EDITORIAL TANPA BASA-BASI

January 25th, 2010

“SEPERTI hujan di musim kemarau, Editorial Media Indonesia menghadirkan kelugasan di tengah kegemaran berbasa-basi. Mungkin karena itulah, kehadirannya selalu ditunggu-tunggu.”

Itulah ungkapan Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan dalam kata pengantarnya di buku JUJUR BERSUARA—Proses Kreatif Penulisan Editorial Media Indonesia yang diterbitkan Media Indonesia Publishing bertepatan dengan hari ulang tahun ke-40 Media Indonesia, 19 Januari 2010.

Fakta membuktikan, berdasarkan angket yang disebarkan Media Indonesia pada 2005, sebanyak 77,3% pembaca atau pelanggan koran ini menilai rubrik editorial sebagai yang paling menarik. Angket yang disebarkan setahun sebelumnya juga menunjukkan bahwa 80% responden menilai bahwa Media Indonesia dikenal karena ‘editorial’nya.

Kenyataan seperti itulah yang membuat banyak orang, terutama pelaku media dan mahasiswa komunikasi penasaran, mengapa tajuk rencana koran ini mengundang minat orang untuk membaca; sementara di koran lain (maaf), tajuk rencana adalah rubrik yang paling jarang ditengok, apalagi membaca isinya.

Sangat mungkin, editorial Media Indonesia ditulis dengan cara berbeda, yang menurut Anies Baswedan, tanpa basa-basi. Indonesia dalam klasifikasi antropolog Edward T. Hall (1976), sebagaimana dikutip Anies, dapat digolongkan dalam kategori high context culture (budaya dengan konteks tinggi). Dalam high context culture, pesan disampaikan dengan simbol dan kata-kata yang tidak langsung merujuk kepada persoalan. Maksud disembunyikan dalam kata-kata yang berputar-putar, membiarkan orang yang diajak bicara menebak pesan yang tersirat.

Kebiasaan menyampaikan pesan dengan gaya seperti itulah yang selama ini – apalagi ketika pemerintahan Soeharto berkuasa – digunakan oleh banyak koran dalam editorialnya.

Sejak awal, Media Indonesia melalui editorialnya menjauhi komunikasi basa-basi itu. Maka beralasan jika Anies Baswedan mengatakan, editorial Media Indonesia mampu menghancurkan bendungan yang menahan mengalirnya suara-suara masyarakat luas. “Dengan kerajinannya menyapa masyarakat Indonesia setiap pagi, kita dapat menyebut editorial Media Indonesia sebagai salah satu cermin denyut nadi bangsa Indonesia. Ia merekam setiap detak dari berbagai permasalahan yang dihadapi dalam perjalanan bangsa ini,” begitu komentar mantan angota Tim 8 Kasus Bibi-Chandra itu.

Meskipun begitu, toh, masih banyak orang yang penasaran dengan sikap redaksi surat kabar ini. Banyak pembaca yang bahkan ingin mengetahui lebih dalam siapa penulis editorial tersebut; bagaimana proses kreatifnya, mengapa bahasa jurnalistik yang digunakan seperti itu?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti itulah (kecuali tentang siapa penulis editorial) yang coba diungkap di buku setebal 310 halaman ini. Dengan membaca buku ini, setidaknya kita akan mengetahui duduk perkara apa dan bagaimana awak redaksi menggagas sebuah topik dan kemudian menguntainya menjadi kalimat dan terbungkus manis dalam editorial.

Selain itu, buku ini juga memuat kumpulan editorial pilihan yang selama ini membuat para pembaca tesenyum, bahkan mungkin ikut gemas saat sikap redaksi surat kabar ini ditayangkan di Metro TV. Lebih dari itu, dalam salah satu bab, tim penulis buku tersebut juga menurunkan tulisan hasil liputan wawancara mereka dengan penggemar berat editorial Media Indonesia.

Karenanya apa yang tersaji di dalam buku ini layak dibaca oleh siapa pun, terutama mereka yang peduli kepada perkembangan media dan soal-soal yang tengah dihadapi bangsa. Bukan cuma itu, buku ini juga layak dijadikan referensi bagi para dosen dan mahasiswa komunikasi bagaimana menulis editorial yang baik dan komunikatif.***

MAFIA USAHA, LAWAN!

January 4th, 2010

“MODAL nekat yang hanya mengandalkan semangat menghormati perdagangan bebas sama saja dengan menyerahkan tubuh kita untuk digebuki hingga babak belur.”

Itu adalah kalimat buntut editorial Media Indonesia edisi Senin 21 Desember 2009. Editorial itu ditulis dengan latar belakang niat Indonesia yang tetap ikut memenuhi komitmen untuk terlibat dalam Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN dan China mulai 1 Januari 2010.

Itu berarti mulai tahun 2010 ini pasar kita bakal kian dikepung oleh produk China, baik tekstil, buah-buahan, bumbu masak, maupun mainan anak-anak.

Lalu, apa salahnya dengan produk China, Media Indonesia bertanya? Di sinilah persoalannya. Sudah bukan rahasia lagi, selama ini mutu produk China yang membanjiri pasar kita tidak jauh berbeda dengan produk dalam negeri, bahkan lebih buruk.

Produk China juga masih diragukan keamanannya bagi kesehatan. Selain itu, barang dari ‘Negeri Tirai Bambu’ itu kelewat murah, sehingga produk dalam negeri kalah bersaing dan akhirnya mati.
Saat ini hampir semua jenis produk China melenggang bebas masuk ke negeri ini. Padahal, pada era 1970-an produk China yang diimpor hanya produk yang tidak bisa dibuat di Indonesia.

Dengan demikian, perjanjian perdagangan bebas ASEAN-China amat jelas bakal lebih menguntungkan China daripada negara-negara ASEAN, dan sangat jelas terutama sangat merugikan Indonesia. Data resmi dari Badan Pusat Statistik menunjukkan saat ini saja ekspor kita ke China hanya 5,91%, sedangkan impornya mencapai 8,55%.

Kelak, ketika perdagangan bebas sudah dijalankan, diprediksi ekspor kita hanya naik 2,29% menjadi 8,20%. Tapi, sebaliknya impor kita dari China bakal naik 2,81% menjadi 11,37%. Merebaknya pesimisme itu lebih disebabkan belum mantapnya industri dalam negeri. Industri kita masih dibebani rupa-rupa masalah yang menyebabkan daya saing kita rendah.

Infrastruktur yang buruk, suku bunga bank yang masih tinggi, kurs rupiah yang tidak stabil, serta birokrasi yang berbelit-belit dan korup, semua itu menyebabkan produk Indonesia tidak bisa berbicara banyak.

Kita tidak punya basis yang kuat masuk ke pasar China. Kita juga tidak punya daya tahan yang hebat untuk membendung serbuan produk China. Sejujurnya Indonesia memaksakan diri masuk implementasi perdagangan bebas ASEAN-China.

Jika terus dipaksakan, ya itu tadi, “sama saja dengan menyerahkan tubuh kita untuk digebuki hingga babak belur.”

Soal gebuk menggebuk di negeri ini sebenarnya bukan barang baru. Celakanya yang jadi penggebuk adalah saudara sendiri dan yang jadi korban penggebukan hingga babak belur adalah para petani.

Setidaknya itulah “renungan” awal tahun 2010 yang disampaikan kawan saya, Heru K Wibawa lewat telepon hari Sabtu (2 Januari 2010).

Kawan saya yang satu ini sebelumnya berprofesi sebagai perwira polisi. Dia memutuskan menanggalkan pangkat dan jabatan, karena mengaku tidak sejahtera menjadi polisi, karena institusinya juga sering “menggebuk” anggota masyarakat yang mencari perlindungan hukum.

Dia kini menekuni dunia pertanian. Memasuki sektor ini, dia juga menemukan aksi gebuk yang ujung-ujungnya adalah bagaimana membuat para petani semakin tidak berdaya. Ironisnya yang menggebuk petani adalah bangsa sendiri.

Bentuk penggebukan itu beraneka rupa, mulai dari soal monopoli distribusi pupuk, pengadaan bibit, hingga pengendalian harga yang ditentukan secara sepihak oleh pemodal besar. Celakanya lagi, semua itu melibatkan negara yang seharusnya melindungi petani.

Ujung dari aksi penggebukan ini, menurut Heru Wibawa, gampang ditebak, yaitu mematikan petani berikut produknya, sehingga pemodal besar leluasa mengimpor bahan pangan dari negara-negara lain.

Mafia ternyata tidak hanya di dunia peradilan (hukum), tapi juga di bidang-bidang lain. Para peternak, menurut Heru, juga tidak bisa lagi leluasa beternak unggas, sebab diancam stigma flu burung. Suasana diciptakan sedemikian rupa, sehingga para peternak sangat menggantungkan kepada obat-obatan yang pastinya juga produk dari negara entah mana.

Para peternak pun akhirnya harus mengikuti apa yang dianjurkan petugas lapangan, seperti wajib melakukan vaksinasi bagi ternak-ternak mereka secara berkala. Ini jelas cost bagi para petani (peternak).

Sementara di langkah awal, ketergantungan para peternak ayam misalnya kepada produsen anak ayam (DOC) sangat tinggi. Harga DOC pun ditentukan secara sepihak oleh produsen. Kepada saya, Heru menginformasikan, harga DOC yang dipatok produsen yang dijual ke peternak tetap tinggi meskipun permintaan DOC tidak besar. Dalam kasus ini, hukum ekonomi tidak berlaku. Yang ada adalah hukum besi.

Tapi sebaliknya, ketika para peternak memproduksi ternaknya berlebih, harga kontan jatuh. Memberikan contoh, Heru menjelaskan, harga telur ayam di pasar sekarang Rp 9.000 per kilogram, padahal biaya produksinya Rp 12.000.

Ironisnya lagi, pemerintah tidak berbuat apa-apa melihat kondisi seperti itu. Heru memaklumi, penguasa sedang sibuk mempertahankan diri dalam rangka menyelamatkan harkat dan “kehormatan” dari serangan kasus Bank Century.

Lalu sampai kapan situasi itu berakhir? Heru menegaskan, tidak akan berakhir kecuali kita melawan rezim atau mafia usaha di sektor pertanian.

Caranya? Heru menyebut memberdayakan potensi atau teknologi temuan anak bangsa sendiri. Berkat ketekunannya, baru-baru ini Heru menemukan formula yang dinamakan Ponti.

Formula temuannya itu selain bisa digunakan untuk membudidayakan ayam organik, juga bisa dipakai untuk pupuk organik.

Dengan menggunakan Ponti — untuk sementara ini Heru memakainya untuk makanan ayam – ayam organik Heru tahan penyakit, masa panen lebih cepat, dan tidak perlu vaksinasi seperti yang dilakukan peternak lain. Flu burung juga tidak mempan merasuk ke tubuh ayam organik Ponti.

Banyak anak bangsa ini yang juga berhasil menemukan teknologi-teknologi baru di bidang pertanian dan peternakan. Temuan-temuan seperti inilah, yang menurut Heru, bisa dipakai untuk melawan birokrat-birokrat korup yang cuma mementingkan perutnya sendiri.

Jika memang sudah siap semuanya – termasuk memberdayakan para petani dan peternak bermodal kecil – Indonesia bisa saja ikut dalam program perdagangan bebas ASEAN-China.

Tapi jika situasinya masih seperti sekarang di mana pengusaha bermodal kuat bernafsu mematikan usaha kecil, jangan berharap Indonesia akan berjaya. Kabar terakhir, harga daging ayam di pasar sekarang ini Rp 10.000 per kilogram, padahal biaya produksi di tingkat peternak Rp 11.000. Lha, kalau begini, kapan manusia Indonesia bisa bertahan hidup?

Tidak berlebihan jika editorial Media Indonesia edisi Senin 4 Januari 2009 menulis: “Daya saing industri kita juga amat lemah akibat absennya strategi. Kalangan usaha dalam negeri selama ini berhadapan dengan banyak ketidakpastian, seperti tingginya suku bunga kredit, mahalnya listrik, hingga mengguritanya upeti dari birokrasi.”

Bukankah itu sama saja anak bangsa memakan anak bangsanya sendiri. Sampai kapan kita tega berbuat seperti ini?***

CARA ANDAL JADI TENAR

October 16th, 2009

“MAS, ajarin menulis dong.” Inilah kata-kata banyak teman yang kerap ditujukan kepada saya dalam berbagai kesempatan setelah mengetahui saya sering menulis di blog dan note di Facebook.


Dilatarbelakangi permintaan-permintaan itulah yang antara lain mendorong saya untuk menulis buku “CARA ANDAL JADI TERKENAL — Kreatif Menulis Efektif di New Media.” Buku ini diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama dan telah beredar di toko buku sejak tanggal 13 Oktober 2009.

Namun di luar itu, saya termotivasi menulis buku ini juga lantaran dorongan teman-teman saya, seperti Putu Laxman dan Andrias Harefa yang menjunjung tinggi semangat betapa pentingnya melestarikan gagasan dan pengetahuan lewat sebuah karya tulis. Diakui atau tidak, buah pikiran yang tertuang dalam tulisan sedikit banyak ikut mempengaruhi peradaban sebuah bangsa. Kita tidak bisa bayangkan, apakah mungkin ada kitab suci jika tidak ada orang yang tergerak untuk menulis.

Oleh sebab itulah ketika new media, seperti Facebook, blog, Twitter, Flixter, citizen journalism, web dan sebagainya merambah kehidupan manusia di era teknologi informasi komunikasi seperti sekarang, saya berusaha semaksimal mungkin memanfaatkan medium ala dunia maya itu. Selain gratis, new media ini ternyata sangat efektif untuk membentuk opini publik dan ujung-ujungnya mengangkat dan mengharumkan nama kita. Cepat atau lambat, kita pun menjadi terkenal, bahkan kaya.

Dosa rasanya kalau saya tidak berbagi pengalaman menyenangkan itu kepada banyak kawan, terutama yang minta dipandu bagaimana kreatif menulis di new media.

Untuk memudahkan bagi yang membaca buku tersebut, saya sangaja merangkai kalimat dan tips bagaimana menulis dengan bahasa santai atau bersahaja dengan contoh-contoh sederhana. Karenanya buku ini juga cocok buat mahasiswa komunikasi, khususnya jurnalistik, yang belajar bagaimana menulis berita (ada bab khusus tentang citizen journalism). Di bab ini, saya memberikan panduan bagaimana memilih jenis-jenis lead yang komunikatif.

Tidak bisa dimungkiri, keterampilan menulis kini diperlukan oleh siapa pun jika kita tidak mau dianggap gagap di era teknologi informasi komunikasi. Mengirim SMS, kita harus menulis. Membuat status di Facebook, mau tidak mau kita harus berpikir bagaimana menyusun kalimat. Apalagi mengungkapkan gagasan lewat blog, surat pembaca, berpartisipasi di jurnalisme warga (citizen journalism), dan sebagainya, wajib hukumnya bagi siapa pun untuk bisa menulis.

Banyak orang bilang, menulis itu sulit? Membaca buku ini, saya jamin, Anda akan berkata sebaliknya: gampang banget, karena saya mengungkapkan apa dan bagaimana duduk perkaranya.

Namun di luar itu, motivator Arvan Pradiansyah dalam komentarnya (endorsment) di buku saya mengingatkan, tujuan hidup kita bukanlah untuk terkenal tapi untuk berbagi dan memberi manfaat bagi orang lain. “Dalam buku ini Gantyo membeberkan tips-tips yang menarik dan berharga dalam memanfaatkan new media, seperti Facebook untuk berbagi. Menjadi terkenal dengan demikian hanyalah sebuah konsekuensi logis dari tindakan berbagi,” kata penulis buku best-seller The 7 Laws of Happiness & Host Talkshow Smart Happiness di SmartFM Network ini.

Teman saya Djadjat Sudradjat, Pemimpin Redaksi Lampung Post di buku saya membuat catatan pengarang Inggris klasik Emily Bronte hanya menulis satu novel berjudul Wuthering Heights, tapi fiksi semata wayang itu melambungkan setinggi bintang pengarangnya.

Padahal, Bronte lahir dan hidup di Inggris abad 19. Bayangkan jika ia hidup sekarang ketika dunia maya telah menyatukan kita. Pasti namanya akan amat cepat menjulang di seantero jagat.

Barack Obama dan JK Rowling adalah contoh lain yang mendapat berkah luar biasa dari menulis di zaman ini. Nama Obama melambung, selain karena kapasitas kepemimpinan yang kuat, juga karena buku Dreams From My Father: A Story of Race and Inheritance dan The Audacity of Hope; Thoughts on Reclaming The American Dream, laris-manis. JK Rowling, sang pengarang Harry Potter, kini menjadi salah satu perempuan terkaya dan paling popular di dunia.

Djadjat mengatakan, selain melambungkan nama juga bisa mendatangkan banyak fulus. Tidak terkecuali menulis di jejaring sosial Facebook, dunia yang dalam waktu sekejap, jika cerdik memanfaatkannya, bisa melambungkan siapa saja.

“Gantyo tidak sekadar ngecap, tapi memberi contoh. Ia wartawan dan pengajar yang tak pernah bosan belajar; wartawan senior yang semangatnya tak pernah kendor. Baginya hidup adalah menulis. Sebab, ia nikmat dan profit, karena itu terlalu sayang untuk tidak dicintai! Inilah Cara andal untuk menjadi tenar,” katanya. Terimakasih Kang Djadjat.

Sedangkan di mata Andrias Harefa, penulis 30 buku sest-seller, buku “CARA ANDAL JADI TENAR” meneguhkan kembali pandangannya bahwa menulis itu untuk semua orang. Medianya bisa apa saja, termasuk pesan pendek (SMS), surel (email), milis, situs, blog, dan belakangan fesbuk, atau yang lainnya.

“Seperti halnya berenang dan bersepeda, menulis tidak memerlukan bakat khusus, kecuali bila targetnya menjadi penulis kelas dunia. Dengan menyimak buku ini, saya harap pembaca akan segera terdorong untuk menulis dan tetap menulis untuk menyatakan kehadiran di planet bumi ini. Bacalah!,” katanya.

Christovita Wiloto, Managing Partner PowerPR berkomentar, sebuah fenomena yang luar biasa di era saat ini. Seperti juga Facebook, buku terbaru Gantyo ini, tulis Christov dalam komentarnya, juga merupakan terobosan di dunia komunikasi. “Sangat fresh, hot sesuai konteks saat ini. Idenya yang sangat strategis dikemas dengan sangat praktis dan mudah dicerna,” katanya.

Terimakasih kawan-kawan.

GOLKAR, LELANG DAN DEMOKRASI TRANSAKSI

October 8th, 2009

BANYAK yang bilang, hajatan Partai Golkar di Pekanbaru, Riau 5-7 Oktober lalu bukan Musyawarah Nasional (Munas), tapi lelang; siapa yang berani menawar harga paling tinggi untuk jabatan ketua umum, dialah yang bakal memenang.

Ada empat kandidat calon ketua umum partai berlambang beringin itu yang memperebutkan jabatan ketua umum. Mereka adalah Aburizal Bakrie, Surya Paloh, Hutomo Mandala Putra dan Yuddy Chrisnandi.

Dari keempat calon itu, hanya Yuddy yang mengaku datang ke arena lelang dengan modal cekak, bahkan tanpa modal sama sekali. Hasilnya sudah bisa ditebak, dia terdepak meskipun lolos verifikasi. Hutomo Mandala Putra alias Tommy, meskipun masih menyimpan banyak uang, di arena munas, putra Pak Harto ini tenang-tenang saja. Dia mencalonkan diri sebagai ketua umum tampaknya tanpa beban dan menganut prinsip “dipilih syukur, nggak terpilih emangnya gue pikirin.”

Yang paling bernafsu untuk memenangi pertarungan jabatan ketua umum adalah Aburizal Bakrie dan Surya Paloh. Jauh sebelum munas, kedua tokoh ini sudah menggalang kekuatan dengan pengerahan massa, bahkan melakukan “perang” iklan di media massa. Lobi-lobi dengan pemegang hak suara mereka lakukan di daerah. Miliaran rupiah pasti keluar guna keperluan membangun citra ini.

Untuk meyakinkan bahwa sekarang ini Golkar butuh uang, Aburizal Bakrie jauh-jauh hari berjanji jika terpilih jadi ketua umum, dia akan mengisi brankas partai itu dengan uang Rp 1 triliun. Niatnya itu tak urung membuat telinga para korban lumpur Lapindo Sidoarjo panas. Pasalnya Ical (Aburizal Bakrie) belum memenuhi kewajiban memberikan ganti rugi kepada sebagian korban “bernafas dalam lumpur” itu yang kalau ditotal nggak jauh-jauh amat dari nilai Rp 1 triliun. “Lha, kalau punya uang segitu, mbok ya bayar dulu itu korban lumpur Lapindo,” kata seorang warga Sidoarjo yang ditampilkan di acara Kick Andy Metro TV.

Akan halnya Surya Paloh. Dia memang tidak menjanjikan apa-apa, kecuali ingin mengembalikan kejayaan Golkar dan membangkitkan partai ini dari kuburnya. Tapi dalam rangka untuk menjadi Golkar-1, dia juga sudah habis-habisan untuk menjamu para pendukungnya, antara lain membiayai penginapan di hotel, transportasi dengan mencarter pesawat, menyiapkan mobil/bus di lapangan, dan mengajak pendukungnya “berlibur” ke Bali.

Di arena munas, santer terdengar isu, satu suara bertarif Rp 500 juta! Isu-isu seperti inilah yang akhirnya memunculkan suara sumbang, hajatan Golkar di Pekanbaru Riau selama tiga hari itu bukan munas, tapi lelang. Siapa yang berani memberikan penawaran tertinggi, dialah yang menang. Itu berarti, Ical-lah yang berani memberikan penawaran tertinggi dalam lelang model tertutup itu, sehingga dia terpilih menjadi ketua umum Partai Golkar periode 2009-2015.

Terlepas isu itu benar atau tidak, yang pasti di era seperti sekarang ini, diperlukan modal jika kita ingin menggapai sesuatu, apalagi kalau sesuatu itu berada di ranah politik. Seorang calon anggota legislatif (caleg) jangan terlalu berharap bisa terpilih jadi anggota DPR jika tidak punya modal kuat. Kalau pun ada caleg yang hanya bermodal Rp 50 juta dan akhirnya menang, itu adalah mujizat, sebab kemungkinannya adalah 1:10.000 (?).

Sadar akan kenyataan itu, teman saya yang mencalonkan diri menjadi bupati di sebuah kabupaten di Jawa Tengah, sudah setahun ini menggalang kekuatan massa dan modal, padahal pilkada-nya baru akan digelar tahun 2010.

Dalam setahun ini dia menggarap para calon pemilihnya dengan berbagai aktivitas yang pastinya memerlukan biaya yang tidak sedikit. Dia tidak segan-segan memberikan dana cash Rp 50.000 kepada setiap orang yang di rumahnya memasang stiker gambar dirinya. Ibarat makan bubur yang disantap di bagian tepinya, dia juga menggarap masyarakat yang tinggal di daerah pinggiran. Strateginya adalah desa mengepung kota. Entah, sudah berapa miliar rupiah dia keluarkan untuk menjadi bupati, padahal untuk menuju ke sana dia tidak punya “kendaraan” politik alias lewat jalur independen.

Zaman memang telah berubah. Di era Presiden Soekarno, bangsa ini mengenal Demokrasi Terpimpin; di era Orde Baru tatkala Presiden Soeharto berkuasa, bangsa ini dikenalkan dan wajib kenal dengan Demokrasi Pancasila. Sedangkan di era reformasi ini, benar apa yang saya dengar dari obrolan di warung kopi, demokrasi yang dikembangkan adalah Demokrasi Transaksi. Tak ada uang, bersiap-siaplah kau kutendang. Ada uang tapi jumlahnya kurang dan tidak lebih besar dari yang lain, “maaf ya jangan salahkan saya kalau saya beralih ke lain hati.”

Saya tidak tahu, masih adakah sesuatu yang bisa diselesaikan tanpa transaksi (uang) di negeri ini? ***

RENUNGAN SEBELUM KITA MENGELUH

October 1st, 2009

MENCARI kata-kata mutiara untuk buku saku tentang Surya Paloh yang sedang saya tulis, beberapa hari lalu saya browsing di internet, dan menemukan banyak kata mutiara berserakan.


Kata-kata mutiara itu saya “pungut”. Saya lumat dengan pikiran dan perasaan saya. Ah, saya ternyata betul-betul manusia tidak sempurna, egois, dan jarang bersyukur atas apa yang saya miliki, padahal Tuhan sudah begitu baik kepada saya dan memberikan semua milik-Nya kepada saya.

Dalam sebuah situs bisnis, saya menemukan rangkuman mutiara hidup yang diberi judul “Sebelum Kita Mengeluh.” Ada 11 butir mutiara di sana. Kesebelas mutiara itu adalah:

1. Hari ini sebelum kamu mengatakan kata-kata yang tidak baik, pikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berbicara sama sekali.

2. Sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu, pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apa pun untuk dimakan.

3. Sebelum Anda mengeluh tidak punya apa-apa, pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta di jalanan.

4. Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk, pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk di dalam hidupnya.

5. Sebelum kamu mengeluh tentang suami atau istrimu, pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Allah untuk diberikan teman hidup.

6. Hari ini sebelum kamu mengeluh tentang hidupmu, pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat.

7. Sebelum kamu mengeluh tentang anak-anakmu, pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul.

8. Sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu yang kotor karena pembantumu tidak mengerjakan tugasnya, pikirkan tentang orang-orang yang tinggal di jalanan.

9. Sebelum kamu mengeluh tentang jauhnya kamu telah menyetir, pikirkan tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan.

10. Di saat Anda lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu, pikirkan tentang pengangguran, orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti Anda.

11. Sebelum kamu menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain, ingatlah bahwa tidak ada seorang pun yang tidak berdosa.***

SETELAH NOORDIN M TOP TEWAS?

September 17th, 2009

Catatan Gantyo Koespradono

SELESAI sudah “perjuangan” Noordin M Top mengusik kedamaian yang dirindukan mayoritas masyarakat Indonesia. Densus 88 Antiteror kemarin benar-benar melumpuhkan pentolan teroris yang paling dicari itu dalam sebuah aksi penggerebekan di sebuah rumah di Solo, Jawa Tengah.Dia bukan saja lumpuh, tapi benar-benar tewas.

Hingga pukul 16.00 (Kamis 17 September 2009), banyak orang yang bertanya-tanya, benar tidak empat orang yang tewas di Solo itu, seorang di antaranya adalah Noordin M Top. Harap maklum jika banyak orang bertanya-tanya, sebab Noordin dalam soal umpet mengumpet, sangat lihai dan licin.

Kepastian bahwa Noordin Top benar-benar tewas terungkap setelah Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri menggelar jumpa pers pukul 16.00. “Berkat dukungan doa seluruh masyarakat, Noordin M Top tewas,” kata Bambang Hendarso yang disambut tepuk tangan dari para wartawan.

Informasi yang saya peroleh dari berbagai sumber, penyergapan atas Noordin Top dan kawan-kawan itu tak kalah seru dengan penyergapan Ibrohim (waktu itu disangka Noordin Top) di sebuah rumah di Kedu, Temanggung, Jawa Tengah, awal Agustus lalu.

Maklum, sesuai dengan prinsip yang dianut, Noordin selalu memberikan perlawanan jika diserang. “Kalau saya mati, maka kamu juga harus mati.” Inilah konsep jihad yang dianut Noordin.

Oleh sebab itu, sebagaimana diberitakan detik.com, polisi langsung disambut tembakan saat mencoba mendobrak pintu rumah kontrakan Adib Susilo di Solo, Jawa Tengah. Rumah inilah yang dipakai Noordin untuk bersembunyi sekaligus meledakkan bom berikutnya, yang menurut polisi, akan dilakukan bertepatan dengan Idul Fitri. Di rumah ini, polisi menemukan bahan baku bom seberat 200 kilogram!

Peluru yang dimuntahkan kolega Noordin membuat polisi mundur dan balas menembak. Baku tembak berlangsung cukup lama, 9 jam! Peluru polisi kemudian mengenai sebuah sepeda motor yang ada di dalam rumah tersebut hingga menyebabkan kebakaran hebat.

Di dalam rumah itu, selain Noordin, ada pula Hadi Susilo alias Adib, Bagus Budi Pranoto (Urwah), Ario Sudarso alias Aji, dan Munawaroh. Masih menurut versi polisi, mereka kemudian bersembunyi di kamar mandi.

Namun Densus 88 tidak menyerah. Tembok kamar mandi pun dijebol untuk melumpuhkan orang-orang tersebut. “Akhirnya mereka bisa dibekuk dan Noordin tewas,” kata Bambang Hendarso.

Selain Noordin, tiga kolega seperjuangan warga negara Malaysia itu juga tewas. Siapa sebenarnya ketiga orang itu. Inilah sosok mereka:

1. Hadi Susilo

Nama ini baru bagi polisi. Dialah orang yang mengontrak rumah yang dipakai Noordin untuk bersembunyi di Solo dan akhirnya digerebek Densus 88.

Dia lulusan Pondok Pesantren Al-Kahfi dan bekerja di pondok pesantren ini. Selama ini Susilo memiliki pekerjaan yang cukup padat dari pagi sampi sore, yaitu mengelola ternak sapi. Dia mendapat tugas mengawasi, mengelola ternak milik pesantren. “Jadi saya sangat tidak yakin dia terlibat teroris,” kata Ketua Yayasan Al-Kahfi Pondok Pesanteren, Sunoto Ahmad.

Susilo masuk pondok pesantren Al-Kahfi tahun 2002, dan lulus tahun 2005. Setelah lulus dia menjadi pengasuh di pondok pesantren, hingga dia tewas. Istrinya yang bernama Putri Munawaroh — dia ada di rumah tersebut dan selamat — selama ini tidak pernah terlibat mengajar pendidikan di pesantren lain, kecual di pesantren Al-Kahfi.

Susilo memiliki ciri fisik antara lain tinggi badan 155 sentimeter, badan agak kurus, selalu memakai baju koko dan celana panjang di atas mata kaki. Sedangkan istrinya selalu berpenampilan dengan baju gamis dan bercadar.

2. Bagus Budi Pranoto

Bagus Budi Pranoto alias Urwah dilahiran di Kudus 2 November 1978. Baginya melakukan aksi terorisme bukan barang baru. Bagus pernah ditangkap bersama Luthfi Haidaroh alias Ubeid dan Deni alias Suramto.

Tahun 2005 Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menjatuhkan vonis 3,5 tahun penjara untuk Urwah karena terbukti membantu dan menyembunyikan Azahari dan Noordin M Top dalam kasus peledakan di Hotel JW Marriott tahun 2003.

Urwah adalah lulusan Pesantren Al-Muttaqien, Sowan Kidul, Jepara. Setelah itu dia melanjutkan pendidikan di Ma’had Aly Annur, Solo (sekolahan ini sekarang sudah pindah ke sebuah lokasi di Sukoharjo). Di An-Nur inilah, Urwah mulai bersentuhan dengan kegiatan radikal setelah berkenalan dengan para pelaku aksi teror.

Urwah, Ubeid, dan Deni adalah teman sekelas di An-Nur. Salah satu guru mereka adalah Syaifuddin Umar alias Abu Fida (yang juga pernah ditangkap dalam kasus yang sama). Abu Fida yang memperkenalkan Urwah dan Ubeid kepada Noordin.

Dari Urwah ini pula Air Setiawan (yang tewas di Jatiasih) mulai tersangkut dengan kasus terorisme. Bersamaan dengan penangkapan Urwah tahun 2004, Air Setiawan saat itu juga ditangkap. Tak lama setelah itu, Air dikembalikan. Dia tidak diajukan ke pengadilan karena tidak cukup bukti.

Selepas dari penjara, sesekali Urwah terlihat di Solo untuk bertemu dengan teman-temannya. Beberapa temannya mengatakan, sepulang dari penjara Urwah tetap menjalin hubungan baik dengan Deni dan Ubeid yang juga sudah bebas. Namun saat itu nyaris tidak ada informasi dia menjalin hubungan lagi dengan Air Setiawan.

Sejak setahun lalu dia sulit dikontak dan menghilang ditelan bumi. Namun kalangan intelijen terus mengamati perubahan perilaku Urwah. “Setahun lalu kami mendengar informasi bahwa Urwah mulai menjauh dari teman-temannya di Solo, Semarang maupun di kota-kota lain. Saat itu kami mulai menganalisa semua kemungkinan. Hingga terjadi peledakan di dua hotel di Jakarta itu, Urwah masih misterius keberadaannya,” ujar seorang aparat intel sebagaimana dikutip detik.com.

Besar kemungkinan, menurut analisis polisi waktu itu, menghilangnya Urwah setelah sepakat dengan Noordin untuk kembali melakukan aksi. Dugaan polisi tidak keliru. Dia memang masih menjalin komunikasi yang begitu harmonis dengan Noordin Top dan akhirnya tewas bersama.

3. Ario Sudarso

Ario Sudarso alias Aji juga diyakini polisi sebagai perakit bom yang diledakkan dalam aksi peledakan bom bunuh diri di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton.

Ariolah yang merakit bom tersebut di kamar 1808 Hotel Marriott. Seperti teroris lainnya, Ario juga mengoleksi banyak nama alias, yaitu Suparjo Dwi Anggoro, Dayat, dan Istam Husamudin.

Berdasarkan data yang diperoleh polisi, alamat terakhir Ario Sudarso di Jalan Penggilingan Raya, Kampung Pisangan RT 10 RW 05, Cakung, Jakarta Timur. Namun warga di sini tidak mengenalnya. Bahkan ketua RT setempat juga tidak mengenal laki-laki ini.

Sebelum tinggal di Cakung, Ario disebut-sebut pernah tinggal di Dusun Gamping, Desa Sidokumpul, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Namun lagi-lagi Ario pintar menyembunyikan identitas, sehingga warga di sini tidak mengenalnya.

Setelah Noordin M Top dan orang dekatnya tewas, sudah amankah Indonesia dari aksi terorisme? “Belum,” jawab Kapolri Bambang Hendarso. Dalam konferensi pers (17/9), Kapolri menyebut dua nama, yaitu Syaifudin Zuhri dan Syahrir. Inilah sosok mereka:

1. Syaifudin Zuhri

Dia pernah mengenyam pendidikan tinggi di Yaman. Namun pria yang pernah ditangkap polisi itu memilih menjadi tukang bekam dan urut keliling. Zuhri terakhir tinggal di Jalan Giring-giring, Sukmajaya, Depok, Jawa Barat.

Banyak kalangan menyebut laki-laki inilah yang bakal menggantikan posisi Noordin Top. Dalam berbagai aksi teror bom, dialah yang oleh polisi dicurigai sebagai perekrut ‘pengantin’ atau pelaku bom bunuh diri.

Syaifudin adalah adik Mohamad Syahrir alias Aing yang juga menjadi salah satu tersangka teroris. Keduanya adalah ipar Ibrohim, tersangka teroris yang tewas dalam penggerebekan di Temanggung, Jawa Tengah, 8 Agustus lalu.

Saifuddin Zuhri oleh kelompoknya pernah disusupkan ke sebuah kompleks perumahan sebagai seorang ustad salafi, salah satu aliran dalam Islam.

Kelompok ini sangat mudah dikenali, yakni mengenakan celana model menggantung di atas mata kaki. Laki-lakinya memelihara jenggot lebat. Selama beberapa pekan mereka sempat tinggal di kompleks tersebut. Namun, penduduk menolak kehadiran mereka.

Polisi pernah menangkap Saifuddin Zuhri di Cilacap pada 21 Juni 2009. Namun karena bukti tidak begitu kuat, polisi kemudian membebaskannya. Belakangan polisi mengendus dia berkasak-kusuk dengan Noordin.

2. Muhammad Syahrir

Laki-laki ini punya hubungan dekat dengan Syaifudin Zuhri dan Ibrohim. Mereka, sebagaimana pernah diungkap INILAH.COM, merupakan bekas kader Partai Keadilan (PK). Ketiganya ternyata masih memiliki pertalian darah dengan kader PKS Tangerang (bekas anggota DPRD Tangerang).

Bahkan dulu Syahrir pernah menjadi kader Partai Keadilan, walaupun akhirnya keluar dari PK. Syahrir alias Aing belakangan diketahui sebagai ahli mesin pesawat terbang dan pernah bekerja di Garuda Indonesia.

Menurut mantan rekan kerjanya di Garuda Indonesia sekaligus eks tetangga, Budi, Syahrir dikenal sebagai sosok yang baik. Hubungan keduanya relatif baik, hampir tiap pagi mereka berangkat bersama-sama ke tempat kerja.

Dari Budi pula diperoleh informasi bahwa Syahrir pernah mengikuti latihan militer di Surabaya. “Waktu itu selama tiga bulan, dikirim oleh Garuda,” kata Budi sebagaimana dikutip Kompas.com.

Pada 2001 Syahrir oleh Garuda dimutasi ke Sulawesi. Setahun kemudian pada 2002, Syahrir mengundurkan diri dari Garuda Indonesia. Dia mengaku ingin berjihad ke Poso.***

EPISODE SERU “KPK VS POLISI”

September 17th, 2009

Catatan Gantyo Koespradono


AKSI melawan korupsi selalu mendapat lawan tanding. Gemas terhadap “perang” tidak seimbang antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kepolisian, pagi tadi (Kamis 17 September) di Facebook, saya menulis status: “KPK vs Polisi adalah sinetron paling seru di negeri ini. Pemeran utama: koruptor; pemeran pembantu: koruptor; produser: koruptor; sutradara: koruptor. Jam tayang: sampai kiamat.”

Hingga pukul 13.00, status itu dikomentari banyak teman. Mereka sama-sama gemas dengan perilaku para koruptor di negeri ini. “Mungkin pengadilan yang sesungguhnya pas hari kiamat kali Pak? Episode terakhirnya, koruptor mati keluar duit dari mulutnya. Ratingnya pasti mengalahkan aksi penggerebekan teroris,” tulis Muhammad Isnaeni Pamungkas.

Saya sendiri sampai sekarang masih meraba-raba, siapa “sutradara, penulis skenario dan produser” sinetron “KPK vs Polisi” yang akhir ceritanya sudah bisa ditebak, KPK masuk rumah sakit dan lalu mati termehek-mehek.

Sang komandan KPK Antasari Azhar jauh-jauh hari sudah dicokok polisi lantaran terlibat dalam kasus pembunuhan terhadap seorang direktur perusahaan milik negara. Apes-apes, biang keroknya ternyata gara-gara rebutan seorang perempuan yang berprofesi sevagai caddy. Apa mau dikata, kelakuannya dijadikan argumentasi “harap maklum” bagi polisi untuk mengerdilkan dan memojokkan KPK.

Episode berikutnya giliran Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto yang oleh sutradara harus tayang. Para Wakil Ketua KPK ini pada Selasa (15 September) malam, ditetapkan sebagai tersangka setelah dijadikan bulan-bulanan oleh polisi. Keduanya disangka menyalahgunakan wewenang. Konsekuensinya, keduanya pun harus nonaktif dari kepemimpinan KPK sesuai Pasal 32 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK.

Polisi menuding Bibit menyalahgunakan wewenang, yaitu menandatangani surat pencegahan dan pencabutan pencegahan terhadap Djoko S Tjandra, Direktur PT Era Giat Prima. Djoko, yang kini tidak diketahui keberadaannya, semula diduga terlibat dugaan suap pada jaksa Urip Tri Gunawan oleh pengusaha Artalyta Suryani.

Sedangkan Chandra dijadikan tersangka, karena menandatangani surat pencegahan untuk Anggoro. Pencegahan itu diduga dikeluarkan sebelum ada perintah dimulainya penyelidikan kasus korupsi sistem komunikasi radio terpadu (SKRT) di Departemen Kehutanan, yang melibatkan Anggoro. Direktur PT Masaro itu terekam dan dicegah sewaktu KPK menelusuri korupsi alih fungsi hutan untuk pembangunan Pelabuhan Tanjung Api-api di Sumatera Selatan. Anggoro masih dicegah meski dipastikan ia kini berada di luar negeri.

Dengan begitu, maka “pelawan korupsi” yang kini masih tersisa di KPK tinggal dua orang, yaitu Haryono Umar dan M Jasin. Banyak yang memerkirakan, cepat atau lambat, kedua orang ini juga akan dilibas.

Saya tidak terlalu mengenal sosok Haryono Umar, apakah dia punya kelemahan. Sedangkan M Jasin, saya mengenalnya setelah beberapa kali mewawancarainya dalam acara talkshow di Radio Trijaya dan Ramako (sekarang Lite FM Jakarta).

Saya melihat Jasin sebagai sosok yang sederhana. Dia mengaku tinggal di rumah sederhana tipe 36 di kawasan Bekasi. Kalaupun ada “cacat” sebagaimana pernah diberitakan oleh media massa, dia pernah diberi amplop berisi uang 10.000 dollar AS oleh mantan Ketua KPK Antasari Azhar terkait penanganan kasus korupsi Sistem Komunikasi Radio Terpadu (SKRT) antara Departemen Kehutanan dan PT Masaro.

Waktu itu, amplop diselipkan ke saku kemejanya ketika berada di Malang. “Itu diberikan pada waktu itu istri saya sedang sakit di rumah sakit. Itu bukan diberikan, tapi dimasukkan ke saku baju,” tutur Jasin suatu kali dalam sebuah konferensi pers di Gedung KPK.

Saat itu, sebagaimana ditulis Tempo, Jasin berusaha menolak, karena pemberian itu dianggapnya sebagai gratifikasi. Namun Antasari memaksanya, sebab uang itu adalah pemberian pribadi sebagai atasan yang peduli kepada bawahan.

Jasin tetap menganggap “ada udang di balik amplop” dan langsung dilaporkan sebagai gratifikasi dan dikembalikan ke kas negara sebelum tenggang 30 hari berakhir.

“Setiap penerimaan sekecil apa pun harus dikembalikan. Jangankan uang, pulpen seperti ini saja harus dikembalikan dan dilaporkan sebagai gratifikasi,” tandas Jasin.

Jika memang akhir dari semuanya ini KPK harus mati, maka tamat sudah perlawanan bangsa ini terhadap korupsi. Namun di luar itu, sebagaimana ditulis Media Indonesia dalam editorialnya, kita tentu berkepentingan KPK harus tetap hidup.

Dalam editorial itu, Media Indonesia menulis, para pemimpin KPK adalah manusia biasa. Mereka bisa saja tergoda oleh suap dan korupsi sebagaimana pimpinan di lembaga-lembaga lain.

Akan tetapi, KPK sebagai lembaga harus diterima sebagai sebuah keharusan untuk dipertahankan dengan sekuat tenaga. Jika pimpinannya yang salah, ya hukum saja mereka, jangan lembaganya yang dibunuh.***

NONTON SIARAN LANGSUNG KEMATIAN “TIKUS” NOORDIN TOP

August 8th, 2009

SAAT saya menulis catatan ini, Sabtu 8 Agustus 2009 pukul 11.15, dua televisi berita, Metro TV dan TVOne masih menyiarkan secara langsung proses pemburuan Noordin Muhammad Top di sebuah rumah di Desa Beji, Kedu, Temanggung, Jawa Tengah. Gembong teroris yang paling dicari-cari itu dilaporkan tewas.

Pemburuan atas Noordin sudah dilakukan oleh tim antiteror Detasemen Khusus (Densus) 88 sejak dua hari lalu setelah terendus bahwa Noordin Top bermalam di rumah milik Muhzahri yang terletak di persawahan dan dikitari perbukitan itu.

Namun jika diurut ke belakang, peristiwa di rumah itu merupakan klimaks dari sebuah pemburuan panjang lebih dari lima tahun setelah Noordin dan kawan-kawan, termasuk Azahari bereksperimen dengan bom laknatnya yang mengusik ketenangan banyak orang.

Siaran langsung dua stasiun televisi itu menjadi menarik, sebab boleh jadi, inilah laporan jurnalistik elektronik pertama di Indonesia yang mengajak penonton menyaksikan liputan proses kematian seseorang, dalam hal ini adalah Noordin M Top.

Jutaan pemirsa oleh kedua televisi itu sejak pagi hingga siang ini (mungkin sore nanti) dilibatkan emosinya untuk menyaksikan upacara menyongsong kematian seorang bernama Noordin M Top. Pemirsa secara emosional tentu saja merasa sedang berada di Temanggung, menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana anggota pasukan dari Densus 88 menyergap Noordin.

Saya sendiri membayangkan pemburuan terhadap Noordin sama dengan saat saya, istri, anak-anak dan pembantu rumah tangga saya memburu seekor tikus yang ada di dalam rumah.

Berjam-jam, tim Densus 88 sebagaimana kita saksikan bersama melalui siaran langsung itu, sama dengan tikus, Noordin “pintar” bersembunyi. Dikepung polisi dan disorot kamera televisi dari berbagai sudut pandang, saya - mungkin juga Anda - berharap Noordin segera keluar dan mengibarkan bendera putih setelah rumah, tempat di mana dia bersembunyi digempur dengan tembakan dan bom berkekuatan rendah.

Tapi sampai detik-detik akhir penyerangan, persis seperti tikus, Noordin tak juga menyerah. Dilaporkan, Noordin, seperti juga tikus, bersembunyi di dalam kamar mandi setelah ruang tamu, kamar tidur dan dapur digempur. Saya membayangkan di dalam kamar mandi itu, Noordin jongkok di pokok dinding dengan sangat ketakutan. Sama halnya dengan tikus ketika tak menemukan lubang persembunyian, badannya gemetar.

Berdasarkan informasi, Noordin Top menyimpan bom dan melilitkan bom itu di tubuhnya. Dalam menjalankan misinya sebagai teroris, Noordin Top pantang menyerah, dan tidak mau kalah 0-1. Dia maunya 1-1. Intinya, “kalau aku mati, kamu juga harus mati.” Konkretnya, kalau polisi masuk dan menemukan dirinya, bom akan diledakkan, dan di akhir hayatnya, dia masih sempat berkata: “Matilah, kau!”

Sama dengan tikus, penciuman Noordin M Top juga sangat tajam. Dia bisa mengendus ke mana polisi mengejar dirinya. Oleh sebab itulah sehari sebelum Noordin bermalam di rumah berukuran 5 X 7 meter itu, dia tidur di kuburan yang ada di desa itu.

Jika Noordin yang dicari-cari itu telah tewas, sudah amankah negeri ini dari aksi terorisme? Atau masih akan ada aksi-aksi serupa di kemudian hari? Anda bisa menjawab?***

MBAH SURIP MASIH HIDUP

August 7th, 2009

MBAH Surip memang sudah meninggal dunia. Namun “sesungguhnya” dia masih hidup, karena pasif income-nya dari lagu (maaf) noraknya “Tak Gendong” tetap menghidupi para ahli warisnya, dan terutama operator telepon seluler yang dijadikan “tumpangan” Mbah Surip untuk menyebarluaskan ring back tone (RBT) “Tak Gendong.”

Banyak orang terkejut-kejut ketika mengetahui penghasilan si Mbah dari “Tak Gendong” sebagaimana diberitakan banyak koran dan televisi mencapai Rp 4,5 miliar per bulan. Mbah Surip sendiri hingga akhir hayatnya tidak pernah transparan soal penghasilannya itu. “Pokoknya miliaranlah,” katanya sambil terkekeh-kekeh.

Dalam sebuah kesempatan, kepada wartawan, Mbah Surip ketika mengetahui dia bakal mendapatkan royalti dari “Tak Gendong”, lagi-lagi cuma tertawa, “ha… ha… ha…ha.”

“Nantinya saya cuma minta Rp 2 miliar saja. Satu miliar untuk beli kopi dan satu miliar lagi untuk beli gula. Itu sudah aman buat saya. Sisanya dibagi-bagi saja,” katanya sebagaimana dikutip Media Indonesia.

Yang tidak transparan bukan saja Mbah Surip, tapi juga pihak-pihak yang terkait dengan RBT. Sampai Kamis (6 Agustus 2009), tidak ada informasi yang jelas sudah berapa besar rupiah yang ditransfer oleh operator telepon seluler ke rekeningnya Mbah Surip.

Katakanlah benar Mbah Surip setiap bulan dapat Rp 4,5 miliar per bulan. Tapi Mbah Surip pastinya memberikan jauh lebih besar kepada para operator telepon. Dalam soal RBT, operator memang pihak yang paling banyak menangguk untung. Bahkan ada yang bilang, operator sangat “kemaruk” alias rakus.

Mungkin belum banyak yang tahu, sesuai dengan “aturan main”, setiap RBT yang didownload seorang pelanggan — katakanlah satu lagu bertarif Rp 8.000 — lazimnya 50-60 persennya menjadi hak operator. Sisanya dibagi-bagi dengan banyak pihak, seperti penerbit, pencipta lagu, penyanyi (artis), dan label/content provider.

Beralasan jika para pencipta lagu berteriak terhadap minimnya bagi hasil nada sambung yang selama ini menjadi konten paling laris jualan para operator telekomunikasi di Indonesia itu.

Dari total harga sebuah lagu nada sambung, seorang penulis lagu berdasarkan informasi yang saya peroleh dari VIVAnews, hanya kebagian jatah bagi hasil Rp 63-Rp 68 untuk setiap lagu. Itu berarti Mbah Surip hanya menerima Rp 131 (karena dia yang mencipta sekaligus menyanyikannya) untuk setiap lagunya yang didownload.

“Ini betul-betul sangat menyedihkan,” kata Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Penataan Musik Rekaman Indonesia, Dharma Oratmangun.

Dharma kemudian buka-bukaan tentang rendahnya bagi hasil yang ditawarkan oleh semua operator di Indonesia. Misalnya Telkomsel dengan biaya per download Rp 9.000, sebesar Rp 5,750 (63,8 persen) dananya ditarik ke Telkomsel.

Sisa dana tersebut kemudian baru dibagi ke penerbit dan pencipta lagu Rp 406 (4,51 persen), label + Content Provider (CP) sebesar Rp 2.438 (27,08 persen), dan artis kebagian Rp 406 (4,51 persen).

Sementara XL dengan biaya bulanan Rp 5.000, membagi hasil keuntungan untuk XL sebesar Rp 4.000 (80 persen), kemudian Rp 1.000 sisanya dibagi penerbit dan pencipta Rp 125 (1,25 persen), label+CP sebesar Rp 750 (15 persen), dan artis mendapatkan Rp 125 (2,5 persen). Pencipta lagu dalam hal ini hanya mendapat Rp 63 (1,25 persen).

Mobile 8 (Fren) dengan biaya Rp 8.000, duit hasil download sebesar Rp 5.130 (64,13 persen) menjadi hak sang operator, dan sisanya dibagi ke penerbit dan pencipta Rp 359 (4,48 persen), label+CP Rp 2.153 (26,9 persen), dan untuk artis mendapatkan Rp 359 (4,48 persen). Pencipta lagu dalam hal ini hanya mendapat Rp 179 (2,24 persen).

Kalau ditanya kok tega-teganya operator “memeras” para kreator seni? Jawabnya, “kami, kan telah mengeluarkan banyak uang untuk investasi dan promosi.” Apa boleh buat, jawaban normatif itulah yang harus dimaklumi oleh pihak-pihak terkait.

Model bagi hasil seperti itu tidak jauh berbeda dengan para penulis buku yang karyanya bisa diunduh lewat ponsel (mobile book). Mobile book saya, Cara Elegan Menjadi Narsis di Facebook misalnya. Setiap kali pelanggan mendownload buku itu yang bertarif Rp 5.000 per unit, 50 persennya menjadi hak operator. Sisanya dibagi-bagi dengan banyak pihak, seperti penerbit, content provider, agensi dan biaya promosi. Mobile book ini bisa didownload dengan cara mengetik MOB 162500384, lalu kirim ke 9788.

Sampai sebegitu jauh, saya belum mengetahui berapa banyak pengguna ponsel yang mengunduh buku saya itu, karena baru diluncurkan Juli lalu. Sesuai dengan perjanjian, royalti baru akan dibagikan tiga bulan kemudian.

Menciptakan lagu yang dijadikan RBT meskipun nilai dasar royaltinya kecil, sang pencipta dan penyanyi seperti Mbah Surip tetap akan mendapatkan akumulasi royalti yang besar, sebab dengan sistem berlangganan. Selama pelanggan belum mengganti lagu, setiap bulan, rezeki bakal terus mengalir.

Dalam soal beginian, operator juga hampir selalu akal-akalan. Belum sempat berpikir ulang mau melanjutkan berlangganan RBT atau tidak, tiba-tiba sudah ada SMS masuk yang berbunyi: “Terimakasih Anda telah memperpanjang RBT. Mau ganti lagu, silakan ketik ….”

Apa pun cara operator mengakali pelanggan, yang pasti berkat Mbah Surip, rezeki operator semakin menggelembung. Jadi siapa bilang Mbah Surip sudah mati.***

MBAH SURIP DAN CALO ANGGARAN DI DPR

August 6th, 2009


MBAH Surip punya uang miliaran rupiah (meskipun ia tidak lama menikmatinya). Calo anggaran di DPR juga bisa meraup uang miliaran rupiah. Bedanya, Mbah Surip mendapatkannya dengan cara halal dan yang satu lagi bermodus haram.

Dengan uangnya yang diperoleh dari royalti ring back tone (RBT) lagunya “Tak Gendong”, Mbah Surip meninggalkan warisan mulia kepada keluarga yang ditinggalkan. Sedangkan para aclo anggaran di Senayan — jika kelak mereka meninggal dunia — meninggalkan harta durjana kepada ahli warisnya.

Mbah Surip mendapatkan uang miliaran rupiah dengan keringat dan bertaruh nyawa (dan akhirnya mati), sementara para calo anggaran DPR melacurkan harga diri.

Mari kita simak bagaimana anggota DPR “melacurkan harga diri” saat mereka bernafsu mendapatkan uang miliaran rupiah dan uang miliaran yang mereka buru itu diperlakukan seolah-olah hanya bernilai Rp 500. Ya, lima ratus perak.

Tak percaya? Ayo kita simak sidang kasus korupsi proyek pembangunan pelabuhan laut di Departemen Perhubungan yang tengah digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Rabu (5 Agustus 2009). Sebagaimana ditulis banyak koran, sidang ini mendengarkan kesaksian Wakil Ketua Panitia Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat Jhony Allen Marbun atas terdakwa yang tidak lain adalah rekannya sendiri, anggota Komisi V DPR Abdul Hadi Djamal.

Abdul Hadi jadi pesakitan, sebab diduga ia menerima suap terkait proyek pembangunan pelabuhan laut di Departemen Perhubungan. Keduanya berselisih paham dan ingatan soal jumlah uang yang akan (atau sudah) ditilep pada saat itu. Abdul Hadi menuding Jhony Allen ikut main, sementara yang dituding membantah, sampai-sampai Abdul Hadi minta disumpah pocong di pengadilan.

Soal bantah membantah bagi saya tidak begitu penting. Lagi pula dalam soal beginian, sepertinya sudah lumrah. Jika para koruptor sudah ketahuan belangnya, mereka pasti akan melakukan aksi lempar batu sembunyi tangan seperti yang dilakukan Ketua (nonaktif) KPK Antasari Azhar.

Setelah lebih dari dua bulan mendekam di tahanan, Antasari (entah apa motifnya) dia mengungkapkan bahwa pimpinan KPK disuap oleh seorang pengusaha yang terlibat kasus korupsi. Lho, kok baru dibeberkan sekarang? Banyak pihak yang meragukan pernyataan Antasari. Motifnya mungkin, “jangan biarkan aku sendiri.”

Kembali ke kasus percaloan anggaran di DPR yang melibatkan Abdul Hadi. Politisi ini menuding Jhony Allen tidak jujur dalam memberikan keterangan. Ketika menjadi anggota DPR, keduanya sangat akrab. Oleh sebab itulah Abdul Hadi menyapa Jhony dengan sebutan “Lae” (kakak atau bung).

“Mohon maaf, Lae, saya buka semua ini, karena Lae tidak pernah jujur. Inilah yang saya jadikan bukti,” ujar Abdul Hadi sebagaimana dikutip Kompas (Kamis 6 Agustus 2009).

Nah, ini yang menarik. Abdul Hadi mengungkapkan, setelah anggaran dana stimulus fiskal diputuskan oleh DPR menjadi Rp 5 triliun, Anggito Abimanyu yang mewakili pemerintah berjanji menyampaikannya kepada menteri. Setelah itu, anggota Komisi V DPR menggelar pertemuan. Ketika itu Rama Pratama dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengusulkan agar pimpinan mendapat alokasi Rp 100 miliar. Busyet deh, asyik benar.

“Namun, Lae bilang janganlah. Masak ketua juga sama. Ketua kita kasih Rp 200 miliar, aspirasinya,” ujar Abdul Hadi.

Setelah kongkalikong, ujung-ujungnya menurut Addul Hadi, wakil ketua diberi Rp 150 miliar, 83 anggota Panitia Anggaran mendapat Rp 20 miliar, dan Panitia Kerja mendapat Rp 50 miliar. Sisa Rp 1 triliun dibagi-bagi kepada fraksi secara proporsional.

Abdul Hadi juga mengingatkan Jhony bahwa sebelum rapat dengan pemerintah pada 23 Februari 2009, keduanya bertemu. Jhony menyampaikan program Rp 100 miliar.

“Saudaraku Jhony Allen yang mulia, masih ingatkah kertas yang saya berikan pada hari Jumat, sekalian konfirmasi apakah Lae sudah terima uangnya? Lae bilang masih kurang,” ujar Abdul Hadi sambil menunjukkan tanda paraf dari Jhony. Dalam sidang itu disebut-sebut pula seorang bernama Resco yang dikenal Abdul Hadi sebagai asistennya Jhony dan menerima Rp 1 miliar.

Membaca berita di atas, dalam hati saya berujar, “kok enak benar ya terima uang segede itu tanpa beban.” Kalau memang apa yang diungkap Abdul Hadi benar, “asyik benar ya, bagi-bagi jatah tanpa beban sama sekali.”

Bandingkan dengan Mbah Surip. Kakek berusia 60 tahun ini, sebagaimana ditulis Media Indonesia (Kamis 6 Agustus 2009), memang punya uang gede. Dari RBT, menurut koran ini, Mbah Surip setiap bulannya bisa meraih Rp 4,5 miliar.

Dalam dua bulan terakhir, RBT dari si Mbah selalu masuk 10 besar dalam pengunduhan nada sapa di ponsel. Masih menurut Media Indonesia, RBT “Tak Gendong” digunakan 500.000 pelanggan Telkomsel, 100.000 pelanggan Indosat, dan 70.000 pelanggan XL. Ini belum termasuk operator lain seperti Telkom (Flexi), Esia, Tri/3, Axis dan sebagainya.

Berbeda dengan calo anggaran di DPR, Mbah Surip meraup uang miliaran rupiah (itu pun tidak sempat dinikmati karena yang bersangkutan meninggal dunia pada Selasa 4 Agustus 2009) dengan mengorbankan waktu, tenaga, pikiran dan memutuskan “urat malu.”

Bayangkan, lagu “Tak Gendong” yang jadi kebanggaannya itu telah diperjuangkan untuk “go puplic” pada tahun 1980-an. Dalam penantiannya yang serba tidak pasti, dia menggelandang sebagai seniman jalanan. Bak satria bergitar, dia menyanyi ke sana kemari dengan suaranya yang (maaf) parah. Urat malunya juga dia putus demi “Tak Gendong.”

Sekarang Mbah Surip sudah berada di alam sana. Dia meninggalkan warisan dari RBT yang nilaianya miliaran rupiah dengan sebuah kehormatan, bukan seperti para calo anggaran yang pernah disebut sebagai anggota dewan yang terhormat itu. Tenterem, ya Mbah. I love you full.***