PERIBAHASA DAN POLITIK PASCAPEMILU 2009
May 11th, 2009KATA-KATA bijak dan peribahasa seharusnya bisa kita jadikan bahan pembelajaran untuk hidup. Tapi sayang, banyak yang mengabaikannya, terutama para politisi pasca-Pemilu 2009. Apa boleh buat “sesal kemudian tiada berguna.”
1. Habis manis sepah dibuang: Inilah perilaku para elite politik kita. Mereka meninggalkan rakyat yang dengan pikiran dan hati telah memilih partai mereka pada pemilu yang lalu. Eh, begitu sudah dapat, suara rakyat dijual belikan demi kekuasaan. Apes.
2. Menepuk air didulang, terpercik muka sendiri: Inilah nasib yang menimpa Soetrisno Bachir. Berlelah-lelah merawat Partai Amanat Nasional (PAN), entah sudah berapa ratus miliar kocek pribadinya keluar untuk membesarkan partai. Eh, belakangan dia nggak dianggap Amien Rais yang membuatnya malu. Dan Bachir pun bernyanyi: “Lebih baik sakit gifi daripada sakit hati.”
3. Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh: Peribahasa ini cocok dijadikan pelajaran buat Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) yang memisahkan diri dari PDI Perjuangan. PDP berharap Pemilu 2009 bisa menyaingi PDI-P; bahkan Laksamana Sukardi yakin bisa jadi presiden. Gimana mau jadi presiden, partai ini cuma dapat suara 0,86. Nasib. Sudah nol koma, di dalam pakai berkelahi lagi. Kabar paling baru, Laksamana Sukardi memecat Roy BB Janis, tapi Janis menolak. Seru!
4. Bagai si bisu berasin, terasa ada, terkatakan tidak. Artinya orang yang malu tidak dapat mengeluarkan isi hatinya mmeskipun tahu apa yang dikatakan. Inilah yang dilakukan sejumlah partai politik yang akan melakukan koalisi, tapi nggak juga terucapkan. Mereka cuma bilang “komunikasi politik.” Padahal di dalam hati mereka ingin berterus terang, kejarlah daku kau kutangkap. SBY juga menganut prinsip ini, dia punya mau, tapi nggak keluar juga sesuatu dari mulutnya. Salah sendiri kalau banyak orang kemudian menganggap dia nggak tegas.
5. Seperti kerbau terjebit leher dihela tanduk panjang, dilakukan badan bersih: Sepertinya ini yang dilakukan dan menimpa PDI-P. Banteng moncong putihnya bukan saja terikat lehernya, tapi juga ditanduk. Megawati inginnya tetap jadi presiden, tapi Ketua Dewan Pertimbangan PDI-P Taufik Kiemas yang suami Megawati inginnya merapat ke Partai Demokrat. Berarti Taufik dong yang nanduk. Tega benar.
6. Bagai telur di ujung tanduk: Nah, kalau urusan intern PDI-P nggak rampung-rampung juga, sangat mungkin PDI-P dalam waktu dekat ini akan berada pada posisi yang sulit. Tempo hari Partai Golkar pernah mengalaminya. Jangan-jangan posisinya juga sulit, karena temannya hanya Partai Hanura.
7. Sambil menyelam minum air: Inilah yang dilakukan para elite politik lewat aksinya “komunikasi politik.” Berkomunikasi sambil melihat peluang dan bisik-bisik, “ada jatah menteri nggak buat gua?” Tapi kalau nggak waspada bisa kelelep. Ini arti harafiahnya peribahasa ini.
8. Umpan habis ikan tak kena: Inilah nasib para caleg yang sudah mengeluarkan banyak uang, tapi tak dapat suara dan melenggang ke Senayan. Demikian juga partai-partai yang cuma dapat suara nol koma, seperti PDP, Partai Matahari, Partai Sarikat Indonesia, Partai Persatuan Daerah, Partai Buruh, Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia, dan sebagainya.
9. Pucuk dicinta ulam pun tiba: Nah inilah yang ditunggu-tunggu Partai Demokrat, akhirnya datang juga PDI-P ke kubu partai itu. Kenapa sih nggak dari dulu?
10.Tak ada rotan akar pun jadi: Tampaknya ini yang dianut Wiranto. Nggak dapat posisi calon presiden, calon wapres pun nggak apa, yang penting punya peluang. Jika terpaksa nggak dapat juga, jadi menteri juga oke. Memangnya siapa yang mau pakai dia jadi menteri?
11. Gajah bertarung sama gajah, pelanduk mati di tengah: Para penggede (elite partai) berebut kekuasaan, yang terabaikan akhirnya rakyat kecil juga.
12. Bagaikan pungguk merindukan bulan: Elite politik yang nggak tahu diri. Perolehan suara partainya nol koma atau nggak cukup, tapi tetap ingin jadi presiden.
13. Ada udang di balik batu: Ini mah peribahasa yang paling gampang artinya. Itulah tabiat para politikus.
14. Buruk muka cermin dibelah: Para politikus seharusnya introspeksi. Tapi mereka nggak mau pada ngaca, sebab kalau itu yang dilakukan, sangat mungkin banyak kaca cermin yang pecah berantakan. Hancur abizzz.***