supaya kami dapat mempersembahkan hidup bagi kesejahteraan bangsa kami Indonesia melalui Yesus Kristus yang sudah bangkit menebus hidup kami.

  2. Ya Allah kami bersyukur karena dalam kebebasan dan pilihan kami sendiri, kami umatMu dapat melaksanakan ibadah bersama di tempat ini. Kiranya melalui ibadah ini kami dikuatkan dan dimampukan mewujudnyatakan hak kami untuk beribadah kepadaMu di NKRI ini.

  3. Ya Allah di dalam keletihan kami memperjuangkan kemerdekaan beribadah di NKRI ini, kami bersyukur untuk kesiapan umatMu yang dengan rela memberikan hati, pikiran, waktu, maupun tenaga untuk memperjuangkan kemerdekaan beribadah di NKRI ini. Biarlah umatMu ini memiliki daya juang, semangat, dan potensi konstruktif melanjutkan hak kami untuk memuji dan memuliakan Engkau di NKRI yang kami cintai.

  4. Ya Allah kami meminta kepadaMu kekuatan dan pengetahuan rohani untuk semua umatMu supaya di dalam misi kesaksian kami mempunyai keberanian untuk mengubah apa yang dapat kami ubah dan menerima dengan tabah apa yang tidak dapat kami ubah. Untuk membedakan keduanya itu berikanlah kami hikmat dan kebijaksanaan supaya kami menjadi umat yang setia di tengah-tengah pergumulan kami memperjuangkan kemerdekaan beribadah di NKRI ini.

  5. Dalam mengikuti Engkau ya Kristus, biarlah kami memilih untuk mencintai dan tidak bertindak anarkis. Sebagaimana kami tinggal dalam kehadiranMu, dengan tekun hari demi hari berdoa dengan kesederhanaan hati memohon, kuatkan dan teguhkan iman kami sekalipun kami harus mengalami keletihan berjuang untuk kemerdekaan beribadah di NKRI ini. Kuatkan dan teguhkan iman kami sekalipun kami terkadang bingung dan menangis untuk memperjuangkan hak kemerdekaan beribadah di NKRI ini. Amin.

Setelah itu dilanjutkan dengan menyanyi dari KJ No 336 “Indonesia Negaraku” dan renungan yang disampaikan Pdt Sabar Siahaan. Setelah berkotbah, jemaat menyanyi dari KJ No 343 “Dunia Dalam Rawa Paya.”

Pdt Shepard Supit kemudian melanjutkan dengan doa syafaat yang juga dilakukan secara berbalasan dan diselingi dengan nyanyian “Saya Mau Ikut Yesus.”

Intinya doa syafaat itu berbunyi demikian:

  1. Yesus yang terkasih, penebus dunia, kami ini umatMu dan ingin tetap menjadi umatMu. Namun agar persatuan kami dengan Dikau menjadi erat, kini kami bersujud di hadapanMu dan menyerahkan diri kepadaMu.

  2. Kasihilah kami dan peliharalah hidup kami di dalam cinta Sang Bapa. Kiranya kehidupan kami seturut dengan kehandakMu. Kini kami bersujud di hadapanMu dan menyerahkan seluruh hidup kami kepadaMu untuk mengikuti Engkau sekalipun kami harus berumul dan berjuang untuk kemerdekaan beribadah di NKRI ini.

  3. Yesus Yang Mahapemurah dan penuh belas kasihan, kasihilah kami, kiranya hidup dan masa depan kami ada di dalam tanganMu. Kami bersujud di hadapanMu dan menyerahkan hidup kami ke dalam tuntunan tangan Tuhan. Kasihanilah umatMu ini. Kami sudah letih berjaga siang dan malam, terkadang kami meninggalkan anak-anak kami tidur di rumah, kami meninggalkan tugas-tugas harian kami, bahkan dengan rela hati beribadah beratap langit, berlantai tanah, berdinding angin demi kerinduan kami tetap beribadah di NKRI ini. Kami bersujud di hadapanMu dan menyerahkan hidup kami kepadaMu.

  4. Yesus yang penuh cinta kasih, pemberi harapan yang tidak mengecewakan, dengan rendah hati kami bersujud di hadapanMu. Curahkanlah belas kasihMu yang tak terhingga itu kepada kami umatMu ini supaya di dalam kesaksian kami melalui ibadah bersama ini dinyatakan dan dinobatkan kemerdekaan beribadah kepada seluruh warga bangsa. Kiranya usaha penodaan agama-agama di NKRI ini tidak pernah terjadi lagi. Kami bersujud di hadapanMu dan menyerahkan hidup kami kepadaMu.

Sebelum doa Bapa Kami, jemaat bernyanyi dari KJ No 426 “Kita Harus Membawa Berita.” Begitu doa Bapa Kami selesai dilantunkan, hujan pun turun. Tidak ada masa depan tanpa kebebasan. Tidak ada kebebasan tanpa pengampunan. Selamat berjuang.***

EDITORIAL TANPA BASA-BASI

January 25th, 2010

“SEPERTI hujan di musim kemarau, Editorial Media Indonesia menghadirkan kelugasan di tengah kegemaran berbasa-basi. Mungkin karena itulah, kehadirannya selalu ditunggu-tunggu.”

Itulah ungkapan Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan dalam kata pengantarnya di buku JUJUR BERSUARA—Proses Kreatif Penulisan Editorial Media Indonesia yang diterbitkan Media Indonesia Publishing bertepatan dengan hari ulang tahun ke-40 Media Indonesia, 19 Januari 2010.

Fakta membuktikan, berdasarkan angket yang disebarkan Media Indonesia pada 2005, sebanyak 77,3% pembaca atau pelanggan koran ini menilai rubrik editorial sebagai yang paling menarik. Angket yang disebarkan setahun sebelumnya juga menunjukkan bahwa 80% responden menilai bahwa Media Indonesia dikenal karena ‘editorial’nya.

Kenyataan seperti itulah yang membuat banyak orang, terutama pelaku media dan mahasiswa komunikasi penasaran, mengapa tajuk rencana koran ini mengundang minat orang untuk membaca; sementara di koran lain (maaf), tajuk rencana adalah rubrik yang paling jarang ditengok, apalagi membaca isinya.

Sangat mungkin, editorial Media Indonesia ditulis dengan cara berbeda, yang menurut Anies Baswedan, tanpa basa-basi. Indonesia dalam klasifikasi antropolog Edward T. Hall (1976), sebagaimana dikutip Anies, dapat digolongkan dalam kategori high context culture (budaya dengan konteks tinggi). Dalam high context culture, pesan disampaikan dengan simbol dan kata-kata yang tidak langsung merujuk kepada persoalan. Maksud disembunyikan dalam kata-kata yang berputar-putar, membiarkan orang yang diajak bicara menebak pesan yang tersirat.

Kebiasaan menyampaikan pesan dengan gaya seperti itulah yang selama ini – apalagi ketika pemerintahan Soeharto berkuasa – digunakan oleh banyak koran dalam editorialnya.

Sejak awal, Media Indonesia melalui editorialnya menjauhi komunikasi basa-basi itu. Maka beralasan jika Anies Baswedan mengatakan, editorial Media Indonesia mampu menghancurkan bendungan yang menahan mengalirnya suara-suara masyarakat luas. “Dengan kerajinannya menyapa masyarakat Indonesia setiap pagi, kita dapat menyebut editorial Media Indonesia sebagai salah satu cermin denyut nadi bangsa Indonesia. Ia merekam setiap detak dari berbagai permasalahan yang dihadapi dalam perjalanan bangsa ini,” begitu komentar mantan angota Tim 8 Kasus Bibi-Chandra itu.

Meskipun begitu, toh, masih banyak orang yang penasaran dengan sikap redaksi surat kabar ini. Banyak pembaca yang bahkan ingin mengetahui lebih dalam siapa penulis editorial tersebut; bagaimana proses kreatifnya, mengapa bahasa jurnalistik yang digunakan seperti itu?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti itulah (kecuali tentang siapa penulis editorial) yang coba diungkap di buku setebal 310 halaman ini. Dengan membaca buku ini, setidaknya kita akan mengetahui duduk perkara apa dan bagaimana awak redaksi menggagas sebuah topik dan kemudian menguntainya menjadi kalimat dan terbungkus manis dalam editorial.

Selain itu, buku ini juga memuat kumpulan editorial pilihan yang selama ini membuat para pembaca tesenyum, bahkan mungkin ikut gemas saat sikap redaksi surat kabar ini ditayangkan di Metro TV. Lebih dari itu, dalam salah satu bab, tim penulis buku tersebut juga menurunkan tulisan hasil liputan wawancara mereka dengan penggemar berat editorial Media Indonesia.

Karenanya apa yang tersaji di dalam buku ini layak dibaca oleh siapa pun, terutama mereka yang peduli kepada perkembangan media dan soal-soal yang tengah dihadapi bangsa. Bukan cuma itu, buku ini juga layak dijadikan referensi bagi para dosen dan mahasiswa komunikasi bagaimana menulis editorial yang baik dan komunikatif.***

MAFIA USAHA, LAWAN!

January 4th, 2010

“MODAL nekat yang hanya mengandalkan semangat menghormati perdagangan bebas sama saja dengan menyerahkan tubuh kita untuk digebuki hingga babak belur.”

Itu adalah kalimat buntut editorial Media Indonesia edisi Senin 21 Desember 2009. Editorial itu ditulis dengan latar belakang niat Indonesia yang tetap ikut memenuhi komitmen untuk terlibat dalam Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN dan China mulai 1 Januari 2010.

Itu berarti mulai tahun 2010 ini pasar kita bakal kian dikepung oleh produk China, baik tekstil, buah-buahan, bumbu masak, maupun mainan anak-anak.

Lalu, apa salahnya dengan produk China, Media Indonesia bertanya? Di sinilah persoalannya. Sudah bukan rahasia lagi, selama ini mutu produk China yang membanjiri pasar kita tidak jauh berbeda dengan produk dalam negeri, bahkan lebih buruk.

Produk China juga masih diragukan keamanannya bagi kesehatan. Selain itu, barang dari ‘Negeri Tirai Bambu’ itu kelewat murah, sehingga produk dalam negeri kalah bersaing dan akhirnya mati.
Saat ini hampir semua jenis produk China melenggang bebas masuk ke negeri ini. Padahal, pada era 1970-an produk China yang diimpor hanya produk yang tidak bisa dibuat di Indonesia.

Dengan demikian, perjanjian perdagangan bebas ASEAN-China amat jelas bakal lebih menguntungkan China daripada negara-negara ASEAN, dan sangat jelas terutama sangat merugikan Indonesia. Data resmi dari Badan Pusat Statistik menunjukkan saat ini saja ekspor kita ke China hanya 5,91%, sedangkan impornya mencapai 8,55%.

Kelak, ketika perdagangan bebas sudah dijalankan, diprediksi ekspor kita hanya naik 2,29% menjadi 8,20%. Tapi, sebaliknya impor kita dari China bakal naik 2,81% menjadi 11,37%. Merebaknya pesimisme itu lebih disebabkan belum mantapnya industri dalam negeri. Industri kita masih dibebani rupa-rupa masalah yang menyebabkan daya saing kita rendah.

Infrastruktur yang buruk, suku bunga bank yang masih tinggi, kurs rupiah yang tidak stabil, serta birokrasi yang berbelit-belit dan korup, semua itu menyebabkan produk Indonesia tidak bisa berbicara banyak.

Kita tidak punya basis yang kuat masuk ke pasar China. Kita juga tidak punya daya tahan yang hebat untuk membendung serbuan produk China. Sejujurnya Indonesia memaksakan diri masuk implementasi perdagangan bebas ASEAN-China.

Jika terus dipaksakan, ya itu tadi, “sama saja dengan menyerahkan tubuh kita untuk digebuki hingga babak belur.”

Soal gebuk menggebuk di negeri ini sebenarnya bukan barang baru. Celakanya yang jadi penggebuk adalah saudara sendiri dan yang jadi korban penggebukan hingga babak belur adalah para petani.

Setidaknya itulah “renungan” awal tahun 2010 yang disampaikan kawan saya, Heru K Wibawa lewat telepon hari Sabtu (2 Januari 2010).

Kawan saya yang satu ini sebelumnya berprofesi sebagai perwira polisi. Dia memutuskan menanggalkan pangkat dan jabatan, karena mengaku tidak sejahtera menjadi polisi, karena institusinya juga sering “menggebuk” anggota masyarakat yang mencari perlindungan hukum.

Dia kini menekuni dunia pertanian. Memasuki sektor ini, dia juga menemukan aksi gebuk yang ujung-ujungnya adalah bagaimana membuat para petani semakin tidak berdaya. Ironisnya yang menggebuk petani adalah bangsa sendiri.

Bentuk penggebukan itu beraneka rupa, mulai dari soal monopoli distribusi pupuk, pengadaan bibit, hingga pengendalian harga yang ditentukan secara sepihak oleh pemodal besar. Celakanya lagi, semua itu melibatkan negara yang seharusnya melindungi petani.

Ujung dari aksi penggebukan ini, menurut Heru Wibawa, gampang ditebak, yaitu mematikan petani berikut produknya, sehingga pemodal besar leluasa mengimpor bahan pangan dari negara-negara lain.

Mafia ternyata tidak hanya di dunia peradilan (hukum), tapi juga di bidang-bidang lain. Para peternak, menurut Heru, juga tidak bisa lagi leluasa beternak unggas, sebab diancam stigma flu burung. Suasana diciptakan sedemikian rupa, sehingga para peternak sangat menggantungkan kepada obat-obatan yang pastinya juga produk dari negara entah mana.

Para peternak pun akhirnya harus mengikuti apa yang dianjurkan petugas lapangan, seperti wajib melakukan vaksinasi bagi ternak-ternak mereka secara berkala. Ini jelas cost bagi para petani (peternak).

Sementara di langkah awal, ketergantungan para peternak ayam misalnya kepada produsen anak ayam (DOC) sangat tinggi. Harga DOC pun ditentukan secara sepihak oleh produsen. Kepada saya, Heru menginformasikan, harga DOC yang dipatok produsen yang dijual ke peternak tetap tinggi meskipun permintaan DOC tidak besar. Dalam kasus ini, hukum ekonomi tidak berlaku. Yang ada adalah hukum besi.

Tapi sebaliknya, ketika para peternak memproduksi ternaknya berlebih, harga kontan jatuh. Memberikan contoh, Heru menjelaskan, harga telur ayam di pasar sekarang Rp 9.000 per kilogram, padahal biaya produksinya Rp 12.000.

Ironisnya lagi, pemerintah tidak berbuat apa-apa melihat kondisi seperti itu. Heru memaklumi, penguasa sedang sibuk mempertahankan diri dalam rangka menyelamatkan harkat dan “kehormatan” dari serangan kasus Bank Century.

Lalu sampai kapan situasi itu berakhir? Heru menegaskan, tidak akan berakhir kecuali kita melawan rezim atau mafia usaha di sektor pertanian.

Caranya? Heru menyebut memberdayakan potensi atau teknologi temuan anak bangsa sendiri. Berkat ketekunannya, baru-baru ini Heru menemukan formula yang dinamakan Ponti.

Formula temuannya itu selain bisa digunakan untuk membudidayakan ayam organik, juga bisa dipakai untuk pupuk organik.

Dengan menggunakan Ponti — untuk sementara ini Heru memakainya untuk makanan ayam – ayam organik Heru tahan penyakit, masa panen lebih cepat, dan tidak perlu vaksinasi seperti yang dilakukan peternak lain. Flu burung juga tidak mempan merasuk ke tubuh ayam organik Ponti.

Banyak anak bangsa ini yang juga berhasil menemukan teknologi-teknologi baru di bidang pertanian dan peternakan. Temuan-temuan seperti inilah, yang menurut Heru, bisa dipakai untuk melawan birokrat-birokrat korup yang cuma mementingkan perutnya sendiri.

Jika memang sudah siap semuanya – termasuk memberdayakan para petani dan peternak bermodal kecil – Indonesia bisa saja ikut dalam program perdagangan bebas ASEAN-China.

Tapi jika situasinya masih seperti sekarang di mana pengusaha bermodal kuat bernafsu mematikan usaha kecil, jangan berharap Indonesia akan berjaya. Kabar terakhir, harga daging ayam di pasar sekarang ini Rp 10.000 per kilogram, padahal biaya produksi di tingkat peternak Rp 11.000. Lha, kalau begini, kapan manusia Indonesia bisa bertahan hidup?

Tidak berlebihan jika editorial Media Indonesia edisi Senin 4 Januari 2009 menulis: “Daya saing industri kita juga amat lemah akibat absennya strategi. Kalangan usaha dalam negeri selama ini berhadapan dengan banyak ketidakpastian, seperti tingginya suku bunga kredit, mahalnya listrik, hingga mengguritanya upeti dari birokrasi.”

Bukankah itu sama saja anak bangsa memakan anak bangsanya sendiri. Sampai kapan kita tega berbuat seperti ini?***

CARA ANDAL JADI TENAR

October 16th, 2009

“MAS, ajarin menulis dong.” Inilah kata-kata banyak teman yang kerap ditujukan kepada saya dalam berbagai kesempatan setelah mengetahui saya sering menulis di blog dan note di Facebook.


Dilatarbelakangi permintaan-permintaan itulah yang antara lain mendorong saya untuk menulis buku “CARA ANDAL JADI TERKENAL — Kreatif Menulis Efektif di New Media.” Buku ini diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama dan telah beredar di toko buku sejak tanggal 13 Oktober 2009.

Namun di luar itu, saya termotivasi menulis buku ini juga lantaran dorongan teman-teman saya, seperti Putu Laxman dan Andrias Harefa yang menjunjung tinggi semangat betapa pentingnya melestarikan gagasan dan pengetahuan lewat sebuah karya tulis. Diakui atau tidak, buah pikiran yang tertuang dalam tulisan sedikit banyak ikut mempengaruhi peradaban sebuah bangsa. Kita tidak bisa bayangkan, apakah mungkin ada kitab suci jika tidak ada orang yang tergerak untuk menulis.

Oleh sebab itulah ketika new media, seperti Facebook, blog, Twitter, Flixter, citizen journalism, web dan sebagainya merambah kehidupan manusia di era teknologi informasi komunikasi seperti sekarang, saya berusaha semaksimal mungkin memanfaatkan medium ala dunia maya itu. Selain gratis, new media ini ternyata sangat efektif untuk membentuk opini publik dan ujung-ujungnya mengangkat dan mengharumkan nama kita. Cepat atau lambat, kita pun menjadi terkenal, bahkan kaya.

Dosa rasanya kalau saya tidak berbagi pengalaman menyenangkan itu kepada banyak kawan, terutama yang minta dipandu bagaimana kreatif menulis di new media.

Untuk memudahkan bagi yang membaca buku tersebut, saya sangaja merangkai kalimat dan tips bagaimana menulis dengan bahasa santai atau bersahaja dengan contoh-contoh sederhana. Karenanya buku ini juga cocok buat mahasiswa komunikasi, khususnya jurnalistik, yang belajar bagaimana menulis berita (ada bab khusus tentang citizen journalism). Di bab ini, saya memberikan panduan bagaimana memilih jenis-jenis lead yang komunikatif.

Tidak bisa dimungkiri, keterampilan menulis kini diperlukan oleh siapa pun jika kita tidak mau dianggap gagap di era teknologi informasi komunikasi. Mengirim SMS, kita harus menulis. Membuat status di Facebook, mau tidak mau kita harus berpikir bagaimana menyusun kalimat. Apalagi mengungkapkan gagasan lewat blog, surat pembaca, berpartisipasi di jurnalisme warga (citizen journalism), dan sebagainya, wajib hukumnya bagi siapa pun untuk bisa menulis.

Banyak orang bilang, menulis itu sulit? Membaca buku ini, saya jamin, Anda akan berkata sebaliknya: gampang banget, karena saya mengungkapkan apa dan bagaimana duduk perkaranya.

Namun di luar itu, motivator Arvan Pradiansyah dalam komentarnya (endorsment) di buku saya mengingatkan, tujuan hidup kita bukanlah untuk terkenal tapi untuk berbagi dan memberi manfaat bagi orang lain. “Dalam buku ini Gantyo membeberkan tips-tips yang menarik dan berharga dalam memanfaatkan new media, seperti Facebook untuk berbagi. Menjadi terkenal dengan demikian hanyalah sebuah konsekuensi logis dari tindakan berbagi,” kata penulis buku best-seller The 7 Laws of Happiness & Host Talkshow Smart Happiness di SmartFM Network ini.

Teman saya Djadjat Sudradjat, Pemimpin Redaksi Lampung Post di buku saya membuat catatan pengarang Inggris klasik Emily Bronte hanya menulis satu novel berjudul Wuthering Heights, tapi fiksi semata wayang itu melambungkan setinggi bintang pengarangnya.

Padahal, Bronte lahir dan hidup di Inggris abad 19. Bayangkan jika ia hidup sekarang ketika dunia maya telah menyatukan kita. Pasti namanya akan amat cepat menjulang di seantero jagat.

Barack Obama dan JK Rowling adalah contoh lain yang mendapat berkah luar biasa dari menulis di zaman ini. Nama Obama melambung, selain karena kapasitas kepemimpinan yang kuat, juga karena buku Dreams From My Father: A Story of Race and Inheritance dan The Audacity of Hope; Thoughts on Reclaming The American Dream, laris-manis. JK Rowling, sang pengarang Harry Potter, kini menjadi salah satu perempuan terkaya dan paling popular di dunia.

Djadjat mengatakan, selain melambungkan nama juga bisa mendatangkan banyak fulus. Tidak terkecuali menulis di jejaring sosial Facebook, dunia yang dalam waktu sekejap, jika cerdik memanfaatkannya, bisa melambungkan siapa saja.

“Gantyo tidak sekadar ngecap, tapi memberi contoh. Ia wartawan dan pengajar yang tak pernah bosan belajar; wartawan senior yang semangatnya tak pernah kendor. Baginya hidup adalah menulis. Sebab, ia nikmat dan profit, karena itu terlalu sayang untuk tidak dicintai! Inilah Cara andal untuk menjadi tenar,” katanya. Terimakasih Kang Djadjat.

Sedangkan di mata Andrias Harefa, penulis 30 buku sest-seller, buku “CARA ANDAL JADI TENAR” meneguhkan kembali pandangannya bahwa menulis itu untuk semua orang. Medianya bisa apa saja, termasuk pesan pendek (SMS), surel (email), milis, situs, blog, dan belakangan fesbuk, atau yang lainnya.

“Seperti halnya berenang dan bersepeda, menulis tidak memerlukan bakat khusus, kecuali bila targetnya menjadi penulis kelas dunia. Dengan menyimak buku ini, saya harap pembaca akan segera terdorong untuk menulis dan tetap menulis untuk menyatakan kehadiran di planet bumi ini. Bacalah!,” katanya.

Christovita Wiloto, Managing Partner PowerPR berkomentar, sebuah fenomena yang luar biasa di era saat ini. Seperti juga Facebook, buku terbaru Gantyo ini, tulis Christov dalam komentarnya, juga merupakan terobosan di dunia komunikasi. “Sangat fresh, hot sesuai konteks saat ini. Idenya yang sangat strategis dikemas dengan sangat praktis dan mudah dicerna,” katanya.

Terimakasih kawan-kawan.

GOLKAR, LELANG DAN DEMOKRASI TRANSAKSI

October 8th, 2009

BANYAK yang bilang, hajatan Partai Golkar di Pekanbaru, Riau 5-7 Oktober lalu bukan Musyawarah Nasional (Munas), tapi lelang; siapa yang berani menawar harga paling tinggi untuk jabatan ketua umum, dialah yang bakal memenang.

Ada empat kandidat calon ketua umum partai berlambang beringin itu yang memperebutkan jabatan ketua umum. Mereka adalah Aburizal Bakrie, Surya Paloh, Hutomo Mandala Putra dan Yuddy Chrisnandi.

Dari keempat calon itu, hanya Yuddy yang mengaku datang ke arena lelang dengan modal cekak, bahkan tanpa modal sama sekali. Hasilnya sudah bisa ditebak, dia terdepak meskipun lolos verifikasi. Hutomo Mandala Putra alias Tommy, meskipun masih menyimpan banyak uang, di arena munas, putra Pak Harto ini tenang-tenang saja. Dia mencalonkan diri sebagai ketua umum tampaknya tanpa beban dan menganut prinsip “dipilih syukur, nggak terpilih emangnya gue pikirin.”

Yang paling bernafsu untuk memenangi pertarungan jabatan ketua umum adalah Aburizal Bakrie dan Surya Paloh. Jauh sebelum munas, kedua tokoh ini sudah menggalang kekuatan dengan pengerahan massa, bahkan melakukan “perang” iklan di media massa. Lobi-lobi dengan pemegang hak suara mereka lakukan di daerah. Miliaran rupiah pasti keluar guna keperluan membangun citra ini.

Untuk meyakinkan bahwa sekarang ini Golkar butuh uang, Aburizal Bakrie jauh-jauh hari berjanji jika terpilih jadi ketua umum, dia akan mengisi brankas partai itu dengan uang Rp 1 triliun. Niatnya itu tak urung membuat telinga para korban lumpur Lapindo Sidoarjo panas. Pasalnya Ical (Aburizal Bakrie) belum memenuhi kewajiban memberikan ganti rugi kepada sebagian korban “bernafas dalam lumpur” itu yang kalau ditotal nggak jauh-jauh amat dari nilai Rp 1 triliun. “Lha, kalau punya uang segitu, mbok ya bayar dulu itu korban lumpur Lapindo,” kata seorang warga Sidoarjo yang ditampilkan di acara Kick Andy Metro TV.

Akan halnya Surya Paloh. Dia memang tidak menjanjikan apa-apa, kecuali ingin mengembalikan kejayaan Golkar dan membangkitkan partai ini dari kuburnya. Tapi dalam rangka untuk menjadi Golkar-1, dia juga sudah habis-habisan untuk menjamu para pendukungnya, antara lain membiayai penginapan di hotel, transportasi dengan mencarter pesawat, menyiapkan mobil/bus di lapangan, dan mengajak pendukungnya “berlibur” ke Bali.

Di arena munas, santer terdengar isu, satu suara bertarif Rp 500 juta! Isu-isu seperti inilah yang akhirnya memunculkan suara sumbang, hajatan Golkar di Pekanbaru Riau selama tiga hari itu bukan munas, tapi lelang. Siapa yang berani memberikan penawaran tertinggi, dialah yang menang. Itu berarti, Ical-lah yang berani memberikan penawaran tertinggi dalam lelang model tertutup itu, sehingga dia terpilih menjadi ketua umum Partai Golkar periode 2009-2015.

Terlepas isu itu benar atau tidak, yang pasti di era seperti sekarang ini, diperlukan modal jika kita ingin menggapai sesuatu, apalagi kalau sesuatu itu berada di ranah politik. Seorang calon anggota legislatif (caleg) jangan terlalu berharap bisa terpilih jadi anggota DPR jika tidak punya modal kuat. Kalau pun ada caleg yang hanya bermodal Rp 50 juta dan akhirnya menang, itu adalah mujizat, sebab kemungkinannya adalah 1:10.000 (?).

Sadar akan kenyataan itu, teman saya yang mencalonkan diri menjadi bupati di sebuah kabupaten di Jawa Tengah, sudah setahun ini menggalang kekuatan massa dan modal, padahal pilkada-nya baru akan digelar tahun 2010.

Dalam setahun ini dia menggarap para calon pemilihnya dengan berbagai aktivitas yang pastinya memerlukan biaya yang tidak sedikit. Dia tidak segan-segan memberikan dana cash Rp 50.000 kepada setiap orang yang di rumahnya memasang stiker gambar dirinya. Ibarat makan bubur yang disantap di bagian tepinya, dia juga menggarap masyarakat yang tinggal di daerah pinggiran. Strateginya adalah desa mengepung kota. Entah, sudah berapa miliar rupiah dia keluarkan untuk menjadi bupati, padahal untuk menuju ke sana dia tidak punya “kendaraan” politik alias lewat jalur independen.

Zaman memang telah berubah. Di era Presiden Soekarno, bangsa ini mengenal Demokrasi Terpimpin; di era Orde Baru tatkala Presiden Soeharto berkuasa, bangsa ini dikenalkan dan wajib kenal dengan Demokrasi Pancasila. Sedangkan di era reformasi ini, benar apa yang saya dengar dari obrolan di warung kopi, demokrasi yang dikembangkan adalah Demokrasi Transaksi. Tak ada uang, bersiap-siaplah kau kutendang. Ada uang tapi jumlahnya kurang dan tidak lebih besar dari yang lain, “maaf ya jangan salahkan saya kalau saya beralih ke lain hati.”

Saya tidak tahu, masih adakah sesuatu yang bisa diselesaikan tanpa transaksi (uang) di negeri ini? ***

RENUNGAN SEBELUM KITA MENGELUH

October 1st, 2009

MENCARI kata-kata mutiara untuk buku saku tentang Surya Paloh yang sedang saya tulis, beberapa hari lalu saya browsing di internet, dan menemukan banyak kata mutiara berserakan.


Kata-kata mutiara itu saya “pungut”. Saya lumat dengan pikiran dan perasaan saya. Ah, saya ternyata betul-betul manusia tidak sempurna, egois, dan jarang bersyukur atas apa yang saya miliki, padahal Tuhan sudah begitu baik kepada saya dan memberikan semua milik-Nya kepada saya.

Dalam sebuah situs bisnis, saya menemukan rangkuman mutiara hidup yang diberi judul “Sebelum Kita Mengeluh.” Ada 11 butir mutiara di sana. Kesebelas mutiara itu adalah:

1. Hari ini sebelum kamu mengatakan kata-kata yang tidak baik, pikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berbicara sama sekali.

2. Sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu, pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apa pun untuk dimakan.

3. Sebelum Anda mengeluh tidak punya apa-apa, pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta di jalanan.

4. Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk, pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk di dalam hidupnya.

5. Sebelum kamu mengeluh tentang suami atau istrimu, pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Allah untuk diberikan teman hidup.

6. Hari ini sebelum kamu mengeluh tentang hidupmu, pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat.

7. Sebelum kamu mengeluh tentang anak-anakmu, pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul.

8. Sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu yang kotor karena pembantumu tidak mengerjakan tugasnya, pikirkan tentang orang-orang yang tinggal di jalanan.

9. Sebelum kamu mengeluh tentang jauhnya kamu telah menyetir, pikirkan tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan.

10. Di saat Anda lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu, pikirkan tentang pengangguran, orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti Anda.

11. Sebelum kamu menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain, ingatlah bahwa tidak ada seorang pun yang tidak berdosa.***

SETELAH NOORDIN M TOP TEWAS?

September 17th, 2009

Catatan Gantyo Koespradono

SELESAI sudah “perjuangan” Noordin M Top mengusik kedamaian yang dirindukan mayoritas masyarakat Indonesia. Densus 88 Antiteror kemarin benar-benar melumpuhkan pentolan teroris yang paling dicari itu dalam sebuah aksi penggerebekan di sebuah rumah di Solo, Jawa Tengah.Dia bukan saja lumpuh, tapi benar-benar tewas.

Hingga pukul 16.00 (Kamis 17 September 2009), banyak orang yang bertanya-tanya, benar tidak empat orang yang tewas di Solo itu, seorang di antaranya adalah Noordin M Top. Harap maklum jika banyak orang bertanya-tanya, sebab Noordin dalam soal umpet mengumpet, sangat lihai dan licin.

Kepastian bahwa Noordin Top benar-benar tewas terungkap setelah Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri menggelar jumpa pers pukul 16.00. “Berkat dukungan doa seluruh masyarakat, Noordin M Top tewas,” kata Bambang Hendarso yang disambut tepuk tangan dari para wartawan.

Informasi yang saya peroleh dari berbagai sumber, penyergapan atas Noordin Top dan kawan-kawan itu tak kalah seru dengan penyergapan Ibrohim (waktu itu disangka Noordin Top) di sebuah rumah di Kedu, Temanggung, Jawa Tengah, awal Agustus lalu.

Maklum, sesuai dengan prinsip yang dianut, Noordin selalu memberikan perlawanan jika diserang. “Kalau saya mati, maka kamu juga harus mati.” Inilah konsep jihad yang dianut Noordin.

Oleh sebab itu, sebagaimana diberitakan detik.com, polisi langsung disambut tembakan saat mencoba mendobrak pintu rumah kontrakan Adib Susilo di Solo, Jawa Tengah. Rumah inilah yang dipakai Noordin untuk bersembunyi sekaligus meledakkan bom berikutnya, yang menurut polisi, akan dilakukan bertepatan dengan Idul Fitri. Di rumah ini, polisi menemukan bahan baku bom seberat 200 kilogram!

Peluru yang dimuntahkan kolega Noordin membuat polisi mundur dan balas menembak. Baku tembak berlangsung cukup lama, 9 jam! Peluru polisi kemudian mengenai sebuah sepeda motor yang ada di dalam rumah tersebut hingga menyebabkan kebakaran hebat.

Di dalam rumah itu, selain Noordin, ada pula Hadi Susilo alias Adib, Bagus Budi Pranoto (Urwah), Ario Sudarso alias Aji, dan Munawaroh. Masih menurut versi polisi, mereka kemudian bersembunyi di kamar mandi.

Namun Densus 88 tidak menyerah. Tembok kamar mandi pun dijebol untuk melumpuhkan orang-orang tersebut. “Akhirnya mereka bisa dibekuk dan Noordin tewas,” kata Bambang Hendarso.

Selain Noordin, tiga kolega seperjuangan warga negara Malaysia itu juga tewas. Siapa sebenarnya ketiga orang itu. Inilah sosok mereka:

1. Hadi Susilo

Nama ini baru bagi polisi. Dialah orang yang mengontrak rumah yang dipakai Noordin untuk bersembunyi di Solo dan akhirnya digerebek Densus 88.

Dia lulusan Pondok Pesantren Al-Kahfi dan bekerja di pondok pesantren ini. Selama ini Susilo memiliki pekerjaan yang cukup padat dari pagi sampi sore, yaitu mengelola ternak sapi. Dia mendapat tugas mengawasi, mengelola ternak milik pesantren. “Jadi saya sangat tidak yakin dia terlibat teroris,” kata Ketua Yayasan Al-Kahfi Pondok Pesanteren, Sunoto Ahmad.

Susilo masuk pondok pesantren Al-Kahfi tahun 2002, dan lulus tahun 2005. Setelah lulus dia menjadi pengasuh di pondok pesantren, hingga dia tewas. Istrinya yang bernama Putri Munawaroh — dia ada di rumah tersebut dan selamat — selama ini tidak pernah terlibat mengajar pendidikan di pesantren lain, kecual di pesantren Al-Kahfi.

Susilo memiliki ciri fisik antara lain tinggi badan 155 sentimeter, badan agak kurus, selalu memakai baju koko dan celana panjang di atas mata kaki. Sedangkan istrinya selalu berpenampilan dengan baju gamis dan bercadar.

2. Bagus Budi Pranoto

Bagus Budi Pranoto alias Urwah dilahiran di Kudus 2 November 1978. Baginya melakukan aksi terorisme bukan barang baru. Bagus pernah ditangkap bersama Luthfi Haidaroh alias Ubeid dan Deni alias Suramto.

Tahun 2005 Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menjatuhkan vonis 3,5 tahun penjara untuk Urwah karena terbukti membantu dan menyembunyikan Azahari dan Noordin M Top dalam kasus peledakan di Hotel JW Marriott tahun 2003.

Urwah adalah lulusan Pesantren Al-Muttaqien, Sowan Kidul, Jepara. Setelah itu dia melanjutkan pendidikan di Ma’had Aly Annur, Solo (sekolahan ini sekarang sudah pindah ke sebuah lokasi di Sukoharjo). Di An-Nur inilah, Urwah mulai bersentuhan dengan kegiatan radikal setelah berkenalan dengan para pelaku aksi teror.

Urwah, Ubeid, dan Deni adalah teman sekelas di An-Nur. Salah satu guru mereka adalah Syaifuddin Umar alias Abu Fida (yang juga pernah ditangkap dalam kasus yang sama). Abu Fida yang memperkenalkan Urwah dan Ubeid kepada Noordin.

Dari Urwah ini pula Air Setiawan (yang tewas di Jatiasih) mulai tersangkut dengan kasus terorisme. Bersamaan dengan penangkapan Urwah tahun 2004, Air Setiawan saat itu juga ditangkap. Tak lama setelah itu, Air dikembalikan. Dia tidak diajukan ke pengadilan karena tidak cukup bukti.

Selepas dari penjara, sesekali Urwah terlihat di Solo untuk bertemu dengan teman-temannya. Beberapa temannya mengatakan, sepulang dari penjara Urwah tetap menjalin hubungan baik dengan Deni dan Ubeid yang juga sudah bebas. Namun saat itu nyaris tidak ada informasi dia menjalin hubungan lagi dengan Air Setiawan.

Sejak setahun lalu dia sulit dikontak dan menghilang ditelan bumi. Namun kalangan intelijen terus mengamati perubahan perilaku Urwah. “Setahun lalu kami mendengar informasi bahwa Urwah mulai menjauh dari teman-temannya di Solo, Semarang maupun di kota-kota lain. Saat itu kami mulai menganalisa semua kemungkinan. Hingga terjadi peledakan di dua hotel di Jakarta itu, Urwah masih misterius keberadaannya,” ujar seorang aparat intel sebagaimana dikutip detik.com.

Besar kemungkinan, menurut analisis polisi waktu itu, menghilangnya Urwah setelah sepakat dengan Noordin untuk kembali melakukan aksi. Dugaan polisi tidak keliru. Dia memang masih menjalin komunikasi yang begitu harmonis dengan Noordin Top dan akhirnya tewas bersama.

3. Ario Sudarso

Ario Sudarso alias Aji juga diyakini polisi sebagai perakit bom yang diledakkan dalam aksi peledakan bom bunuh diri di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton.

Ariolah yang merakit bom tersebut di kamar 1808 Hotel Marriott. Seperti teroris lainnya, Ario juga mengoleksi banyak nama alias, yaitu Suparjo Dwi Anggoro, Dayat, dan Istam Husamudin.

Berdasarkan data yang diperoleh polisi, alamat terakhir Ario Sudarso di Jalan Penggilingan Raya, Kampung Pisangan RT 10 RW 05, Cakung, Jakarta Timur. Namun warga di sini tidak mengenalnya. Bahkan ketua RT setempat juga tidak mengenal laki-laki ini.

Sebelum tinggal di Cakung, Ario disebut-sebut pernah tinggal di Dusun Gamping, Desa Sidokumpul, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Namun lagi-lagi Ario pintar menyembunyikan identitas, sehingga warga di sini tidak mengenalnya.

Setelah Noordin M Top dan orang dekatnya tewas, sudah amankah Indonesia dari aksi terorisme? “Belum,” jawab Kapolri Bambang Hendarso. Dalam konferensi pers (17/9), Kapolri menyebut dua nama, yaitu Syaifudin Zuhri dan Syahrir. Inilah sosok mereka:

1. Syaifudin Zuhri

Dia pernah mengenyam pendidikan tinggi di Yaman. Namun pria yang pernah ditangkap polisi itu memilih menjadi tukang bekam dan urut keliling. Zuhri terakhir tinggal di Jalan Giring-giring, Sukmajaya, Depok, Jawa Barat.

Banyak kalangan menyebut laki-laki inilah yang bakal menggantikan posisi Noordin Top. Dalam berbagai aksi teror bom, dialah yang oleh polisi dicurigai sebagai perekrut ‘pengantin’ atau pelaku bom bunuh diri.

Syaifudin adalah adik Mohamad Syahrir alias Aing yang juga menjadi salah satu tersangka teroris. Keduanya adalah ipar Ibrohim, tersangka teroris yang tewas dalam penggerebekan di Temanggung, Jawa Tengah, 8 Agustus lalu.

Saifuddin Zuhri oleh kelompoknya pernah disusupkan ke sebuah kompleks perumahan sebagai seorang ustad salafi, salah satu aliran dalam Islam.

Kelompok ini sangat mudah dikenali, yakni mengenakan celana model menggantung di atas mata kaki. Laki-lakinya memelihara jenggot lebat. Selama beberapa pekan mereka sempat tinggal di kompleks tersebut. Namun, penduduk menolak kehadiran mereka.

Polisi pernah menangkap Saifuddin Zuhri di Cilacap pada 21 Juni 2009. Namun karena bukti tidak begitu kuat, polisi kemudian membebaskannya. Belakangan polisi mengendus dia berkasak-kusuk dengan Noordin.

2. Muhammad Syahrir

Laki-laki ini punya hubungan dekat dengan Syaifudin Zuhri dan Ibrohim. Mereka, sebagaimana pernah diungkap INILAH.COM, merupakan bekas kader Partai Keadilan (PK). Ketiganya ternyata masih memiliki pertalian darah dengan kader PKS Tangerang (bekas anggota DPRD Tangerang).

Bahkan dulu Syahrir pernah menjadi kader Partai Keadilan, walaupun akhirnya keluar dari PK. Syahrir alias Aing belakangan diketahui sebagai ahli mesin pesawat terbang dan pernah bekerja di Garuda Indonesia.

Menurut mantan rekan kerjanya di Garuda Indonesia sekaligus eks tetangga, Budi, Syahrir dikenal sebagai sosok yang baik. Hubungan keduanya relatif baik, hampir tiap pagi mereka berangkat bersama-sama ke tempat kerja.

Dari Budi pula diperoleh informasi bahwa Syahrir pernah mengikuti latihan militer di Surabaya. “Waktu itu selama tiga bulan, dikirim oleh Garuda,” kata Budi sebagaimana dikutip Kompas.com.

Pada 2001 Syahrir oleh Garuda dimutasi ke Sulawesi. Setahun kemudian pada 2002, Syahrir mengundurkan diri dari Garuda Indonesia. Dia mengaku ingin berjihad ke Poso.***

NONTON SIARAN LANGSUNG KEMATIAN “TIKUS” NOORDIN TOP

August 8th, 2009

SAAT saya menulis catatan ini, Sabtu 8 Agustus 2009 pukul 11.15, dua televisi berita, Metro TV dan TVOne masih menyiarkan secara langsung proses pemburuan Noordin Muhammad Top di sebuah rumah di Desa Beji, Kedu, Temanggung, Jawa Tengah. Gembong teroris yang paling dicari-cari itu dilaporkan tewas.

Pemburuan atas Noordin sudah dilakukan oleh tim antiteror Detasemen Khusus (Densus) 88 sejak dua hari lalu setelah terendus bahwa Noordin Top bermalam di rumah milik Muhzahri yang terletak di persawahan dan dikitari perbukitan itu.

Namun jika diurut ke belakang, peristiwa di rumah itu merupakan klimaks dari sebuah pemburuan panjang lebih dari lima tahun setelah Noordin dan kawan-kawan, termasuk Azahari bereksperimen dengan bom laknatnya yang mengusik ketenangan banyak orang.

Siaran langsung dua stasiun televisi itu menjadi menarik, sebab boleh jadi, inilah laporan jurnalistik elektronik pertama di Indonesia yang mengajak penonton menyaksikan liputan proses kematian seseorang, dalam hal ini adalah Noordin M Top.

Jutaan pemirsa oleh kedua televisi itu sejak pagi hingga siang ini (mungkin sore nanti) dilibatkan emosinya untuk menyaksikan upacara menyongsong kematian seorang bernama Noordin M Top. Pemirsa secara emosional tentu saja merasa sedang berada di Temanggung, menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana anggota pasukan dari Densus 88 menyergap Noordin.

Saya sendiri membayangkan pemburuan terhadap Noordin sama dengan saat saya, istri, anak-anak dan pembantu rumah tangga saya memburu seekor tikus yang ada di dalam rumah.

Berjam-jam, tim Densus 88 sebagaimana kita saksikan bersama melalui siaran langsung itu, sama dengan tikus, Noordin “pintar” bersembunyi. Dikepung polisi dan disorot kamera televisi dari berbagai sudut pandang, saya - mungkin juga Anda - berharap Noordin segera keluar dan mengibarkan bendera putih setelah rumah, tempat di mana dia bersembunyi digempur dengan tembakan dan bom berkekuatan rendah.

Tapi sampai detik-detik akhir penyerangan, persis seperti tikus, Noordin tak juga menyerah. Dilaporkan, Noordin, seperti juga tikus, bersembunyi di dalam kamar mandi setelah ruang tamu, kamar tidur dan dapur digempur. Saya membayangkan di dalam kamar mandi itu, Noordin jongkok di pokok dinding dengan sangat ketakutan. Sama halnya dengan tikus ketika tak menemukan lubang persembunyian, badannya gemetar.

Berdasarkan informasi, Noordin Top menyimpan bom dan melilitkan bom itu di tubuhnya. Dalam menjalankan misinya sebagai teroris, Noordin Top pantang menyerah, dan tidak mau kalah 0-1. Dia maunya 1-1. Intinya, “kalau aku mati, kamu juga harus mati.” Konkretnya, kalau polisi masuk dan menemukan dirinya, bom akan diledakkan, dan di akhir hayatnya, dia masih sempat berkata: “Matilah, kau!”

Sama dengan tikus, penciuman Noordin M Top juga sangat tajam. Dia bisa mengendus ke mana polisi mengejar dirinya. Oleh sebab itulah sehari sebelum Noordin bermalam di rumah berukuran 5 X 7 meter itu, dia tidur di kuburan yang ada di desa itu.

Jika Noordin yang dicari-cari itu telah tewas, sudah amankah negeri ini dari aksi terorisme? Atau masih akan ada aksi-aksi serupa di kemudian hari? Anda bisa menjawab?***